SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Sebanyak 253.421 peserta dinyatakan lulus dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025, atau sekitar 29,43 persen dari total 860.976 peserta yang mengikuti ujian. Namun, euforia kelulusan ini dibayang-bayangi adanya praktik kecurangan dengan nilai transaksi yang bisa mencapai ratusan juta rupiah per kursi di program studi favorit.
Ketua Tim Penanggung Jawab Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), Eduart Wolok, mengatakan bahwa peserta yang lolos terdiri dari 219.889 orang di perguruan tinggi negeri (PTN) akademik, dan 33.532 orang di PTN vokasi.
“Selamat kepada para peserta yang lulus. Kami imbau untuk segera melakukan registrasi ulang sesuai jadwal masing-masing perguruan tinggi,” ujar Eduart dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (27/5/2025). “Jadi memang dari 860.000 pendaftar, kuota kita kan hanya 280.000 sekian. Jadi ketika yang masih belum terterima ada sekitar 600.000,” lanjut dia.
Sebanyak 83.539 peserta penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah juga berhasil lolos, termasuk di antaranya 77 peserta difabel, dengan 22 di antaranya tunanetra. SNBT 2025 sendiri terbuka bagi lulusan tahun 2023, 2024, dan 2025, serta mencakup 364 peserta difabel.
Mirisnya, capaian tersebut dibayangi oleh temuan serius terkait praktik curang dalam proses seleksi. Menurut Eduart, panitia menerima laporan adanya transaksi ilegal yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah per kursi, terutama untuk program studi yang sangat diminati seperti kedokteran.
“Sudah ada laporan mengenai transaksi bernilai ratusan juta rupiah. Satu kursi di prodi favorit bisa dihargai sangat tinggi,” ungkap Eduart. “Sampai saat ini apakah hampir di setiap kampus, kita belum melihat. Tetapi memang banyak kampus yang menjadi tujuan dari proses kecurangan itu. Mayoritas ada di kedokteran. Mayoritas memilih prodi kedokteran,” sambungnya.
Eduart mengaku belum dapat merinci mayoritas universitas mana saja yang menjadi tujuan para peserta yang mengikuti SNBT/UTBK secara curang. Namun, ia mengaku tengah mengidentifikasi pola-pola kecurangan yang dilakukan oleh para peserta untuk masuk ke perguruan tinggi negeri ini.
“Hasil deteksi sementara upaya kecurangan ini ada yang bersifat personal, ada yang bersifat secara jejaring. Nah itu yang sedang kita lakukan terus penelusuran,” ujarnya. “Dari beberapa teman-teman di universitas itu mendeteksi, baik mahasiswa aktif maupun alumni yang terlibat dalam upaya kecurangan ini,” lanjutnya.
Modus operandi para pelaku sangat beragam, mulai dari penggunaan joki ujian, akses ilegal terhadap soal, pemberian
jawaban menggunakan perangkat remote, hingga keterlibatan orang tua dalam skema pembayaran.”Kalau modus yang paling baru itu kan dengan menggunakan rekayasa AI, dengan mengkamuflase dari mulai kartu peserta dan sebagainya,” jelas dia.
Padahal, lanjutnya, panitia telah menerapkan sistem pengawasan ketat sejak awal. Selama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), peserta diperiksa menggunakan alat pemindai logam, dan pengawasan diperketat baik di ruang ujian maupun saat pengolahan data hasil tes.
Ratusan indikasi kecurangan telah dikantongi panitia. Mereka yang terbukti melakukan pelanggaran akan dikenai sanksi, mulai dari diskualifikasi hingga pelaporan kepada pihak kepolisian.
“Kita tidak akan berhenti sampai di sini ibu bapak sekalian. Kita terus akan melakukan deteksi kecurangan ini sampai di proses daftar ulang di kampus masing-masing,” tegasnya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah panitia dalam menindak pelaku kecurangan. “Modusnya terstruktur, sistematis, dan melibatkan pihak luar. Ini bukan hanya pelanggaran akademik, tapi juga tindak kriminal. Kami akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk memastikan pelaku mendapat hukuman setimpal,” tegas Brian.
Ia juga mengimbau kepada peserta yang belum lolos agar tidak berkecil hati dan tetap semangat. “Masih ada jalur mandiri yang bisa diikuti. Jangan menyerah. Proses belum berakhir,” tambahnya.
Pelaksanaan SNPMB 2025 melibatkan 145 perguruan tinggi negeri, terdiri atas 75 PTN akademik, 26 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), dan 44 politeknik negeri. Total daya tampung yang diperebutkan di jalur SNBT tahun ini mencapai 284.380 kursi.
Pendaftar program sarjana tercatat sebanyak 799.230 peserta, sedangkan untuk diploma IV sebanyak 43.582 peserta dan diploma III sebanyak 18.164 peserta. Secara lebih rinci, pada jalur akademik, sebanyak 98.567 peserta lulus di pilihan pertama, 98.077 di pilihan kedua, 17.169 di pilihan ketiga, dan 6.076 di pilihan keempat. Sementara itu, pada jalur vokasi, 6.144 peserta lulus di pilihan pertama, 4.788 di pilihan kedua, 14.199 di pilihan ketiga, dan 8.401 di pilihan keempat.
Hasil kelulusan bisa diakses secara daring mulai Rabu (28/5) pukul 15.00 WIB, melalui laman resmi https://pengumuman-snbt.snpmb.id dengan memasukkan nomor peserta dan tanggal lahir sesuai data registrasi.(rmg/san)