SATELITNEWS.COM, GARUT—MSF dokter kandungan terduga pelaku pelecehan seksual kepada sejumlah pasien di sebuah klinik di Garut telah ditangkap. Kepada polisi, sang dokter membeberkan motif dan modus perbuatan cabulnya.
“Sudah diproses. Pelaku sudah ditangkap sejak kemarin sore. Saat ini masih dalam tahap pemeriksaan oleh penyidik di Mapolres Garut,” ujar Kapolres Garut AKBP Mochamad Fajar Gemilang, Rabu (16/4/2025).
Fajar menjelaskan, pihaknya berhasil melacak keberadaan MSF di Jakarta. Saat dijemput tim dari Sat Reskrim Polres Garut, MSF tidak melakukan perlawanan.
Ketika diperiksa polisi, MSF mengakui melakukan perbuatan pelecehan karena merasa terangsang saat melakukan pemeriksaan USG kandungan pasien. “Motif karena nafsu,” kata Fajar. “Merasa bangkit, terangsang gitu ya, melihat dari pasien atau korban,” kata Fajar.
Terkait modus, Fajar mengungkapkan bahwa pelaku kerap menawarkan layanan USG gratis serta pelayanan medis lain secara personal kepada pasien-pasien tertentu. Tindakan tersebut sengaja dilakukan tanpa tercatat di buku resepsionis klinik, sehingga tidak terdeteksi secara administratif.
“Iya, ada yang ditawari USG gratis atau layanan-layanan lain secara personal, sehingga korban tidak tercatat di buku resepsionis,” jelasnya.
Sampai kamarin, tercatat baru dua perempuan berusia antara 20 hingga 30 tahun yang secara resmi melaporkan kejadian dugaan pelecehan tersebut ke pihak berwajib. Fajar memastikan bahwa penyelidikan dilakukan dengan menjaga kerahasiaan identitas para korban.
Polres Garut sendiri telah membuka posko pengaduan guna menampung laporan dari pasien lain yang mungkin menjadi korban. Meski baru dua laporan resmi diterima, informasi yang beredar di masyarakat dan media sosial menyebut jumlah korban bisa lebih banyak.
Namun, upaya mengajak korban untuk melapor tidaklah mudah. “Korban sebagian besar adalah ibu-ibu. Mungkin mereka merasa malu jika kasus ini menjadi viral,” kata Fajar.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Garut AKP Joko Prihatin menjelaskan bahwa MSF mulai membuka praktik di wilayah Garut sejak Januari 2023 hingga Desember 2024 saat dia mengundurkan diri. “Dugaan perbuatannya terjadi dalam kurun itu,” kata Joko.
Pihak kepolisian juga menggandeng Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam penyelidikan kasus ini. “Kami masih menunggu kehadiran tim dari majelis disiplin Kemenkes. Sebab, sesuai Undang-Undang Kesehatan, dokter yang terlibat pidana harus melalui proses rekomendasi profesi,” tandas Joko.
Selain di klinik swasta yang menjadi TKP kejadian pelecehan seksual, Dokter MSF juga sempat bekerjasama dengan Pemkab Garut, dan berdinas di RS Malangbong. Dia sempat berdinas juga di sebuah rumah sakit swasta.
Di Jakarta, Asisten Deputi Pelayanan Perempuan Korban Kekerasan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Ratna Oeni Cholifah, memastikan bahwa MSF sudah tidak lagi berpraktik di beberapa fasilitas kesehatan, termasuk Klinik Karya Harsa, Anisa Queen, dan RSUD Malangbong.
Ratna juga mengungkap fakta baru terkait dugaan pelecehan yang dilakukan MSF, terhadap pasiennya di Garut. MSF disebut sempat ditonjok suami pasien setelah tahu sang istri menjadi korban.
“Beberapa bulan lalu (tahun 2024), pelaku pernah ditonjok sama suami pasien (karena pelecehan), tapi berakhir damai,” ungkap Ratna, Rabu (16/4/2025).
Meski kasus itu berakhir damai, lanjut Ratna, dugaan pelecehan oleh Syafril kembali muncul lantaran jumlah korban lebih dari satu. “Karena korban banyak, sekarang di-blow up kembali,” lanjut dia.
Sebelumnya, publik dihebohkan dengan video yang memperlihatkan seorang dokter kandungan tengah melakukan pemeriksaan USG, namun tampak menyentuh bagian tubuh pasien secara tidak pantas. Video tersebut memicu kemarahan masyarakat dan mempercepat proses penelusuran kasus.
Buntut peristiwa itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menangguhkan surat tanda registrasi (STR) dokter spesialis obgyn tersebut. Dengan demikian yang bersangkutan tidak diperkenankan melanjutkan praktik terlebih dulu. (rmg/san)