SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG—Status yang dibuat Dinas Kesehatan (Dinkes) Pandeglang melalui akun instagram resminya, soal mengomentari ibu hamil yang ditandu di Kecamatan Sindangresmi, menuai kecaman dari aktivis.
Para aktivis menilai foto yang diedit dengan tulisan “Desa Siaga Membangun Desa, Budaya yang Patut Dicontoh Gotong Royong”, merupakan tindakan yang tidak pantas, biadab dan menunjukan tak punya beban moral atas penderitaan yang dialami ibu Enah (30), warga Kampung Lebak Gedong, Desa Sindangresmi, Kecamatan Sindangresmi.
Direktur Aliasi Independen Peduli Publik (ALIPP), Uday Suhada mengatakan, Dinkes Pandeglang tidak punya beban moral atas derita rakyat yang ditandu dengan menggunakan kain sarung, untuk mendapatkan pelayanan persalinan di Puskesmas Sindangresmi. Menurutnya, peristiwa memilukan semacam itu (ibu hamil ditandu, red) untuk kesekian kalinya di Pandeglang dan sudah bertahun-tahun terjadi. Namun dari waktu ke waktu, respon dari Pemerintah Daerah (Pemda) setempat selalu berapologi.
“Sepertinya tak ada beban moral atas derita rakyatnya. Mestinya ini tamparan keras untuk para pemimpin di Pandeglang dan Banten. Sebab nyawa itu lebih berharga dari sekedar rencana pembangunan,” kata Uday, Selasa (4/5).
Ditegaskan Uday, buruknya infrastruktur jalan dan rendahnya akses pelayanan kesehatan yang baik di Pandeglang, sudah berlangsung puluhan tahun yang lalu. Hingga kini tak ada seorang bupati pun yang mampu melepaskan penderitaan rakyat dari masalah ini.
“Harusnya Pemda Pandeglang punya nurani atas penderita yang dialami warganya itu. Bagaimana membangun pelayanan kesehatan yang baik dan infrastruktur jalan yang layak,” ujarnya.
Baca Juga: Mahasiswa Tangerang Turun ke Jalan, Desak Pengusutan Tuntas Kasus Kekerasan Aktivis KontraS
Senada, Aktivis dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pandeglang, Tubagus Muhamad Afandi menilai, pejabat Pandeglang yang memposting foto ibu hamil ditandu adalah budaya gotong royong sangat tidak pantas. Ditegaskannya, Dinkes tidak pantas melontarkan hal seperti itu, karena itu menunjukan tak mempunyai pola berpikir yang baik di saat masyarakat terhambat dalam perjalanan akibat akses jalan.
“Harusnya Dinkes bertindak melakukan penanganan, bukan seolah mendukung ada pasien ditandu pakai sarung dianggap budaya gotong royong. Benar-benar sikap yang biadab ditujukan pihak Dinkes,” tegasnya.
Jika melihat pada anggaran perjalanan dinas Dinkes Pandeglang, lanjut Fandi, itu sangat fantastis hampir Rp26 miliar. Namun lagi-lagi dia menilai justru kekonyolan yang Dinkes tontonkan kepada publik.
“Kami juga meminta kepada DPRD Pandeglang, khususnya Komisi 4 DPRD untuk memberikan teguran keras. Bupati Pandeglang juga harus mengevaluasi Kepala Dinkes Pandeglang,” tandasnya.
Aktivis Sosial Banten, Lulu Jamaludin mengaku sakit hati melihat postingan tersebut. Lulu menganggap Dinkes Pandeglang telah melecehkan kaum miskin.
“Dinkes Pandeglang sudah melakukan pelecehan dengan memposting tentang wanita hamil ditandu adalah budaya gotong royong,” kata Lulu.
Baca Juga: TAUD Temukan 16 Pelaku Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Salah satu pendiri Pokja Relawan Banten ini menyarankan Dinkes mencari solusi atas persoalan yang terjadi. Sebab, masalah wanita hamil ditandu di Kabupaten Pandeglang bukan sekali dua kali.
“Dinkes seperti tutup mata pada kenyataan, bahwa memang masyarakat masih sangat sulit mendapat fasilitas kesehatan yang layak. Dan fakta wanita hamil ditandu gunakan sarung bukan sekali dua kali,” tutupnya.
Diberitakan sebelumnya, kisah miris datang dari Kabupaten Pandeglang. Seorang ibu harus kehilangan dua anak kembar yang dikandungnya akibat terlambat tiba di Puskesmas. Peristiwa tragis itu dialami Enah (30), warga Kampung Lebak Gedong, Desa Sindangresmi, Kecamatan Sindangresmi. (nipal/aditya)
