SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Masyarakat diimbau untuk mengenali dan mencegah dengan tepat terjadinya asma sejak dini. Hal itu dilakukan guna menjaga kesehatan sang buah hati.
Dokter Spesialis Anak pada RSUD Tigaraksa, dr. Qeis Ramadhan Sp.A menjelaskan, asma adalah penyakit kronis saluran pernapasan yang dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Menurut dr. Qeis Ramadhan, hal itu ditandai dengan sesak napas, batuk berulang, dan napas berbunyi (mengi). Penyakit asma ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari hingga tumbuh kembang si kecil jika tidak dikelola dengan baik.
“Tetapi kabar baiknya, asma pada anak bisa dicegah atau dikendalikan sejak dini dengan langkah yang tepat,” kata dr. Qeis Ramadhan Sp.A, Selasa (6/5/2025).
Menurut dr. Qeis Ramadhan Sp.A, mendeteksi gejala asma sejak awal sangat penting untuk mencegah komplikasi. Karakteristik gejala asma yaitu berulang (episodik), cenderung memburuk pada malam hari (nokturnal), dipicu oleh pencetus (trigger) tertentu, dan dapat membaik dengan atau tanpa pengobatan. Jika anak menunjukkan gejala-gejala tersebut secara berulang, segera konsultasikan ke dokter anak atau spesialis paru.
Faktor Risiko Asma pada Anak ada beberapa hal yang meningkatkan risiko asma pada anak, antara lain:
1. Penyakit alergi (asma, rinitis alergi, dermatitis atopi, urtikaria, alergi makanan, dan lain-lain) pada pasien dan keluarga dekat maupun keluarga jauh.
2. Riwayat berat lahir rendah/prematuritas.
3. Riwayat pajanan produk tembakau sejak dalam kandungan, selama masa bayi dan balita.
4. Alergi makanan atau udara (debu, tungau, bulu hewan).
5. Pajanan (peristiwa atau kejadian yang menyebabkan paparan terhadap sesuatu, baik itu bahaya, resiko, atau pengaruh tertentu) dengan hewan berbulu.
6. Riwayat penyakit infeksi saluran respiratori pada masa bayi (usia 0-12 bulan)
“Untuk menunjang keberhasilan tata laksana pada program asma anak terutama pada anak sekolah, remaja, program asma di sekolah sangat diperlukan,” katanya.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain, koordinasi dengan puskesmas/FKTP setempat, skrining asma bagi seluruh siswa baru pada saat pertama mendaftar sekolah, komunikasi antara guru dengan anak yang menderita asma, pelatihan tentang pengertian asma, tata laksana, faktor pencetus, serta dengan pengenalan tanda kegawatan asma kepada pegawai sekolah.
Kebijakan sekolah mengenai lingkungan bebas asap rokok, kolam renang rendah klorin, mengatasi polusi seperti debu, kecoak, tungau, jamur, hewan, penggunaan kapur. Kebijakan yang memastikan siswa mendapatkan pengobatannya kapan saja serta mengizinkan siswa untuk mengobati sendiri sesuai anjuran dokter memiliki kesiapan untuk pertolongan pertama pada anak yang mengalami serangan asma di sekolah.
“Penanganan pada siswa yang sering ke UKS, kunjungan UGD atau ke rumah sakit akibat asmanya,” pungkasnya. (*)