SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus mendorong pemanfaatan program cek kesehatan gratis (CKG) bagi masyarakat umum dan pelajar. Hingga Agustus 2025, realisasi program ini masih tergolong rendah. Dari total target 36 persen warga Tangsel atau sekitar 504 ribu jiwa dari populasi 1,4 juta, saat ini baru sekitar 19 persen warga yang memanfaatkan layanan kesehatan gratis tersebut.
“Jadi masyarakat kita baru di angka 19 persen, kan targetnya 36 persen tahun ini dari 1,4 juta,” ujar Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar usai mengikuti zoom verifikasi Kota Sehat Tangsel tingkat Nasional 2026 di ruang Blandongan Puspemkot Tangsel, Kamis (21/8).
Allin menyebut bahwa rendahnya capaian ini tidak lepas dari kurangnya antusiasme sebagian masyarakat. Bukan karena tidak tahu, melainkan karena masih adanya ketakutan dan stigma yang melekat terhadap pemeriksaan kesehatan.
“Cek kesehatan gratis, antusias masyarakat terus terang saat ini antusias masyarakat harus terus kita dorong, karena memang masyarakat masih ada yang takut ketahuan kalau diperiksa,” jelasnya.
Sebagai upaya mendekatkan layanan ke warga, Dinas Kesehatan menghadirkan inovasi bernama CKG Komunitas. Berbeda dengan layanan CKG di puskesmas, CKG Komunitas bersifat jemput bola, dengan membuka pos pemeriksaan kesehatan di lingkungan warga seperti kelurahan, RW, bahkan tempat ibadah, sesuai dengan kesepakatan bersama.
“Itu adalah tugas kita untuk terus melakukan edukasi, bagaimana masyarakat bisa memanfaatkan pelayanan kesehatan, karena tidak harus datang ke puskesmas ya, kita buka gerai-gerai juga, ngider sehat, buka posko, kemudian kadang di kelurahan atau di mana itu,” bebernya.
Baca Juga: Provider Membandel, Kabel Udara di Ciputat Timur Ditertibkan
Menariknya, warga yang mengajukan pemeriksaan juga diperbolehkan untuk mengkoordinir lingkungan sekitar, sehingga prosesnya bisa dilakukan secara kolektif dan efisien. Bahkan layanan ini bisa dilakukan di rumah warga jika jumlah peserta memenuhi syarat.
“Komunikasi aja dengan puskesmas, biasanya nanti mereka janjian di mana bukanya. Misalnya lima puluh gitu. Tiga puluh minimal,” kata Allin.
Mengenai pelayanan, baik CKG di puskesmas maupun CKG Komunitas memiliki standar skrining yang sama, hanya berbeda dari segi teknis pelaksanaan dan tampilan visual alat. Sementara, Allin melanjutkan untuk CKG ditujukan bagi siswa sekolah saat ini baru mencapai 23 persen. Keterlambatan ini menurutnya disebabkan oleh waktu pelaksanaan yang baru dimulai sekitar satu bulan lalu.
“Kemudian kalau untuk yang sekolah, kita sedang jalan. Jadi SD, SMP, SMA baru terlaksana 23 persen dari jumlah sasaran yang ada. Kendalanya kan sekolahnya banyak ya, kan kita mulai baru bulan kemarin kan. Jadi baru satu bulan, pelaksanaannya kita udah 23 persen. Ini kan nanti berbarengan juga dengan bulan imunisasi anak sekolah di SD, ini juga nanti bisa kita integrasikan,” pungkasnya. (eko)

















