SATELITNEWS.ID, LEBAK–Dua hari berturut-turut, Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak terlihat dipadati pengunjung, khususnya dari berbagai sudut kota dan penjuru wilayah Rangkasbitung dan sekitarnya.
Usut punya usut, masyarakat yang berdatangan itu rupanya untuk membeli kebutuhan pokok menjelang bulan suci Ramadhan 1442 H, atau yang dikenal dengan ‘munggahan’.
Dampak yang dirasakan dan tampak langsung akibat tingginya mobilitas warga, rupanya membawa kesan tersendiri. Mulai dari timbulkan kemacetan, membludaknya pengunjung pasar, hingga para juru parker yang meraup keuntungan.
Munggahan adalah, tradisi masyarakat suku sunda saat menyambut datangnya bulan Ramadhan, yang dilakukan pada bulan Sya’ban (satu atau dua hari menjelang bulan Ramadhan).
Munggahan, berasal dari Bahasa Sunda yakni unggah berarti naik. Yang bermakna, naik ke bulan yang suci atau tinggi derajatnya. Terus menjadi tradisi turun temurun, hingga saat ini.
Masyarakat, berbondong-bondong ke pasar, untuk membeli kebutuhan pokok sehari – hari, sebagai persiapan atau mengirim doa sebelum tarawih, serta untuk menyiapkan makan di sahur pertama.
Baca Juga: Alfamart Latih Pelaku UMKM Lebak
“Dua hari volume kendaraan, maupun masyarakat di Pasar Rangkasbitung meningkat, seiring dengan tradisi munggahan,” kata Dian Sopian, seorang juru parkir di pasar setempat, Senin (12/4).
Katanya, meningkatnya volume kendaraan membuat suasana arus lalu lintas macet. Namun, rasa berkah tersendiri bagi Dian. Karena, meningkatnya volume kendaraan, banyak pula yang memarkir kendaraan diarea parkirnya.
“Alhamdulillah, hari ini ramai. Dibanding hari biasanya, meningkat 100 persen,” ujarnya, sambil tersenyum.
Bahkan menurutnya, sempat kerepotan mengatur dan menempatkan kendaraan yang harus diparkir. Karena, lahan parkir yang terbatas, sedangkan kendaraannya bertambah. Namun lagi – lagi, ditengah teriknya panas matahari, baginya hal itu adalah berkah dan dihadapinya dengan senyuman, serta tetap semangat.
Keuntungan juga dirasakan pedagang daging di Pasar Rangkasbitung, Yanto salah satunya. Dalam dua hari ini, ia cukup banyak melayani pembeli daging sapi dan kerbau. Walaupun harganya kini mencapai Rp 140 ribu per Kg, namun pembelinya cukup banyak.
“Sudah menjadi tradisi, disaat munggahan banyak masyarakat yang membeli daging, untuk santapan saat sahur pertama nanti,” ucap pria berbadan sedang ini.
Baca Juga: Harga Daging Melonjak Jelang Ramadan di Lebak, Ayam Rp 40 Ribu dan Kerbau Rp180 Ribu
Baginya, semakin banyak pembeli, semakin senang. Walau harus sedikit kerepotan, tentunya hal biasa bagi seorang pedagang dalam melayani pembelinya. Bahkan ia juga tak lupa bersyukur, dan menganggap ini adalah keberkahan.
“Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Berkah bulan Ramadhan kang. Kalau setiap hari ramai pembeli begini, saya senang banget,” pungkasnya.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lebak, Dedi Setiawan, membenarkan jika dua hari ini Pasar Rangkasbitung dipadati pengunjung. Kondisi tersebut ujarnya, seiring dengan kebiasaan masyarakat dalam menghadapi munggahan.
“Kami tetap menekankan kepada para pelaku usaha, untuk tetap menerapkan protokol kesehatan Covid-19,” imbuhnya. (mulyana/mardiana)
