SATELITNEWS.COM, SERANG–Potensi intensitas hujan yang masih tinggi di Provinsi Banten, menyebabkan sejumlah daerah terancam mengalami gagal panen (Puso). Berdasarkan hasil verifikasi, yang dilakukan oleh Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten, setidaknya ada tiga daerah yang berpotensi gagal panen yakni Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Tangerang.
Kepala Distan Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, ada empat daerah yang menjadi lumbung padi andalan Provinsi Banten yakni, Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak dan sebagian Kabupaten Tangerang, dengan total luas lahan persawahan mencapai 190.000 hektar.
“Titik-titik rawan puso masih terus kita verifikasi. Tapi yang berpotensi itu seperti, Pandeglang, Serang dan Tangerang,” kata Agus, Senin (30/1/2023).
Kata Agus, untuk mengantisipasi kerugian yang dialami para petani, pihaknya menyiapkan Cadangan Benih Daerah (CBD) yang sudah siap untuk di distribusikan kepada para petani, yang mengalami gagal panen. CBD itu ujarnya, dibagikan kepada petani yang tidak menjadi angggota Asuransi Usaha Penanaman Padi (AUPP).
“Kita akan bagikan secara gratis, by name by adrees. Sekarang CBD-nya sudah standby,” ujarnya.
Sementara, lanjut Agus, bagi para petani yang sudah tercover asuransi akan mendapatkan biaya klaim, jika sawah mereka mengalami gagal panen. Biaya klaim yang akan dibayarkan, sebesar Rp6 juta setiap satu hektarnya.
Baca Juga: Belasan Tahun Banten Bebas Rabies, Distan Imbau Masyarakat Waspada Hewan Pembawa Virus
“Setiap bulannya, mereka membayar iuran sebesar Rp36 ribu per hektar per musim. Itu merupakan upaya pemerintah, memberikan perlindungan kepada para petani secara keseluruhan,” tambahnya.
Meski demikian, tambah Agus, jumlah petani yang sudah mengikuti keanggotaan di AUPP itu, sampai saat ini masih sedikit. Dari target Pemprov sebanyak 10.000 petani, saat ini yang baru terdaftar sekitar baru mencapai 3.000 petani.
Menurutnya, pada bulan Maret 2023 nanti para petani di Banten akan memasuki masa panen raya. Ada sekitar 576 ribu ton gabah yang bisa dioptimalkan, untuk menjaga stabilitas pangan daerah dalam rangka menekan laju angka inflasi.
“Sebab, berdasarkan analisa dari pusat, stabilitas harga beras sangat berpengaruh terhadap laju inflasi di daerah,” ujarnya lagi.
Agus juga mengakui, persoalan produksi gabah di Banten tidak terlalu dipersoalkan. Apalagi pada tahun lalu, masuk delapan besar daerah dengan produksi beras secara nasional. Namun yang menjadi persoalan, kondisi ekosistem di hilirnya sampai saat ini belum bisa berperan secara optimal. Sehingga, dikhawatirkan gabah hasil panen akan dibawa keluar Banten.
“Itu yang dikhawatirkan. Siapa pembelinya nanti, itu yang terpenting. Jangan sampai, nanti ketika panen raya tiba, harga jualnya menjadi anjlok dan para petani tidak menikmati hasil jerih payahnya. Karena kita ingin, para petani bisa menikmati hasil usahanya,” harapnya.
Baca Juga: Bantu Penanganan Gizi, Distan Banten Tingkatkan Produktivitas Telur
Terpisah, Sekretaris BUMD PT Agrobisnis Banten Mandiri (ABM) Yoga Pratama mengungkapkan, meskipun secara usia ABM masih terhitung belia. Namun, pihaknya sudah menyiapkan berbagai strategi untuk menyerap seluruh gabah dari petani, untuk kemudian dioptimalkan dalam rangka menjaga pasokan beras di dalam daerah.
“Tahun-tahun kemarin juga, kita sudah melakukan serapan gabah. Hanya saja, belum secara keseluruhan. Namun pada tahun 2023, ABM optimis bisa menyerap gabah hasil panen dari petani,” ungkap Yoga.
Salah satu strategi yang saat ini sedang dilakukan, adalah menjalin kerjasama dengan Bulog dalam rangka memaksimalkan serapan gabah petani pada sisi hilirnya.
“InsyaAllah, kita sudah sangat siap. Termasuk juga menampung Cadangan Beras Daerah (SBD) dari Pemprov Banten,” pungkasnya. (mg2)
























