SATELITNEWS.ID, SERPONG—Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyebut kajian terkait rencana pembangunan moda raya terpadu (MRT) di wilayah Tangerang Selatan sudah selesai. Mega proyek itu direncanakan akan dilaksanakan pada 2022.
“Rencana sudah bisa dilanjutkan ke tahapan kesiapan jalan, sosialisasi hingga pelelangan, kajiannya sudah selesai dari BPTJ (Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek),” kata Kepala Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Tangerang Selatan Eki Herdiana, Rabu (07/4/2021).
Sesuai dengan Perpres Nomor 55 tahun 2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ), terdapat dua koridor MRT dari wilayah DKI Jakarta menuju ke Tangerang Selatan. Satu trace dari Lebak Bulus ke Pondok Cabe, kemudian ke Pamulang dan ke Rawa Buntu Serpong. “Satu lagi rencananya dari Lebak Bulus ke arah Ciputat, kemudian ke Pondok Aren dan ke Rawa Buntu,” tuturnya.
Saat ini Pemkot Tangsel masih berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat serta Pemerintah Provinsi Banten terkait dengan penggunaan jalan. Pasalnya rute MRT tersebut akan melewati jalan nasional dan jalan provinsi. “Kita sudah rapat berkali-kali membahas itu, termasuk penggunaan jalan nasional dan jalan provinsi, jadi kita koordinasi terus sama pusat dan provinsi,” tutur dia.
Eki mengatakan, penggunaan jalan nasional dan provinsi yang menjadi jalur yang dilewati oleh MRT disebut sebagai upaya untuk meminimalisasi pembebasan lahan warga. “Lahan yang digunakan kan di jalan, kita meminimalisir pembebasan lahan, jadi kita menggunakan jalan eksisting karena posisinya pasti pakai kayak median jalan,” terangnya.
Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menyebut rute MRT ke Tangsel tidak memerlukan banyak tanah untuk dilakukan pembebasan. Hal itu agar sekaligus upaya efisiensi biaya. “Bisa efisien, tidak terlalu banyak memerlukan tanah yang harganya tinggi, jadi meminimalisir, tapi memperpendek jarak tempuh,” kata dia.
Baca Juga: Kematian Akibat DBD di Tangsel Nol Sejak 2024, Benyamin: Hasil Kolaborasi Semua Pihak
Namun, Pemkot Tangsel tetap berupaya mensinkronkan RT dan RW terkait dengan rencana tata ruang wilayah kaitannya dengan jalur yang akan dilalui MRT. Dia akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang daerahnya terimbas jalur koridor MRT. Selain itu juga rembugan dengan sektor swasta yang nantinya mungkin dilintasi dan punya kepentingan, misalnya BSD, Bintaro, dan lain-lain.
Terkait dengan dana untuk pembangunannya, Benyamin mengatakan dana berasal dari Pemerintah Pusat atau sektor swasta yang terlibat di dalamnya. Pihaknya mengupayakan agar tidak menggunakan APBD Tangsel.
Dia berharap dengan adanya moda transportasi baru seperti MRT dapat mengatasi masalah kemacetan yang kerapkali terjadi di sekitar Tangsel ke Ibu Kota serta untuk dapat mempercepat mobilitas orang serta barang. “Mulai groundbreaking (peletakan batu pertama) nya 2022,” katanya.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, proyek MRT yang masuk hingga ke kawasan Tangsel butuh anggaran sebesar Rp 0 triliun dengan panjang jalur mencapai 20 kilometer. Pembangunannya mulai paling lambat 2022 dan selesai pada 2026. Proyek tersebut diketahui sudah masuk dalam RITJ 2019-2029. (jarkasih)

















