SATELITNEWS.COM, SERANG – Tidak semua orang mau menjadi relawan. Namun dari jumlah yang sedikit itu, perannya sangat berdampak dalam membantu sesama.
Eksistensi mereka, dilihat hanya ketika kondisi darurat. Selebihnya, aktivitas mereka dianggap sama dengan para pekerja yang rutin menerima upah. Padahal, kerja relawan adalah kerja-kerja tanpa pamrih.
Bisa membantu sesama, merupakan kepuasan tersendiri yang tak bisa dihitung dengan angka-angka rupiah. Relawan seperti tangan-tangan malaikat, yang merangkul masyarakat, membawa pada suatu perubahan perbaikan, tak ternilai karena begitu berharga.
Pemerintah Daerah (Pemda), seharusnya bisa merangkul relawan menjadi bagian dari stakeholder pembangunan. Dengan peran-perannya yang cukup strategis, dukungan Pemda terhadap eksistensi relawan akan semakin menguatkan budaya gotong royong antar sesama di Provinsi Banten.
Ketua Pokja Relawan Banten Lulu Jamaludin menilai, selama lebih dari 15 tahun menjadi relawan, dirinya melihat betapa besar peran relawan dalam membantu masyarakat di titik paling kritis.
Namun peran itu seakan tidak ada yang mengapresiasi, kendatipun itu sama sekali tidak Lulu harapkan.
Baca Juga: Sampah Rumah Tangga Cemari Sungai Di Kota Serang, Relawan Usulkan Pemberlakuan Sanksi
“Setidaknya, di hari relawan internasional saat ini saja,” kata Lulu, yang juga Direktur Relawan Fesbuk Banten News, Selasa (2/12/2025).
Ia menegaskan, relawan di Banten bekerja tanpa menunggu pujian, namun pengakuan simbolis dari pemerintah sangat penting untuk menjaga semangat dan motivasi ribuan relawan di lapangan.
“Mereka tidak meminta seremoni besar. Setidaknya, ucapan resmi atau baliho di pusat pemerintahan, media sosial dan media luar ruang sebagai tanda bahwa pemerintah hadir dan peduli. Ini bentuk penghormatan paling dasar,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Lulu menyayangkan sikap para kepala daerah, yang dianggap tidak memberi ruang penghormatan terhadap perjuangan relawan, terutama di hari yang seharusnya menjadi momentum refleksi dan apresiasi.
Lulu mengingatkan para kepala daerah se-Banten, untuk lebih peka terhadap keberadaan relawan, mengingat banyaknya aktivitas kemanusiaan di wilayah tersebut mulai dari bantuan bencana, pendampingan pasien tidak mampu, hingga kegiatan sosial yang setiap hari dilakukan tanpa publikasi besar.
“Relawan bekerja ketika banyak pihak memilih diam. Mereka ada untuk masyarakat. Yang kami harapkan hanya pengakuan dan perhatian yang wajar. Hari Relawan Internasional bukan sekadar seremonial global, tapi momentum bagi pemerintah daerah untuk menunjukkan empati dan apresiasi,” tegas Lulu.
Baca Juga: Tumpukan Sampah Sempat Menyumbat Aliran Sungai Cibanten Serang
Ia berharap, momentum ini menjadi evaluasi bagi pemerintah daerah agar ke depan lebih menghargai keberadaan relawan serta membangun kolaborasi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Dengan absennya ucapan dan kegiatan peringatan HRI tahun ini, para relawan di Banten merasa pemerintah daerah masih belum menempatkan gerakan kerelawanan sebagai bagian penting dalam pembangunan sosial. Namun demikian, mereka tetap berkomitmen melanjutkan kerja-kerja kemanusiaan.
“Terlepas dari ada atau tidaknya penghargaan dari pemerintah,” pungkasnya. (luthfi)
