SATELITNEWS.ID, SERANG—Adanya informasi bahwa empat korban pesawat Sriwijaya Air SJ182 merupakan warga Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, membuat Pemkot Serang menerjunkan tim untuk melakukan konfirmasi. Selain itu, Pemkot telah menyediakan bantuan untuk keluarga korban yang ditinggalkan.
Sebagai informasi, berdasarkan data yang telah dipublikasikan, terdapat empat korban yang berasal dari Kota Serang. Mereka merupakan satu keluarga yang akan pergi ke Pontianak.
Keempatnya yakni Arneta Fauzia dan tiga orang anaknya yakni bayi laki-laki bernama Fao Nuntius Zai, anak perempuan berusia 8 tahun bernama Zurisya Zuar Zai dan anak perempuan berumur dua tahun bernama Umbu Kristin Zai.
“Sekarang kami sudah mengirimkan tim ke tempat domisili untuk menanyakan yang sebenarnya, seperti data dan lainnya,” ujar Wali Kota Serang Syafrudin, saat ditemui di gedung DPRD Kota Serang, Senin (11/1).
Menurut Syafrudin, apabila data yang diterima valid, maka Pemkot Serang akan berupaya untuk memberikan bantuan, atau menfasilitasi keluarga korban yang ditinggalkan.
“Nanti kami akan musyawarahkan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, kalau benar Pemkot Serang akan memberikan bantuan atau menfasilitasi,” tuturnya.
Baca Juga: Muhibbin Bantu Neng Marni, Berikan Peralatan Sekolah Hingga Alat Transportasi
Atas nama Pemkot Serang, Syafrudin pun menyampaikan duka cita atas kejadian jatuhnya pesawat Sriwijaya Air 182. Kejadian tersebut tentunya menyisakan duka bagi masyarakat Indonesia, terutama keluarga korban. Ia berharap agar pihak keluarga diberikan ketabahan dan kesabaran.
“Pemkot turut berduka cita atas kejadian yang menimpa satu keluarga, mudah-mudahan diberikan kesabaran, dan informasinya sebenernya dapat diketahui,” ucapnya.
Terpisah, asisten rumah tangga (ART) Arneta, Yayu, menuturkan bahwa keberangkatan Arneta ke Pontianak bermaksud untuk menemui dan memberikan hadiah kepada suaminya, Yaman Zai serta terdapat urusan bisnis.
“Iyah mau memberikan sebuah jam tangan ketika bertemu nanti, termasuk dengan sepatu-sepatunya. Tapi (sepatunya) enggak kebawa, jadi jam tangan saja yang dibawa,” katanya.
Ia mengaku, sebelum Arneta berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta Tangerang, majikannya sempat memberikan uang sebesar Rp100 ribu sebagai bekal, dengan melontarkan kata-kata yang kemungkinan sebagai firasat buruk.
“Ini buat jajan kamu sama nitip rumah ya selama-lamanya kata ibu, terus saya bilang ke ibu (Arneta-red), jangan gitu bu,” tirunya.
Baca Juga: Pesawat TNI AU Jatuh di Bogor, Marsma Fajar Meninggal Dunia
Ia menuturkan, dirinya mendapat kabar jatuhnya pesawat yang ditumpangi majikannya, dari suaminya ketika menelepon keponakannya untuk menanyakan keberadaan Arneta.
“Iyah nelpon, kenapa udah jam 17.30 belum sampai, terus panik dan akhirnya melihat kabar di televisi kalau pesawat yang tumpangi ibu jatuh,” tandasnya.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan pertemuan dengan keluarga korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Selain menyampaikan upaya pemerintah, Menhub Budi Karya Sumadi juga mendengarkan beberapa permintaan yang dilayangkan oleh keluarga-keluarga korban.
“Tadi kami mengadakan pertemuan dengan keluarga korban untuk menyampaikan upaya-upaya pemerintah,” ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat konferensi pers di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta, Senin (11/1).
Mantan Direktur Utama PT Angkasa Pura II ini membeberkan salah satu permintaan keluarga korban. Yakni, agar korban kecelakaan pesawat dimakamkan di kota asal masing-masing.
“Permintaan dari keluarga korban untuk dimakamkan di asal kota,” ujar dia.
Selain itu, Budi turut mengaku bila pihaknya mengadakan pertemuan dengan keluarga korban untuk menciptakan rasa aman. Selain perasaan aman, Budi juga memastikan keluarga korban akan mendapat perhatian yang baik.
“Harapannya, pertemuan itu memberikan rasa aman dan kepastian (bila) keluarga korban mendapatkan suatu perhatian yang baik,” ujarnya.
Di lokasi yang sama. Menteri Sosial Tri Rismaharini menyatakan Kementerian siap menjadi jembatan antara keluarga korban dengan pemerintah daerah (pemda) serta PT Jasa Raharja atas peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.
“Kemensos akan menjadi jembatan antara keluarga (korban) ke pemda. (Baik) Pemda di sini (DKI Jakarta) dan pemda daerah asal (korban),” kata Menteri Sosial Tri Rismaharini saat konferensi pers di Terminal 2D Bandara Soekarno-Hatta, Senin (11/1).
Risma mengaku, pihaknya telah berkomunikasi dengan 24 pemda kota/kabupaten yang menjadi tempat asal korban jatuhnya pesawat tersebut.
“Tadi ada 24 kota atau kabupaten yang domisilinya para korban. Mungkin (korban) ditemukan dalam posisi masih hidup,” ujarnya.
Selain kepada pemda, Kemensos juga siap menjembatani pihak keluarga korban dengan PT Jasa Raharja selaku penyedia santunan untuk korban kecelakaan.
“Kemensos sudah komunikasi tadi ke pemda, keluarga, dan juga ke Jasa Raharja,” ucap Risma.
Risma melanjutkan, pihaknya juga siap membantu keluarga korban ketika hendak mengurus tabungan pribadi korban kecelakaan.
“Misal korban ini memiliki tabungan atau apa, maka kami yang akan menghubungkan dengan perbankan,” paparnya.
Seperti yang diketahui, dalam UU No 33 Tahun 1964 dan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 15 Tahun 2017, bagi korban meninggal dunia kecelakaan pesawat, maka Jasa Raharja menyerahkan hak santunan sebesar Rp 50 juta. Lantas dalam hal korban luka-luka, PT Jasa Raharja akan menjamin biaya perawatan rumah sakit maksimal Rp 25 juta.
Lalu, berdasarkan Permenhub No.PM 77/Tahun 2011 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara, korban jiwa karena kecelakaan pesawat mendapatkan santunan Rp 1, 25 miliar.
Direktur Utama Jasa Raharja, Budi Rahardjo Slamet mengungkapkan pihaknya telah menghubungi keluarga para korban untuk memperoleh santunan.
“Dari hasil koordinasi yang kami lakukan bahwa dari 62 penumpang dari 50 penumpang dan 12 kru, kami Jasa Raharja telah menghubungi dan mendatangi keluarga yang berada di 24 kota kabupaten dalam 12 provinsi mulai kemarin dan hari ini,” ungkapnya.
Santunan tersebut akan disalurkan setelah keluarga mengumpulkan data korban. “Segera kami selesaikan pengumuman resmi identitas korban atau penumpang dari DVI RS Polri Kramat Jati,” imbuhnya.
“Dengan diperolehnya identitas ini kami akan segera menyampaikan santunan sebagai perlindungan dasar dari pemerintah yang memang jadi hak para ahli waris korban,” tambahnya. (irfan/dzh/bnn/gatot)
























