SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) akan menggelar Munas di Bandung, Jawa Barat pada 1-3 Agustus 2025. Dalam agenda munas kali ini, salah satu isu krusial yang mengemuka adalah adanya ketimpangan kebijakan pemerintah terhadap kampus-kampus swasta hingga berpotensi “membunuh pelan-pelan” PTS.
Ketua APTISI Banten yang juga Rektor Universitas Raharja Tangerang Dr Po Abas Sunarya dipercaya sebagai Ketua Stering Commite (SC).
Abas mengatakan, sebelum digelarnya Munas, dirinya sudah meminta masukan dari para anggota APTISI terkait permasalahan yang dihadapi masing-masing kampus. “Masukan mereka sudah diterima semua. Persoalannya pun serupa, yakni bahwa terjadi ketimpangan soal kebijakan yang dirasa merugikan swasta,” ujar Abas saat ditemui di kampusnya, Rabu (30/7/2025).
Dia mencontohkan terkait dengan KIP serta aturan dibukanya berbagai jalur masuk PTN sehingga berimbas pada kampus swasta kesulitan mendapat mahasiswa baru. Akibat adanya fenomena “kampus negeri rasa swasta” ini, banyak PTS menghadapi kendala untuk sekadar membayar gaji dosen.
“Apakah sanggup semua bakal ditanggung oleh PTN kalau swasta tutup, apakah sanggup APBN membiayai semua, kan nggak” jelasnya.
Abas juga menekankaan bahwa kampus swasta sudah berkontribusi besar dalam membangun sumber daya manusia Indonesia, terlbih daya tampung perguruan tinggi negeri tak akan mampu mengakomodir seluruh mahasiswa.
Baca Juga: Aptisi Banten Dorong Pemda Perkuat Peran Perguruan Tinggi dalam Pembangunan
“Kampus negeri paling banyak berapa yang bisa diakomodir, yang saya dengar paling 30 persen. Sisanya kemana? Ya pasti swasta,” jelasnya. Kondisi ini ujarnya tidak hanya ada di satu daerah saja, melainkan dialami hampir seluruh kampus swasta di Indonesia.
“Harusnya kampus negeri lebih concern pada penguatan mutu, sebab kalau mau jujur kampus-kampus negeri di Indonesia masih berada di mana sih jika dibanding dengan negara-negara tetangga lain?” ujarnya.
Selain itu, PTN juga didorong agar lebih berkonsentrasi pada penerimaan jenjang pascasarjana, sehingga ke depan terjadi pemerataan kemajuan antara kampus swasta dan negeri.
“Jadi baik kampus negeri maupun swasta maju bersama-sama, tidak seperti saat ini, biar gimana pun kampus swasta juga turut membangun bangsa,” jelasnya. (made)
