SATELITNEWS.COM, TIGARAKSA–RSUD Tigaraksa mengajak masyarakat untuk lebih mengenal gejala hemofilia demi menciptakan kehidupan yang sehat. Ajakan itu disampaikan pada Hari Hemofilia Sedunia yang diperingati setiap tanggal 17 April.
Dokter Spesialis Anak pada RSUD Tigaraksa, dr. Qeis Ramadhan, Sp. A menjelaskan, bahwa Hemofilia merupakan sebuah penyakit gangguan pembekuan darah yang bersifat keturunan. Berdasarkan data Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI), hingga Desember tahun 2018 lalu, penderita atau pasien Hemofilia tercatat sebanyak 2.098 orang dari bernagai usia.
” HMHI mencatat pasien Hemofilia sebanyak 2.098 di tahun 2018 lalu. Jadi Hemofilia ini merupakan gangguan pembekuan darah, dimana darah sulit berhenti ketika tubuh mengalami luka, ” kata dr. Qeis Ramadhan, Sp. A kepada Satelit News, Kamis (17/4).
Lanjut dr. Qeis Ramadhan, berdasarkan angka prevalensi hemofilia di dunia, sebanyak 400.000 orang menderita Hemofilia. Dan, sebanyak 25.000 orang berasal dari Indonesia, namun kemungkinan besar, banyak penderita Hemofilia di Indonesia yang belum terdiagnosa.
“Dari data dunia, sebanyak 400.000 orang, kemungkinan besar sebanyak 25.000 berasal dari Indonesia. Penyakit ini lebih banyak diderita oleh laki-laki, ” katanya.
Menurut dr. Qeis Ramadhan, berdasar penelitian Chozie dkk pada Tahun 2015 di RSCM, ditemukan bahwa kerusakan sendi/artropati telah dijumpai pada seluruh subjek dengan rata-rata usia 12 tahun (rerata skor Hemophilia Early Arthropathy Detection with Ultrasonography/HEAD-US 25). Baik yang mendapat terapi profilaksis maupun on demand.
Baca Juga: Beri Pelayanan Terbaik, RSUD Tigaraksa Catat Peningkatan Kunjungan Pasien
Lalu, Penelitian kedua di RSCM tahun 2016-2018 pada anak usia 4-18 tahun juga, menemukan bahwa artropati telah terjadi pada semua pasien.
Tanda dan gejala Hemofilia adalah mudah memar kebiruan tanpa penyebab yang jelas terutama pada masa bayi dan balita, lalu bengkak dan nyeri pada sendi, riwayat perdarahan yang sulit berhenti pasca trauma atau tindakan medis tertentu seperti cabut gigi, sirkumsisi atau operasi.
“Penanganan penderita hemofilia harus dilakukan secara komprehensif dari mulai tata laksana nyerinya hingga masalah kejiwaan yang mungkin dialami, ” katanya.
Adapun, tatalaksana bagi orang tua untuk anak dengan hemofilia bisa dilakukan dengan cara.
1. Daftarkan anak di pusat perawatan hemofilia.
2. Lakukan kunjungan dokter secara rutin.
Baca Juga: Mengenal Radang Usus Buntu dan Cara Menanganinya
3. Berikan semua obat yang diresepkan sesuai petunjuk.
4. Bekerja samalah dengan tim perawatan anak, sehingga orangtua tahu langkah-langkah tepat yang harus diambil
jika anak terluka atau berdarah.
5. Ikuti petunjuk dokter tentang aktivitas atau olahraga mana yang diperbolehkan dan mana yang harus dihindari.
Demikian saran yang disampaikan Dokter Spesialis Anak, RSUD Tigaraksa, dr. Qeis Ramadhan, Sp. A. (adv)



















