SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG—Besarnya anggaran perjalanan dinas (Perdin) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang, digugat oleh tiga kelompok organisasi mahasiswa dengan aksi unjuk rasa di depan Kantor Sekretariat Daerah (Setda) dan Dinkes Pandeglang, Senin (8/3). Namun Dinkes menilai mahasiswa tidak mengetahui rincian anggaran tersebut.
Pantauan wartawan, walau kondisi cuaca sedang hujan, aksi yang dimulai sekitar pukul 13.22 WIB ini tetap berjalan. Massa merupakan mahasiswa dari tiga organisasi yakni GMNI, HMI dan LMND Pandeglang. Mereka menyuarakan aspirasi dengan orasi sambil membentangkan spanduk bertuliskan “tolak Perdin 88 miliar !!! #pemborosan”.
Beberapa jam setelah berorasi di depan kantor Setda Pandeglang yang juga berhadapan dengan kantor Dinkes Pandeglang, sejumlah mahasiswa itu merangsek ke depan pintu gerbang Dinkes sambil melakukan orasi agar Perdin Dinkes direfocusing. Dinkes Pandeglang melalui Sekretaris Dinas menganggap unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa itu karena ketidaktahuan para mahasiswa tersebut.
Ketua GMNI Kabupaten Pandeglang, Tubagus Muhamad Afandi menyatakan, sangat miris di situasi sedang dilanda Covid-19, Pemerintah Daerah (Pemda) Pandeglang malah meloloskan Perdin Dinkes, yang besarannya sangat fantastis yakni mencapai Rp26 miliar.
“Kami ingin mengetahui perjalanan dinas sampai sebesar itu, sejauh mana urgensinya?. Jangan-jangan itu akal-akalan pemangku kebijakan untuk merampok uang rakyat,” teriak Afandi dalam orasinya, Senin (8/3).
Menurut Afandi, selama ini Dinkes Pandeglang dalam melaksanakan penanganan Covid-19 tidak maksimal. Bahkan diduga hanya sebatas menghambur-hamburkan anggaran saja.
“Bukannya fokus melakukan penanganan Covid-19 yang sampai saat ini belum maksimal ditangani Dinkes Pandeglang, eh malah membesarkan anggaran perjalanan dinasnya hingga mencapai Rp26 miliar,” katanya.
Para mahasiswa juga menilai kinerja Dinkes Kabupaten Pandeglang nol besar. Serta tidak sesuai dengan anggaran yang jumlahnya fantastis tersebut. “Kinerja Dinkes nol besar, tak sesuai anggaran perjalanan dinasnya. Maka dari itu, ini tak bisa dibiarkan, harus segera direfocusing kembali anggaran tersebut,” tandasnya.
Ketua HMI Pandeglang, Hadi Setiawan dalam orasinya, selain menyampaikan dugaan anggaran perjalanan dinas di Dinkes hanya akal-akalan untuk meraup keuntungan, dia juga meminta massa aksi merangsek ke depan kantor Dinkes Pandeglang.
“Ayo kawan-kawan, kita sampaikan dihadapan pihak Dinkes langsung, maju kawan-kawan. Karena jelas anggaran perjalan dinas di Dinkes telah menyakiti hati rakyat dan tak rasional besarannya,” teriaknya.
Dia juga meminta agar Pemda Pandeglang segera merefocusing anggaran perjalanan dinas yang ada di Dinkes tersebut. Dia menilai anggaran itu terlalu fantastis dan tak sesuai dengan keadaan saat ini yang sedang dilanda Covid-19.
“Harusnya uang itu difokuskan untuk penanganan dan pencegahan Covid-19, pemulihan perekonomian, bukan malah dihambur-hamburkan untuk perjalanan dinas. Segera refocusing anggarannya,” harapnya.
Baca Juga: PR Besar untuk Dinkes Pandeglang, ODF Tencapai 54 Persen dari Target 80 Persen
Terpisah, Sekretaris Dinkes Pandeglang, Eniyati menyatakan, anggaran Perdin 2021 di Dinkes selain kegiatannya belum ada, anggarannya juga belum cair. Katanya, Perdin sebesar Rp26 miliar itu bukan pejalanan Dinkes untuk pergi ke Jogja dan ke Bali. Namun itu semua perjalanan untuk kegiatan masyarakat di 36 Puskesmas dan di ratusan kegiatan.
“Itu 36 Puskesmas menganggarkan Perdin untuk kegiatan ke masyarakat ya, sekali menurunkan resfreshing kader sebayak 350 kader kali 36 Puskesmas dan kali 100 ribu, udah berapa tuh hitung. Perjalanan ke Posyandu sebanyak 877 Posyandu kali 12 bulan dan kali 100 ribu, hitung berapa tuh,” jelasnya.
Eniyati menganggap mahasiswa yang melakukan unjuk rasa itu tak mengetahui anggaran sebesar itu untuk apa saja. Makanya, pihaknya tak merespon aksi para mahasiswa tersebut.
“Artinya, mereka tidak tahu. Kiranya Rp26 miliar itu, kita kali jalan-jalan ke Jogja, ya kagak. Semuanya itu perjalanan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat ya. Makanya kita nggak begitu respon, mereka mah gak tahu ini, mereka gak tahu,” katanya.
Dia juga menilai tudingan para mahasiswa itu tak benar, karena perjalanan dinas Rp26 miliar itu bukan untuk refreshing. Namun untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Ya tidak benar, mereka hanya melihat kasarnya saja. Seolah-olah dia itu anggapannya Rp26 miliar itu untuk pergi keluar kota, untuk refreshing. Tanggapan dia (mahasiswa) seperti itu, padahal tidak ada satupun kegiatan untuk refreshing, semuanya untuk menyentuh memberikan pelayanan masyarakat,” pungkasnya.
Baca Juga: Putus Penyebaran TBC, Ratusan Warga Pandeglang Ikuti Skrining di Alun-alun
“Semua perjalanan penyuluhan Covid-19 kan pakai bensin, itukan namanya perjalanan dinas di 36 Puskesmas. Berapa orang harus turun ke desa-desa melakukan sosialisasi, penanganan, tracing, dan swab, itu pakai perjalanan dinas namanya,” pungkasnya. (nipal/aditya)
