BULAN Ramadan adalah bulan pendidikan (syahrut tarbiyah) yang mendidik kita agar terbiasa melakukan berbagai amal shalih, menjadi lebih baik dan meninggalkan segala maksiat yang merugikan diri sendiri. Harusnya setelah Ramadan, seorang muslim menjadi lebih baik, akan tetapi ada juga orang yang setelah Ramadan kembali menjadi buruk bahkan lebih buruk dari sebelumnya.
Namun pernahkah kita sadari bahwa mengerjakan hal tersebut seharusnya bukan hanya di bulan Ramadan? Banyak di antara kita seakan-akan baru mengenal Allah di bulan Ramadan. Datang ke masjid melaksanakan sholat berjamaah baik yang wajib maupun sunnah hanya di bulan Ramadan. Sholat lima waktu rajin, Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib sampai Isya tak tertinggal, di tambah sholat sunnah baik Rawatib, Tahajud, Dhuha dan lain sebagainya. Namun sayang, itu ia kerjakan hanya di bulan Ramadan. Sebelas bulan yang akan datang ia tidak pernah kerjakan lagi. Begitu juga dalam hal membaca Alquran, rajin membaca Alquran hanya di bulan Ramadan. Di luar Ramadan dia tidak pernah lagi membaca Alquran.
Pada hakikatnya puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki sejarah sangat panjang. Sebelum Allah SWT mewajibkan puasa kepada umat muslim melalui Rasulullah saw, puasa telah menjadi tradisi umat-umat terdahulu. Allah telah mewajibkan puasa kepada Yahudi selama 40 hari, kemudian umat nabi Isa selama 50 hari. Mengapa demikian? karena berpuasa merupakan jalur singkat mengenal Allah SWT.
Sesungguhnya lemahnya fisik yang timbul ketika berpuasa merupakan, kondisi yang sangat ideal untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena dengan fisik yang lemah, akan surutlah segala macam keinginan dan nafsu manusiawi. Dan ketika manusia telah terbebas dari nafsu, maka ia akan menjadi suci dan mudah berkomunikasi dengan Allah Yang Maha Suci. Berpuasa yang menjadikan lemahnya fisik, merupakan jalur termudah untuk membunuh dan mengurangi nafsu yang secara otomatis bisa dimanfaatkan untuk mempermudah diri mendekati Allah SWT.
Jika Ramadan telah mengajarkan kita untuk mengenal Allah, maka Idul Fitri ibarat puncak tujuan bahwa kita betul-betul diharapkan sudah kembali mengenal Allah. Setelah kita mengenal Allah, tugas terbesar saat ini adalah bagaimana cara merawatnya, jangan sampai kita hanya mengenal Allah hanya saat Ramadan saja, sebagaimana yang disampaikan oleh seorang ulama saleh terdahulu yaitu Bisyr Al-Hafi: “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadan saja. Ingat, orang yang saleh yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun” (Lathaif Al-Ma’arif, h. 390).
Maka karenanya, jangan sampai ketika bulan Ramadan yang lalu kita rajin sholat berjamaah ke masjid namun ketika ia berlalu kita malah rajin sholat di rumah. Jangan sampai Alquran yang sering kita baca di bulan Ramadan yang lalu sekarang malah kita letakkan di lemari, disusun rapi kemudian kita katakan: “Sampai jumpa di Ramadan berikutnya.” Tidak mengenal kata pensiun dalam beribadah.
Baca Juga: Motor Raib Saat Ibadah, Jemaat Kehilangan Kendaraan di Parkiran GKAI Ciputat
Selama hayat di kandung badan selama itu pula kewajiban menyembah Allah ada di pundak kita. Ibadah tidak terhenti dengan berakhirnya Ramadan, karena Allah berfirman: Sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99). Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskan tentang hakikat sebuah ibadah yang sesungguhnya, yaitu terus menerus tanpa henti meski hanya sedikit. Beliau bersabda: Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang paling continue meski hanya sedikit.” (HR. Muslim: 2818).
“Ungkapan ini adalah benar apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban agama. Apapun jika tidak, ia hanya meninggalkan sebagian perkara ijtihad. Ungkapan ini adalah benar, akan tetapi maksudnya adalah meninggalkan hal-hal wajib, semisal sholat pada bulan Ramadan kemudian ia tinggalkan sholat selain bulan Ramadan, maka ini adalah sejelek-jelek kaum karena mereka telah melakukan kekafiran.”
Meninggalkan sholat sangat berbahaya karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”. Yang sebelumnya melakukan sholat kemudian tidak melakukannya lagi diibaratkan pintalan yang rapi kemudian terurai dan tercerai berai. Allah ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. (Qs. an-Nahl: 92).
Ibnu Taimiyyah berkata, “Barangsiapa bertekad meninggalkan maksiat di bulan Ramadan saja, tanpa bertekad di bulan lainnya, maka ia bukan seorang yang bertaubat secara mutlak, akan tetapi ia hanyalah sekadar orang yang meninggalkan perbuatan maksiat di bulan Ramadan. Puasa tetap dianjurkan, menutup aurat tetap diperintahkan, menjaga lisan tetap diterapkan, membaca Alquran tetap harus dirutinkan, sholat berjamaah tetap diwajibkan, sedekah tetap ditunaikan, qiyamul lail tetap harus dikerjakan, berdoa tetap diperlukan, dzikir tetap dirutinkan, ganjaran amal shalih tetap terus berjalan.
Finish beribadah bukan 1 Syawal, finish ibadah bukan hari raya, finish ibadah bukan ketika Ramadan berakhir, karena kita diperintahkan beribadah sampai mati, bukan sampai Idul Fitri. Makna Beribadah Sampai Yakin adalah Sampai Datang Ajal/Kematian. Allah Ta’ala berfirman, “Dan beribadahlah pada Rabb mu sampai datang kepada kalian yakin (ajal atau kematian).” (QS. Al-Hijr: 99).
Jadilah Rabbaniyun, Jangan jadi Ramadhaniyun. Robbaniyun adalah orang yang semangat beribadah pada bulan Ramadan, dan ia tetap terus semangat beribadah meskipun Ramadan telah berakhir. Sedangkan Ramadhaniyun adalah orang yang semangat beribadah pada bulan Ramadan saja, sedangkan ketika Ramadan selesai, maka ia kembali malas bahkan meninggalkan kebiasaan ibadahnya. Justru Ramadan hanya ia gunakan momentum sesaat untuk mengenal Allah dan setelah Ramadan ia berniat untuk kembali bermaksiat kepada Allah dan melupakan Allah sebagai penciptanya. Allah yang kita sembah di bulan Ramadan juga Allah yang kita sembah di luar bulan Ramadan. Oleh sebab itu, jangan sampai meninggalkan ibadah yang telah kita latih di bulan Ramadan agar kita tidak menjadi manusia terburuk.
Baca Juga: Tujuh Jemaah Haji Wafat di Tanah Suci
Syaikn Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa makna ungkapam ini adalah benar apabila mereka melalaikan kewajiban-kewajiban agama setelah Ramadan. Semisal Ramadan rajin sholat dan memakai jilbab, namun setelah Ramadan shslat bolong-bolong dan kembali melepas jilbab. Beliau menjelaskan, Dikatakan kepada sebagian ulama salaf yang bernama Basyr Al-Hafi, “Ada sebagian kaum, mereka beribadah dan bersungguh-sungguh melakukan amalan ibadah di bulan Ramadan. Akan tetapi ketika Ramadan berakhir, mereka pun meninggalkan amalan ibadah tersebut.”
Semoga Kita tergolong orang-orang yang tetap istiqomah, konsisten dan persisten dalam menjaga nilai-nilai Ramadan yang telah kita dapatakan selama 1 bulan untuk sebelas bulan yang akan datang. Bulan Ramadan adalah bulan Tarbiyah buat kita umat Nabi Muhammad Saw, agar kebiasan baik di bulan Ramadan yang kita lakukan akan menular untuk sebelas bulan yang akan datang. Baik itu sholat, tadarus Alquran, bersedekah dan lain sebagainya.
Itulah ciri ciri orang yang mendapat gelar Takwa, Istiqomah dalam menjalankan ibadah, bukan musiman yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan. (*)
*(Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten, Litbang Majelis Dai Kebangsaan Provinsi Banten, Dosen Universitas Esa Unggul, Litbang Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan Republik Indonesia (IDIP RI))
