SATELITNEWS.ID,TANGERANG—KONI Provinsi Banten telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang kelas dan nomor pertandingan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Banten. Namun baru saja diterbitkan, SK tersebut diprotes sejumlah Pengcab Judo di Banten.
Musababnya adalah keputusan KONI Banten yang hanya mempertandingkan 12 dari 20 kelas yang biasa dilombakan. Ada delapan kelas yang tidak masuk dalam SK Nomor: 56/KONI-BTN/SK-PORPROV/VI/2022 tentang Penetapan Kelas Pertandingan Porprov VI Banten 2022. Kedelapan kelas tersebut adalah 4 kelas putra yakni, -55 kg, -60 kg, -81 kg dan -100 kg serta 4 kelas putri yaitu -40 kg, -52 kg, -63 kg dan -70 kg. Padahal delapan kelas itu seluruhnya dipertandingkan di PON.
Salah satu yang mempertanyakan tidak dipertandingkannya 8 kelas tersebut adalah pelatih judo Banten yang juga merangkap pelatih judo Kabupaten Tangerang, Haerviner. Mantan pejudo ini menyebut pihaknya tidak mendapat penjelasan dari Pengprov PJSI Banten kenapa 8 kelas tersebut tidak dilombakan di Porprov VI tahun 2022.
“Padahal ini nomor andalan Banten di PON, seperti diketahui dari 8 nomor ini Banten di PON XX Papua mendulang 1 medali perak dan 2 medali perunggu. Dan masih berpeluang di PON 2024. Jelas kerugian buat Banten jika 8 kelas ini tidak dipertandingkan karena Porprov merupakan salah satu even yang memiliki nilai untuk kualifikasi PON,”ungkap Haerviner, kemarin.
Seperti diketahui untuk lolos PON cabor judo menetapkan total poin sebagai parameter atlet bisa berlaga di multi even empat tahunan. Poin dikumpulkan dari hasil yang diraih selama kurun waktu tertentu dari beberapa even yang diikuti pejudo. Porprov adalah salah satu even yang masuk dalam pengumpulan poin.
“Kami sudah mengumpulkan poin yang cukup bagus di Kasad Cup 2022, Maret lalu karena di sana kami menghasilkan dua medali emas, 3 perak dan 4 perunggu. Itu semua kami dapat sebagian dari 8 kelas yang tidak dipertandingkan,” ungkap Haerviner yang berniat melayangkan protes ke KONI Banten dan PB Porprov.
Pelatih judo Kabupaten Pandeglang Nani Nurnaningsih menyatakan kekecewaan senada dengan Haerviner. Namun dia lebih menyoroti kesempatan atlet judonya agar bisa berprestasi di level Banten terutama di Porprov.
“Jelas buat kami Pandeglang merugikan, apalagi setelah pandemi covid-19 anak-anak sangat memimpikan bisa bertanding dan berprestasi. Porprov merupakan ajang tertinggi buat atlet kami dan sudah ditunggu-tunggu untuk mereka kejar prestasinya,” ujar Nani.
“Kasihan anak-anak yang sudah berlatih keras dan berharap bisa berprestasi di Porprov, kami harap jangan matikan semangat prestasi pejudo kami,” imbuhnya.
Nani semakin sedih apabila aturan PB Porprov VI Banten di cabor judo diterapkan yakni wilayah hanya bisa menurunkan 1 pejudo di satu kelas. Ini beda dengan Porprov sebelumnya yang untuk meningkatkan prestasi memperbolehkan 1 wilayah menurun 2 pejudonya di satu kelas. (jpg/gatot)