SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Pernahkan anda membayangkan, ternyata pementasan wayang golek Sunda bisa dikolaborasikan dengan pementasan teater. Konon, cara ini dipercaya bisa membuat pementasan wayang menjadi lebih segar dan kekinian, karena tokoh – tokoh yang diceritakan tak hanya boneka kayu belaka, namun manusia dengan aneka ekspresinya khas pertunjukkan teater.
Sehingga, anak – anak muda diharapkan tertarik untuk menontonnya. Apalagi dalam pagelaran kali ini, cerita yang ditampilkan bukan cerita biasa – biasa saja, namun mencuplik kisah pada naskah Babad Banten, yang menceritakan awal kemunculan Kesultanan Banten dan meredupnya Kerajaan Sunda.
Hal itulah yang ditampilkan oleh Komunitas Wayang Nganjor Indonesia, Sabtu (18/10) malam di Panggung Seni Bale Budaya Pandeglang. Pertunjukkan ini adalah, lanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilaksanakan oleh Wayang Nganjor Indonesia yaitu, lokakarya penulisan lakon pedalangan dari naskah Babad Banten.
Kegiatan tersebut adalah, kegiatan pengalih aksara sehingga Babad Banten jadi acuan untuk membuat naskah lakon baru, yang selain bisa dipentaskan menjadi pertunjukkan wayang, juga bisa dipakai sebagai naskah drama oleh komunitas lainnya, atau oleh pelajar. Sehingga, akhirnya naskah Babad Banten menjadi lestari dan lebih dikenal oleh masyarakat.
Jadi dalam pementasan kali ini, yang bertajuk “Oemoen Dengan Sepoetjoek Soeratnja” (Umun Dengan Sepucuk Suratnya), Wayang Nganjor Indonesia menampilkan salah satu adegan paling epic yaitu, adegan pertarungan antara pendiri Kesultanan Banten Maulana Hasanuddin dengan Pucuk Umun atau pimpinan tertinggi (Raja) Sunda.
Namun, duel itu tak dilakukan secara fisik, tetapi diwakilkan oleh ayam jago peliharaan keduanya.
Baca Juga: Banten Lama Bakal Menjadi Titik Awal Rangkaian HPN 2026, Napak Tilas Di Tanah Jawara
Adegan duel ini, digambarkan dengan baik oleh dalang Aming Ajen yang lincah memainkan dua wayang golek serta kayon atau gunungan. Tak hanya lincah menggerakkan wayang goleknya, Aming yang dikenal sebagai dalang cilik ini juga, mahir membuat aneka suara sesuai tokoh wayang yang ia mainkan, sehingga wayang – wayang itu terlihat hidup.
Panggung menjadi semakin meriah, karena dialog yang dilontarkan oleh dalang dikombinasikan dengan dialog-dialog monolog tokoh Pucuk Umun yang dimainkan oleh Ketua Wayang Nganjor Indonesia Tirta Nugraha Pratama, dengan dua koleganya yaitu Fikri Pace sebagai Kapten Henrique Leme dan Farid Abenk sebagai Maulana Hasanudin.
Untuk diketahui, latar cerita dari pementasan ini adalah, cerita di Babad Banten ketika kerajaan Sunda mencoba menjalin hubungan dagang dengan Portugis, yang saat itu dipimpin oleh Alfonso De Albuquerque.
Hubungan itu, coba dijalin dengan cara mengirimkan surat melalui bawahan Alfonso yaitu Kapten Henrique Leme. Portugis sendiri bersemangat untuk menjalin hubungan dengan Sunda, karena saat itu, Kerajaan Sunda adalah salah satu produsen lada terbanyak di era tersebut.
Lada sendiri diketahui, sebagai produk unggulan dari kerajaan Sunda yang konon saat itu harganya lebih mahal dari emas. Oleh karena itu, menarik minat negara-negara lainnya untuk datang ke Banten demi bisa membeli lada dari Kerajaan Sunda.
Namun, ditengah upaya tersebut terdapat “bara dalam sekam” dalam hubungan keluarga antara pimpinan Sunda saat itu dengan kerabatnya, yang berada di Banten yaitu Maulana Hasanuddin yang lama – lama menimbulkan konflik keluarga dan perang saudara yang pada akhirnya meredupkan dan menghancurkan Kerajaan Sunda.
Baca Juga: Wayang Nganjor Indonesia Sukses Gelar Diplomasi Budaya Lewat Lakon Babad Banten di Sumedang
Namun di sisi lain, Banten yang tadinya merupakan daerah otonom di bawah kerajaan Sunda akhirnya memilih untuk memerdekakan diri dan membentuk Kesultanan Banten.
Kisah tersebut, makin dramatis karena selain dialog-dialog khas wayang golek juga ada nyanyian dari sinden, serta lantunan alat musik yang berbeda dari Pagelaran Wayang golek pada umumnya.
Beberapa alat musik modern seperti, simbal dan biola digunakan untuk musik latar serta menambah efek efek suara yang memperkuat adegan. Sorotan – sorotan lampu khas pertunjukan teater, juga mendukung ambiance pertunjukkan sehingga makin memikat.
Usai pagelaran wayang kolaboratif, acara tersebut ditutup dengan diskusi, antara para aktor sutradara serta para penulis naskah dan penonton yang hadir. (mardiana)
