SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Masyarakat Perumahan Garden City, RW 22, Kelurahan Gebang Raya, Kecamatan Priuk, Kota Tangerang berhasil memaksimalkan potensi yang ada di wilayahnya. Padahal saat awal pandemi Covid-19, banyak masyarakat yang dirumahkan oleh perusahaan.
Berawal dari hal tersebut, warga kemudian berinisiatif membuat cadangan bahan pangan mulai dari protein hewani dan sayuran. Selain itu, intervensi Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang juga gencar menyosialisasikan agar masyarakat mampu membuat lahan ketahanan pangan di wilayah masing-masing.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Wisata 22, Andre Ferdian. Menurutnya, hampir 80 masyarakat ikut terdampak dari pemutusan kerja saat itu. Hasil dari keramba dan sayur mayur bisa menambahkan pundi-pundi ekonomi warga.
“Kita di sini berdiri dari 2020 akhir bulan November. Kita dulu bentuk di sini sebenarnya dari awal pandemi, orang orang mulai dirumahkan kita inisiatif bikin kelompok tani di sini. Kita budidaya ikan, sayur, supaya kita ada menghasilkan dari perikanan ini untuk sampingan,” ujarnya saat ditemui Selasa (08/11/2022).
Andre menjelaskan, untuk membangun itu semua tidak seperti membalikan telapak tangan. Mulai dari gagal panen hingga faktor alam pun turut pihaknya rasakan. “Jatuh bangun itu kita hampir nangis, kita modal minim, waktu mau panen ikan pada mati itupun kita pernah merasakan. Apalagi waktu banjir, yang paling paling parah dampaknya karena ikan banyak yang mabok,” jelasnya.
Kata Andre, kelompoknya terus belajar untuk mencari solusi agar hasil yang ditanam dapat membuahkan hasil yang bisa dirasakan. “Tetapi sekarang kita sudah ada inisiatif saat banjir kita mulai berputar, siklus tanam dan panen kita mainkan sekarang tidak terlalu berdampak,” katanya.
Baca Juga: Pendataan Sensus Ekonomi di Tangerang Selatan Hampir Tuntas
“Tetapi sekarang berdampaknya d ilingkungan, masalahnya saat banjir ikan ikan yang di luar keramba pada mati, sehingga mengganggu ikan yang di dalam keramba,” imbuhnya.
Sebanyak 184 keramba turut menghiasi disudut kampung yang berdampingan dengan Situ Bulakan. Terdapat berbagai macam ikan air tawar yang dibudidayakan, mulai dari ikan lele hingga ikan bawal. “Di sini kita budidaya ikan patin, lele, nila, dan ada sebagian yang budidaya ikan bawal,” katanya.
Untuk sekali panen satu keramba ikan patin, bisa menghasilkan ikan satu ton dengan durasi waktu empat sampai enam bulan baru bisa panen.
“Kalau lele dalam waktu dua bulan sudah bisa panen. Dari tebar ukuran 9 cm, sekali panen 200 Kg disatu keramba. Kalau nila kita tidak banyak, karena di sini kelemahan kita masalah di air, ph nya terlalu tinggi kalau untuk nila. Kalau nila bisa sampai satu tahun baru panen, dan 150 Kiloan,” paparnya.
Untuk sistem penjualannya, pihaknya memiliki dua alternatif. Alternatif pertama dijual ke rumah makan ataupun tengkulak yang datang, atau bisa dijual secara olahan cemilan berbahan dasar ikan. Andre menjelaskan untuk pemasaran keluar, pihaknya mengaku masih kebingungan.
“Kalau lele sementara ini per Kg itu Rp 20 ribu. Kalau patin antara Rp 18 sampai Rp 20 ribu. Nila Rp 30 sampai Rp 35. Pengolahan kita dengan ibu KWT ada kripik ikan patin, kripik lele, ada lagi kaki naga, kripsi olahan dari ikan lele dan patin. Pangsa pasar sementara ini kita tinggal nunggu dari pemesanan. Misal kita ada beberapa warga atau industri pesan, baru kita olah jadi fresh,” katanya. Bahkan, Andre menambahkan, lokasi tersebut kerap dijadikan tempat edukasi budidaya ikan dan sayuran mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. (mg03)
Baca Juga: Presiden Sebut Bank Emas Bakal Diresmikan 26 Februari
























