SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Gelombang demonstrasi yang mengguncang sejumlah kota di Indonesia sejak 28 Agustus 2025 menarik perhatian sejumlah media internasional. Aksi ini memuncak setelah kematian Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, yang tewas ditabrak mobil rantis Brimob, sekaligus menyoroti ketegangan sosial dan ekonomi di dalam negeri.
Menurut Al Jazeera, aksi protes tidak hanya dipicu tragedi Affan, tetapi juga ketidakpuasan publik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk tunjangan rumah Rp 50 juta per bulan bagi anggota DPR. Media tersebut menilai gelombang protes ini menjadi ujian terbesar bagi Presiden Prabowo Subianto sejak dilantik Oktober 2024, terutama terkait stabilitas pasar dan nilai tukar rupiah.
BBC melaporkan bentrokan antara demonstran dan aparat kepolisian, dengan gas air mata ditembakkan untuk membubarkan kerumunan. Ribuan pengemudi ojol menghadiri pemakaman Affan.
Presiden Prabowo disebut meminta maaf kepada keluarga korban dan menyatakan kecewa atas tindakan aparat yang berlebihan. BBC menilai demonstrasi ini menjadi ujian awal kepemimpinan Prabowo di tengah sorotan publik soal tunjangan pejabat dan tingginya biaya hidup.
Mereka juga menulis mengenai kekerasan yang terjadi di sejumlah kota besar di Indonesia, termasuk di Makassar yang menelan tiga korban jiwa. Korban jiwa itu muncul setelah gedung DPRD di Makassar dibakar massa.
Di Jakarta dan Surabaya, polisi menembakkan gas air mata ke arah para demonstran. Mereka menuturkan setelahnya tensi semakin meninggi.
BBC juga melaporkan demo di depan markas Brimob di Kwitang, Jakarta Pusat. “Polisi menembakkan gas air mata dari dalam markas dengan demonstran juga berusaha memblokade konvoi polisi dan melemparkan batu ke kendaraannya,” tulis media tersebut.
Media Thailand, Bangkok Post, menyoroti kemarahan pengemudi ojol yang menggelar aksi di depan kantor polisi, memperingatkan risiko kerusuhan lebih luas jika pemerintah gagal mengambil tindakan.
Reuters dan The New York Times menekankan peran mahasiswa dalam aksi protes, sementara The Guardian, Euronews, dan DW menyoroti bentrokan dengan aparat dan ketegangan sosial yang meningkat.
Laporan media Asia dan Australia, termasuk Nikkei Asia, South China Morning Post, CNA, ABC, dan The Sydney Morning Herald, menyoroti dampak demonstrasi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo dan penanganan aparat kepolisian.
Imbas demonstrasi yang melibatkan mahasiswa, pelajar, hingga pengemudi ojek online, membuat sejumlah negara mengeluarkan peringatan bagi warganya. Malaysia meminta warganya menghindari lokasi unjuk rasa dan mengikuti perkembangan melalui media lokal.
Singapura mendorong warga tetap waspada, menjauhi kerumunan, dan melakukan e-Registrasi melalui Kementerian Luar Negeri. Prancis dan Jepang mengimbau warganya berhati-hati dan menjauhi area berisiko, sementara Filipina, Amerika Serikat, dan Kanada juga mengimbau warganya menjauhi titik demonstrasi.
Sejak awal pekan hingga 30 Agustus, aksi unjuk rasa berlangsung panas di sejumlah kota. Di Jakarta, polisi menembakkan gas air mata dan meriam air untuk mengendalikan kerumunan. Sorotan media internasional menegaskan bahwa situasi di Indonesia kini menjadi perhatian global. (rmg/san)