SATELITNEWS.COM, SERANG – Hujan dengan intensitas sedang, yang mengguyur sebagian besar wilayah Kota Serang kemarin, menyebabkan sejumlah titik banjir. Selain sedimentasi aliran sungai, banjir itu juga disebabkan masih banyaknya Bangunan Liar (Bangli) di sepanjang lahan sepadan sungai.
Di Kecamatan Kasemen misalnya, luapan aliran Sungai Cibanten itu merendam sekitar 134 warga Kampung Kroya, Desa Banten, Kecamatan Kasemen. Banjir juga merencam Kawasan peziarahan di Kawasan Banten Lama.
Kepala BPBD Provinsi Banten Lutfi Mujahidin mengatakan, intensitas hujan sejak Jumat sore 2 Januari 2026 menyebabkan drainase meluap dan membanjiri pemukiman warga. Selain itu, tersumbatnya drainase oleh sampah juga diduga menjadi penyebab air meluap masuk kepemukiman warga.
“Disini terdampak banjir karena drainase yang mampet hujan yang besar,” katanya, Sabtu (3/1/2026).
Lutfi menjelaskan, banjir seperti ini dapat dicegah dengan melakukan perawatan rutin pada sistem drainase dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.
“Ada 134 Kepala Keluarga dengan 406 jiwa terdampak akibat banjir ini, kita coba lakukan efakuasi saat hujan reda,” pungkasnya.
Saat ini kondisinya kondisi air masih tinggi. Ia berharap semoga hujannya segera reda banjirnya segera surut sehingga kita bisa langsung mengevakuasi atau menolong warga yang terkena banjir.
Di titik lain, banjir juga terjadi di Perumahan Bumi Agung Permai, Kelurahan Unyur, Kota Serang yang disebabkan oleh sumbatan di gorong-gorong jalur Tol Tangerang-Merak.
Walikota Serang Budi Rustandi mengaku, sumbatan itu yang menjadi penyebab kawasan tersebut kerap terjadi banjir Ketika hujan dengan intensitas sedang sampai tinggi turun.
Karena warganya yang merasa terus dirugikan, pada bulan April 2025 lalu Budi sudah berkirim surat kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) untuk bersama-sama melakukan penanganan banjir di wilayahnya.
“Saya kesal BPJT tidak pernah membalas surat dari saya bahwa saya pastikan saya melihat mereka tidak ada kolaborasinya dengan pemerintah khususnya provinsi dan Kota Serang,” tegasnya.
Menurutnya, tidak ada respon dari BPJT menandakan ketidakmampuan dalam berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pemerintah daerah. Padahal seperti kita lihat bersama gorong-gorong dibawah jalan tol adalah bagian dari kewenangan BPJT.
“Insya Allah hari Senin saya akan mengundang mereka,” kata Budi.
Meski begitu, untuk sementara pihak pemerintah kota Serang bersama pemerintah provinsi akan membangun sodetan, agar air tidak meluap kepemukiman warga.
“Ini kita dibantu oleh Provinsi,” ungkapnya. (luthfi)