SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) harusnya menjadi sebuah fasilitas pengelolaan sampah skala komunal yang mengolah sampah dari sumbernya, dengan prinsip mengurangi hingga mendaur ulang untuk mengurangi volume sampah.
Namun, hal yang berbanding terbalik terlihat di TPS3R 17 Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel). Dimana, sampah yang datang tidak dilakukan pengelolaan, melainkan langsung dibakar pada ruang terbuka.
Asap hasil pembakaran TPS3R di Jalan Keramat RT 005 RW 017 itupun dikeluhkan oleh masyarakat sekitar. Aktivitas pembakaran yang berlangsung hampir 24 jam itu menimbulkan asap pekat dan bau menyengat hingga ke permukiman warga yang berjarak hanya sekitar 200 meter.
Pantauan pada, Jumat (9/1/2026) nampak aktivitas pembakaran tengah berlangsung. Sampah yang datang melanpaui kapasitas akibat ditutupnya tempat pembuangan akhir (TPA) Cipeucang, sampah akhirnya menumpuk hingga mau tidak mau dibakar jadi solusinya.
Wanda (60), pengelola TPS3R mengatakan pihaknya tidak punya pilihan lain selain membakar sampah yang terus berdatangan. Bahkan, banyaknya sampah telah menimbun kantornya.
“TPS3R sudah overload. Karena sudah tidak muat lagi, sampah terpaksa dibakar. Kantor saja sudah tertutup sampah. Saya bingung mau buangnya ke mana,” ujarnya.
Baca Juga: Kasus RT Jadi tersangka Usai Tegur Warga Bakar Sampah, Benyamin Minta Proses Hukum Dijalani
Kata dia, sebelum terjadinya darurat sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel rutin mengangkut sampah ke TPA Cipeucang. Namun, pengangkutan telah lama berhenti semenjak penutupan. Ia dan pekerja lainnya mengaku bingung apa yang harus dilakukan.
“Saya sudah minta ke DLH supaya seminggu sekali diambil, tapi tidak pernah datang. Jadi sampah terus menumpuk. Di TPS3R ada empat orang petugas, namun saat ini sedang bingung mau diapakan sampah yang sudah menumpuk,” sebutnya.
Ia menyebut pihak kecamatan Ciputat sudah mengetahui kondisi ini dan sedang berupaya mencari solusi bersama Dinas Lingkungan Hidup.
“Saat ini camat sedang mencari solusinya agar sampah bisa diangkut,” harapnya
Sementara itu, warga sekitar mulai merasakan dampak kesehatan akibat asap pembakaran sampah. Muthia Angraini (42), warga yang rumahnya berada dekat TPS3R ini mengaku sangat terganggu dengan aktivitas pembakaran, lantaran sang anak kerap batuk-batuk.
“Sekarang hampir 24 jam ada asap. Buka jendela rumah saja sudah bau. Saya punya penyakit asma, jadi sering kambuh. Anak-anak juga sering batuk,” jelasnya.
Baca Juga: Empat Ton Sampah Diangkut dari Situ Pamulang
Ia mengaku sudah melapor ke RT dan Dinas Lingkungan Hidup Tangsel melalui media sosial, namun belum ada penanganan.
“Kita sudah lapor, tapi tidak ada feedback. Sementara asapnya tiap hari masuk rumah,” ungkapnya.
Warga berharap Pemkot Tangerang Selatan segera turun tangan lantaran masalah ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga membahayakan kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar TPS3R. (eko)
























