SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Capres Nomor Urut 3, Ganjar Pranowo menyinggung program makan siang gratis untuk rakyat yang didengungkan pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 2 Prabowo-Gibran. Dia mengkaitkannya dengan keluhan rakyat yang ditemuinya saat kampanye.
Awalnya, saat memberikan sambutan dalam acara alumni aktivis GMNI di Gedung Serba Guna GBK, Jakarta, Kamis (27/12), Ganjar mengajak para alumni untuk mendengar dan menolong apa yang dikeluhkan rakyat Indonesia.
“Kita harus ketemu rakyat, kita harus bersama mereka, dengarkan baik-baik degup jantungnya, cium bau keringatnya, bahwa di sana membutuhkan kita semua untuk memperjuangkan nasibnya,” kata Ganjar.
Ganjar bercerita bahwa dia mendengar dan merasakan langsung saat blusukan kampanye yang dimulai dari Merauke. Dia banyak menerima keluhan. Misalnya keluhan kekurangan fasilitas kesehatan.
“Seorang Pendeta Leo, saya ulang cerita ini yang dia harus menolong ibu melahirkan, “bapak Ganjar kami berada dalam ketidakmudahan, kami tidak punya ilmu itu, tapi di kampung kami tidak ada fasilitas itu, dan tidak ada orang yang mau menolong ini dan mampu menolong ini, yang ada tinggal kami,” ungkapnya.
Menurutnya, contoh tersebut menunjukan rakyat masih menemui sejumlah kesulitan. Sementara beberapa orang lainnya justru asyik berpesta.
“Bagaimana menolongnya, mereka kalau membawa ke rumah sakit, RS jauh, ke mana mereka harus lewat, bukan jalannya rusak atau jelek, tidak ada jalan, dan kemudian kita berpesta pora tinggi-tinggi sekali,” sambung Ganjar.
Ganjar lantas menyinggung soal program makan siang (maksi) gratis untuk rakyat yang digembar-gemborkan pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 2 Prabowo-Gibran, hingga menelan anggaran Rp450 triliun.
“Maaf, dan Rp400 T mau digunakan untuk makan siang?” ujar Ganjar disambut tawa hadirin.
Berkenaan dengan itu, kata Ganjar, alumni GMNI harus kritis. “Alumni GMNI adalah intelektual, mari kita makin kritis pada soal jargon, pada soal program, pada soal gimmick, karena di balik politik yang besar, di balik debat yang ditonton tepuk tangan yang sangat meriah, sebenarnya ada tanggung jawab moral kita untuk melakukan pendidikan politik kepada rakyat,” tutur Ganjar.
“Jangan bohongi rakyat,” imbuhnya, yang lalu disambut riuh tepuk tangan hadirin.
Menurutnya, tidak mungkin pemerintah hanya dikelola dengan gimmick dan tampilan visualnya. Padahal dunia dilanda ketidakpastian yang membutuhkan pemimpin yang paham dengan kondisi geopolitik dunia.
“Dinamikanya sangat keras, gencetannya sangat kuat, dan kita mesti menempatkan diri. Maka kalau cerita ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan (ipoleksosbudhankam), mari kita cerita lagi berdaulat kah politik kita,” ujar Ganjar.
“Mandiri kah ekonomi kita? apakah kita memegang kebudayaan kita? Atau kita cuman mau ngenger (ikut-ikutan) saja kepada mereka yang ada di sana,” kata mantan gubernur Jawa Tengah itu.
Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Pengarah TKN Prabowo-Gibran, Hashim Djojohadikusumo menyatakan bahwa program makan siang dan susu gratis tidak akan memangkas anggaran dari dana bantuan sosial (bansos).
“Saya ikut tim pakar, dana (makan siang dan susu gratis) ada dan bakal ada, dan ini bukan dari anggaran bansos, anggaran bansos yang Rp500 T tahun depan itu tetap. Bansos kita tidak akan ambil uang bansos untuk ini,” kata Hashim kepada wartawan di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (20/12/2023).
Ia menyampaikan bahwasanya dana program makan siang dan susu gratis akan diambil dari sumber baru. Akan tetapi, ia tidak bisa merinci darimana uang tersebut berasal. “Ini ada dana baru dan bakal dan saya jamin, Prabowo jamin, tim pakar dana ada dan bakal ada,” katanya.
Di sisi lain, Hashim memahami dana makan siang dan susu gratis akan mengeluarkan angka yang besar. Yakni, Rp 450 triliun atau tiga kali lipat dari anggaran Kementerian Pertahanan RI.
“Saya bisa katakan bahwa dana untuk ini, program ini akan memakan dana Rp450 T setiap tahun. Pak Prabowo menganggap ini penting sekali, begitu penting dana ini tiga kali anggaran pertahanan dan TNI setiap tahun, tiga kali lebih. Anggaran TNI dan pertahanan Rp137 T dan program untuk makanan gratis Rp450 T,” tukasnya.(bbs/san)