Rabu, 20 Mei 2026
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Satelit News
Home Kolom

Tanpa Pesantren, Tak Akan Ada Hari Pahlawan

Oleh: Yana Karyana*

Oleh Deddy Maqsudi
Senin, 10 Nov 2025 15:47 WIB
Rubrik Kolom
Tanpa Pesantren, Tak Akan Ada Hari Pahlawan

HARI PAHLAWAN: Yana Karyana, Pegiat Sosial Pendidikan dan Ketua DPP Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren (PK-Tren) Indonesia). (DOK PRIBADI)

FacebookTwitterWhatsapptelegramLinkedinEmail

BELAKANGAN ini muncul kecenderungan yang mengkhawatirkan yaitu upaya sebagian pihak menafikan, bahkan menstigmatisasi peran pesantren dan para kiai dalam sejarah kebangsaan Indonesia. Mulai dari tayangan media yang menggambarkan pesantren secara negatif seperti kasus di salah satu program Trans7 beberapa waktu lalu, hingga narasi kelompok garis keras yang berusaha menggeser peran kiai dan santri dari panggung sejarah nasional.

Narasi seperti ini tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merusak fondasi identitas keindonesiaan. Pesantren bukan lembaga pinggiran dalam sejarah republik, ia adalah pusat pembentukan karakter bangsa. Dari rahim pesantren lahir semangat jihad, cinta tanah air, dan moderasi Islam yang menjadi penyangga utama keutuhan NKRI hingga hari ini.

Ironisnya, dalam banyak narasi publik, peran pesantren sering kali dipinggirkan. Padahal, tanpa pesantren, tak akan ada energi spiritual dan moral yang menopang perjuangan bangsa. Tanpa kiai dan santri, tidak akan ada kekuatan rakyat yang meledak dalam pertempuran 10 November 1945, peristiwa yang kemudian kita kenal sebagai Hari Pahlawan.

Pascaproklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Dunia internasional menolak mengakui kemerdekaan Indonesia dan menganggapnya sebagai negara boneka buatan Jepang. Di saat yang sama, pasukan Sekutu yang dipimpin Inggris mendarat di tanah air dengan dalih mengurus tawanan perang, namun membawa misi tersembunyi, mengembalikan Belanda berkuasa.

Presiden Soekarno yang menyadari ancaman itu mengutus perwakilan kepada KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng untuk meminta pandangan hukum Islam dalam menghadapi situasi tersebut. Pada 21–22 Oktober 1945, para kiai Nahdlatul Ulama berkumpul di Surabaya dan melahirkan keputusan monumental, Resolusi Jihad.

Fatwa KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa melawan penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia hukumnya fardhu ‘ain, kewajiban setiap muslim di daerah yang terancam. Fatwa itu segera disiarkan lewat menara masjid dan langar-langgar di Surabaya. Dalam waktu singkat, rakyat bergolak. Santri, petani, pedagang, dan masyarakat biasa berbondong-bondong mengangkat senjata. Mereka tidak digerakkan oleh propaganda politik, tetapi oleh iman, membela tanah air adalah bagian dari Iman (ibadah).

BeritaTerbaru

IMG_8130

Pengaruh Media Audio Visual untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif Berhitung Permulaan (1–10) Anak Usia 4–5 Tahun di PAUD HI Tunas Mandiri

Kamis, 11 Sep 2025 19:12 WIB
IMG-20250818-WA0030

80 Tahun Indonesia Merdeka Ala Kampung Santri; Napak Tilas Kemerdekaan Belajar Mengajar, Menjadikan Pesantren sebagai Kluster Ketahanan Pangan Nasional dan Dunia

Selasa, 19 Agu 2025 11:28 WIB
80 Tahun Merdeka: Saatnya Madrasah, Guru, dan Pendidikan Agama Nonformal Menjadi Prioritas Negara

80 Tahun Merdeka: Saatnya Madrasah, Guru, dan Pendidikan Agama Nonformal Menjadi Prioritas Negara

Kamis, 14 Agu 2025 15:07 WIB
Perempuan Banten di Persimpangan Jalan

Perempuan Banten di Persimpangan Jalan

Jumat, 1 Agu 2025 13:27 WIB

Empat hari setelah Resolusi Jihad, Surabaya berubah menjadi lautan semangat. Pada 26 hingga 29 Oktober 1945, rakyat menyerang pos-pos Inggris. Pertempuran itu mencapai puncak ketika Brigadir Jenderal Mallaby, komandan pasukan Inggris, tewas di Jembatan Merah. Inggris murka dan melancarkan serangan besar-besaran.

Puncaknya terjadi pada 10 November 1945. Kota Surabaya dibombardir dari darat, laut, dan udara. Ribuan santri dan rakyat gugur, tetapi mereka bertahan dengan semangat jihad yang tak padam. Pertempuran itu menjadi simbol keberanian rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaan, dan dunia pun akhirnya mengakui bahwa republik ini lahir dari perjuangan sejati, bukan hadiah penjajah.

Namun, sejarah sering kali tidak menulis peran pesantren secara utuh. Buku pelajaran kita jarang menyebut bahwa perlawanan 10 November berakar dari Resolusi Jihad. Padahal, tanpa fatwa itu, tidak akan ada mobilisasi rakyat sebesar itu. Resolusi Jihad menjadi detonator moral dan spiritual yang menyalakan nyali bangsa.

Sayangnya, di tengah tantangan ideologis hari ini, masih ada pihak yang berupaya mengaburkan jasa para ulama. Bahkan, ada yang berani menuding pesantren sebagai sumber intoleransi, padahal justru dari pesantrenlah lahir wajah Islam Nusantara yang ramah, terbuka, dan cinta tanah air.

Pesantren telah berkontribusi tidak hanya pada masa revolusi, tetapi juga dalam menjaga keutuhan bangsa hingga kini. Melalui pendidikan karakter, dakwah moderat, dan keteladanan moral, pesantren menjadi tembok penahan radikalisme dan ekstremisme yang mengancam sendi-sendi kebangsaan.

Kini, delapan dekade setelah fatwa jihad itu menggema, bangsa ini seakan berada di persimpangan antara menghargai akar sejarah atau melupakannya. Ironi terjadi ketika sebagian anak bangsa, yang hidup dalam kemerdekaan hasil darah para santri dan kiai, justru ikut menyebarkan stigma negatif terhadap pesantren. Ada yang menuding pesantren tertutup, ada yang menyebutnya tradisional dan kolot, bahkan ada yang menempatkannya dalam narasi ekstremisme. Padahal, pesantrenlah yang justru menjadi benteng terakhir melawan segala bentuk radikalisme dan disintegrasi bangsa.

Sudah saatnya kita jujur terhadap sejarah. Republik ini lahir bukan hanya dari diplomasi dan rapat-rapat elite, tetapi juga dari doa, darah, dan pengorbanan kaum santri. Resolusi Jihad bukan sekadar peristiwa masa lalu; ia adalah ruh kebangsaan yang menegaskan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman. Menghapus pesantren dari catatan perjuangan bangsa sama saja dengan memutus akar moral kemerdekaan itu sendiri.

Dalam konteks kekinian, peran pesantren tidak lagi di medan tempur bersenjata, melainkan di medan ideologi, moral, dan pendidikan. Pesantren harus terus menjadi mercusuar nilai, menyalakan cahaya keislaman yang ramah, kebangsaan yang inklusif, dan peradaban yang berakar pada nilai-nilai keikhlasan. Dan negara, sebaliknya, harus hadir bukan hanya untuk mengakui, tetapi juga melindungi pesantren dari distorsi, stigma, dan marginalisasi.

Karena sejarah telah membuktikan, tanpa pesantren, semangat jihad tak akan lahir, tanpa kiai dan santri, bangsa ini kehilangan arah moral dan tanpa nilai yang mereka wariskan, Indonesia bisa kehilangan jiwanya. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan Islam; ia adalah penjaga jiwa bangsa. Dari doa dan darah santri, Republik ini berdiri. (*)

*(Pegiat Sosial Pendidikan dan Ketua DPP Persaudaraan dan Kemitraan Pesantren (PK-Tren) Indonesia)

Tags: hari pahlawanpondok pesantrenresolusi jihadsantriYana Karyana
Share1TweetKirimShareShareKirim

Berita Terkait

IMG-20250722-WA0004
Kolom

Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Di Provinsi Banten Setelah Terbentuk Mau Dibawa Kemana ?

Selasa, 22 Jul 2025 09:23 WIB
IMG-20250720-WA0009
Kolom

Regulasi Apotek Desa, Harapan Baru Atau Angan-angan Baru?

Minggu, 20 Jul 2025 11:45 WIB
Surat Cinta untuk Bupati dan Wali Kota se-Banten, Janji Sekolah Gratis (2)
Headline

Surat Cinta untuk Bupati dan Wali Kota se-Banten, Janji Sekolah Gratis (2)

Selasa, 15 Jul 2025 17:35 WIB
Surat Cinta untuk Gubernur, Janji Sekolah Gratis (1)
Headline

Surat Cinta untuk Gubernur, Janji Sekolah Gratis (1)

Senin, 14 Jul 2025 18:48 WIB
Janji Pendidikan Gratis Banten: Manis di Bibir, Pahit di Madrasah
Kolom

Janji Pendidikan Gratis Banten: Manis di Bibir, Pahit di Madrasah

Senin, 14 Jul 2025 18:33 WIB
IMG-20250709-WA0096
Kolom

Kebijakan Pendidikan Gratis Di Provinsi Banten Bukan Sekedar Nol Rupiah

Rabu, 9 Jul 2025 21:19 WIB
Penghargaan Paritrana Award Kab Taangerang
Kabupaten Tangerang Meraih Penghargaan Top Regency In Urban inovation (Ir. Bambang Sapto Nurjahja, MM., MT)
Kabupaten Tangerang Meraih Penghargaan Top Regency In Urban inovation (Dra. Ratih Rahmawati, MM)
Kabupaten Tangerang Meraih Penghargaan Top Regency In Urban inovation (Hendri Hermawan, SH., M.Si)

Berita Pilihan

Dibantu Dinsos dan Baznas Tangsel, Tunggakan Biaya RS Korban Penusukan Akhirnya Lunas

Dibantu Dinsos dan Baznas Tangsel, Tunggakan Biaya RS Korban Penusukan Akhirnya Lunas

Selasa, 19 Mei 2026 06:45 WIB
KPAI Catat 426 Kasus Anak

KPAI Catat 426 Kasus Anak

Senin, 18 Mei 2026 16:37 WIB
Hubungan Pratama Arhan-Inka Andestha Akhirnya Go Public

Pratama Arhan dan Inka Andestha Akhirnya Go Public

Senin, 18 Mei 2026 17:33 WIB
IMG-20260519-WA0022

Meski Tak Diguyur Hujan, Perumahan Bumi Serpong Residence Tangsel Kebanjiran

Selasa, 19 Mei 2026 13:30 WIB
Tahun Ini Pemkab Serang akan Terima Setoran Rp5,7 M Lebih dari PT KTI

Tahun Ini Pemkab Serang akan Terima Setoran Rp5,7 M Lebih dari PT KTI

Kamis, 14 Mei 2026 11:16 WIB
WhatsApp Satelit News
Ikuti WA Channel Satelit News
Google News Satelit News
Ikuti Kami di Google News

Facebook

SatelitNewsIDN

Youtube

@SatelitNewsIDN

Instagram

satelitnewsid

Pinterest

SatelitNewsID

Linkedin

SatelitNews

Tiktok

@satelitnewsofficial
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Syarat & Ketentuan
  • Pedoman
  • Kode Etik

Jauh Menjangkau Jernih Bersuara.
© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.

Selamat datang kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Password Yang Terlupakan?

Ambil kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Log In

Add New Playlist

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Beranda
  • Metro Tangerang
    • Kabupaten Tangerang
    • Kota Tangerang
    • Kota Tangsel
  • Banten Region
    • Kabupaten Lebak
    • Kabupaten Pandeglang
    • Kabupaten Serang
    • Kota Cilegon
    • Kota Serang
    • Pemprov Banten
  • Bola & Sport
  • Bisnis
  • Ragam
    • Sosok
    • Life Style
    • Wisata
    • Kuliner
  • Edukasi
  • Nasional
  • Foto
  • Video
  • Kolom
  • Koran

© 2025 Satelit News - All Rights Reserved.