SATELITNEWS.COM, CIPUTAT—Beragam metode dilakukan untuk mengolah sampah sejak hulu di Kota Tangerang Selatan. Salah satunya adalah Teba Komposter Alami, sebuah metode pengelolaan sampah organik yang diadopsi dari kearifan lokal masyarakat Bali.
Metode ini diperkenalkan di Kantor Kecamatan Ciputat, Rabu (17/12). Penggiat Lingkungan Tangerang Selatan (Tangsel), Anjar Deliawan menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk kontribusi masyarakat dalam membantu pemerintah mengatasi persoalan sampah, khususnya sampah organik yang selama ini mendominasi timbunan sampah rumah tangga.
“Konsentrasi kami adalah membantu pemerintah dengan solusi konkret. Sampah organik itu jumlahnya paling besar, dan kalau tidak dikelola pasti menimbulkan bau serta gangguan lingkungan,” ujar Anjar saat mendemonstrasikan Teba di Kantor Kecamatan Ciputat, Rabu (17/12).
Perkenalan metode itu juga dihadiri mulai dari perwakilan tiap RW, hingga Lurah yang masuk wilayah Kecamatan Ciputat. Anjar warga Pamulang yang memiliki segudang pengalaman dalam mempelajari penanganan sampah, menjadi pemateri utama memberitahu bagaimana Teba bekerja.
Teba komposter merupakan lubang tanah yang berfungsi sebagai tempat penguraian alami sampah organik. Konsep ini meniru kebiasaan masyarakat Bali yang membuang sampah organik ke dalam lubang tanah atau tebe. Program ini kini mulai digelorakan di Tangsel agar masyarakat dapat berperan aktif dalam mengelola sampah dari sumbernya.
Anjar menjelaskan, secara teknis teba komposter dibuat menyerupai sumur dengan kedalaman sekitar 2,5 meter. Jika berbentuk kotak, ukurannya sekitar 1 x 1 meter, sementara untuk bentuk bulat memiliki diameter sekitar 80 sentimeter.
Baca Juga: Hingga Hari Keempat, Kebakaran Tumpukan Sampah di Pinang Belum Padam
“Dari perhitungan kami, satu teba ukuran 2,5 meter bisa menampung hingga 2,5 ton sampah organik. Nantinya sampah akan menyusut hingga 70 persen. Artinya, dari 1 ton sampah, hasil akhirnya sekitar 300 kilogram,” jelasnya.
Proses penguraian berlangsung secara alami selama 6 hingga 8 bulan, tergantung jenis sampah organik yang dimasukkan. Untuk sistem berkelanjutan, setiap wilayah dianjurkan memiliki minimal dua teba agar dapat digunakan secara bergantian.
“Untuk mendapatkan hasilnya variatif, tergantung sampah organik apa yang masuk. Apakah banyak nasinya, apakah banyak daunnya, apakah banyak buahnya. secara umum kita bisa biarkan teba itu 6 sampai 8 bulan. Di usia 8 bulan atau di usia 6 bulan, itu dimatangkan sampai usia 8 bulan,” katanya.
“Teba itu harus punya 2 setiap wilayah, supaya apa, ketika yang satu ini penuh, kita pindah ke yang satu yang kosong. Ketika ini dipanen, yang kosong kita isi. Terus berputar, gitu, seperti itu,” sambungnya.
Hasil akhir dari teba komposter berupa humus yang kaya unsur hara. Pupuk alami ini telah dimanfaatkan oleh Penggiat Lingkungan Tangsel sebagai media tanam dan pupuk untuk program Tamsiruga (Tanaman Konsumsi Rumah Tangga).
Tanaman seperti cabai, tomat, terong, kucai, dan sayuran lainnya telah diuji menggunakan pupuk teba dengan hasil yang cukup baik. Untuk mempercepat proses pembusukan, sampah organik dapat disiram bioaktivator cair yang terbuat dari bahan alami seperti molase, batang pisang, dan nanas. Anjar menegaskan bahwa keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada dukungan bersama.
Baca Juga: Kasus RT Jadi tersangka Usai Tegur Warga Bakar Sampah, Benyamin Minta Proses Hukum Dijalani
“Saya punya prinsip, kami di penggiat Lingkungan Tangsel punya prinsip satu we can do everything, semua bisa kita lakukan. Masalahnya satu, mau atau tidak, ya kan? Nah, ketika ditanya, kita kira-kira beres nggak sampah ini? Kalau mau mah bisa,” bebernya.
Hal senada disampaikan Ketua RW 008 Kelurahan Ciputat, Iwan Rosyadi (58). Ia menilai teba komposter sebagai solusi efektif untuk mengurangi
ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA), terlebih sistem open dumping kini sudah dilarang pemerintah pusat.
“Program ini menurut saya sangat efektif. Kalau ini berjalan, kita tidak lagi bergantung pada TPA. Sampah organik yang selama ini menimbulkan bau bisa langsung diolah di wilayah,” ungkapnya.
Kata dia, RW 008 Ciputat bahkan telah merencanakan penerapan sistem ini sejak dua bulan lalu, bersamaan dengan pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah. Menurut Iwan, program ini idealnya diterapkan secara komprehensif di seluruh Tangerang Selatan, dimulai dari tingkat kecamatan, kelurahan, hingga RW.
“Kalau mau, sebenarnya bisa. Tinggal kemauan dan keberanian mencoba. Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?” katanya.
Ia berharap teba komposter dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan sampah, sekaligus mengubah kebiasaan masyarakat agar mulai memilah dan mengurangi sampah sejak dari rumah.
Sebagai informasi, sepekan terakhir Kota Tangerang Selatan tengah menjadi sorotan soal banyaknya penumpukan sampah di tiap sudut jalan. Penyebabnya dikarenakan tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang tengah dilakukan penataan, sehingga pengangkutan sampah terhenti. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan bisa mengurangi sampah sampah ke TPA jika dilakukan secara konsisten dan menyeluruh. (eko)
























