SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Pemeriksaan kesehatan murid sekolah dasar hingga menengah atas dimulai secara serentak di seluruh Indonesia, Senin (4/8). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya transformasi layanan primer yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mendeteksi dini berbagai masalah kesehatan anak usia sekolah dan remaja.
Kegiatan bertajuk Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini akan rutin dilakukan setiap tahun dengan menyasar 53 juta pelajar secara nasional. Pemeriksaan difokuskan pada anak usia 7 sampai 17 tahun di semua jenjang pendidikan, dari SD hingga SMA, dan dilakukan di sekolah oleh tim dari puskesmas.
“Kita ingin seluruh anak-anak Indonesia diperiksa kesehatannya minimal sekali dalam setahun. Dengan data ini, kita bisa tahu apa masalah kesehatan yang dominan di masing-masing daerah dan segera memberikan intervensi,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat meninjau pelaksanaan CKG di SMP Negeri 5 Bandung, Jawa Barat, Senin (4/8).
Ia menambahkan, pendekatan ini tidak hanya penting untuk mencegah penyakit sejak dini, tetapi juga akan memperbaiki kualitas pembelajaran karena kesehatan berkaitan langsung dengan konsentrasi dan kemampuan belajar anak.
Jenis pemeriksaan dalam program CKG ini dirancang sesuai tahapan usia dan jenjang pendidikan. Untuk murid SD, fokus utamanya adalah pemeriksaan status gizi (berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, lingkar lengan), kesehatan gigi dan mulut, serta pengukuran kebugaran jasmani.
Pada jenjang SMP, pemeriksaan ditambah dengan deteksi anemia melalui pengukuran kadar hemoglobin (Hb), pemeriksaan tekanan darah, penglihatan, pendengaran, dan status kebugaran lebih lanjut.
Sementara untuk siswa SMA, pemeriksaan mencakup seluruh item di atas, dengan tambahan skrining risiko penyakit tidak menular dan masalah kesehatan mental tertentu yang relevan untuk remaja.
“Kita menyesuaikan jenis pemeriksaannya. Kalau di SMA tentu sudah perlu cek anemia, tekanan darah, dan kebugaran lebih serius. Sedangkan di SD mungkin cukup fokus di tumbuh kembang dan gigi,” jelas Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, saat meninjau CKG di SDN Cideng 02, Jakarta.
Sebelum pelaksanaan CKG secara menyeluruh di seluruh sekolah, program ini telah resmi dijalankan lebih dahulu di 72 Sekolah Rakyat yang tersebar di enam provinsi. Dari pelaksanaan awal tersebut, ditemukan tiga masalah kesehatan terbanyak: gangguan kesehatan gigi dan mulut (46 persen), kebugaran jasmani (30 persen), dan anemia.
Masalah gigi yang paling sering ditemukan adalah karies aktif dan sisa akar gigi yang belum ditangani. Anak-anak juga banyak yang tidak mampu menyelesaikan uji kebugaran sesuai usia. Sementara anemia paling banyak ditemukan pada remaja perempuan.
“Hasil dari 72 Sekolah Rakyat ini kita pakai sebagai dasar membuat rekomendasi intervensi. Anak-anak yang anemia kita beri edukasi gizi dan tablet tambah darah, yang kurang bugar kita dorong senam dan olahraga harian, dan yang bermasalah di gigi kita rujuk ke Puskesmas,” ujar Maria Endang.
Ia menekankan, tindak lanjut tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi juga kolektif di tingkat sekolah. Misalnya, dengan menggalakkan kembali kegiatan senam pagi ‘Pagi Ceria’, edukasi gizi, dan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dan kebersihan diri.
Pemeriksaan dilakukan sepenuhnya secara gratis. Anak-anak yang perlu penanganan lanjutan akan dirujuk ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Jika wilayah sekolah tersebut sudah masuk skema Universal Health Coverage (UHC), biaya pengobatan juga akan ditanggung melalui BPJS Kesehatan.
“Kalau kabupatennya sudah UHC, maka pengobatan atau pemeriksaan lanjutan juga gratis. Tidak ada biaya untuk orang tua,” ujar Menkes Budi.
Ia berharap, data hasil CKG bisa diintegrasikan ke dalam sistem SATUSEHAT agar status kesehatan anak-anak bisa terus dipantau sepanjang jenjang pendidikan mereka.
CKG akan dilaksanakan serentak setiap tahun, bertepatan dengan awal tahun ajaran baru. Dengan begitu, hasil pemeriksaan bisa digunakan untuk menyusun intervensi kebijakan dan kegiatan UKS selama satu tahun penuh.
“Dulu UKS itu sering jalan sendiri-sendiri. Sekarang dengan adanya data dari CKG, sekolah dan dinas kesehatan bisa menyusun program yang lebih berbasis bukti,” kata Maria Endang.
Kemenkes menargetkan, seluruh sekolah di Indonesia bisa menjadikan pemeriksaan ini sebagai bagian rutin dari kegiatan belajar-mengajar. Dengan deteksi dini, anak-anak Indonesia diharapkan bisa tumbuh lebih sehat, cerdas, dan siap menyongsong masa depan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan saat ini 16 juta orang di seluruh Indonesia telah menjalani program CKG sejak dimulai pada 10 Februari 2025.
“Per kemarin sudah 16 juta orang yang dicek. Sekarang per harinya saya lihat rata-rata 250 sampai 280 ribu anak diperiksa,” kata dia. (rmg/san)