SATELITNEWS.COM, SERANG— Provinsi Banten masih berada dalam bayang-bayang bencana dan cuaca ekstrem. Masyarakat di Provinsi Banten diminta untuk tetap waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Mengingat, musim penghujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem akan melanda Provinsi Banten hingga akhir Januari 2026 mendatang.
Koordinator Data dan Informasi pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Banten, Trian Asmarahadi menjelaskan bahwa kondisi cuaca saat ini berkaitan erat dengan fase musim penghujan.
“Curah hujan cukup bervariasi mulai dari sedang, lebat hingga ekstrem. Secara umum, puncak musim hujan ini hingga akhir Januari,” jelasnya, Selasa (13/1).
Dia menjelaskan, untuk Februari hingga Maret, Banten masih akan dilanda hujan namun dengan intensitas rendah. Kemudian, di bulan April mendatang mulai memasuki musim pancaroba.
Trian mengatakan, Kabupaten Pandeglang dan Lebak menjadi daerah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi baik banjir hingga tanah longsor.
“Karena di Pandeglang dan Lebak curah hujan yang mengguyur cukup lebat dan topografinya pegunungan,” katanya.
Baca Juga: Musda Perdana Apdesi Merah Putih, Muhibbin : Diharapkan Wujudkan Asta Cita Presiden
Dia mengimbau agar masyarakat terus memantau informasi terkini yang di rilis oleh BMKG terhadap perubahan cuaca di Provinsi Banten.
“Karena masih banyak potensi kebencanaan yang tentan terjadi. Oleh karenanya, dihimbau agar masyarakat untuk tetap waspada. Karena kemungkinan bencana hidrometeorologi masih berpotensi kembali terjadi,” tegasnya.
Berdasarkan data Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II mencatat curah hujan sangat tinggi, dengan intensitas mencapai 103 milimeter per hari di Kabupaten Serang, 139 milimeter per hari di Kabupaten Pandeglang, serta 130 milimeter per hari di Kabupaten Serang.
Lonjakan curah hujan tersebut bukan tanpa sebab. Kepala BBMKG Wilayah II, Hartanto, menjelaskan, dinamika atmosfer dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kondisi yang tidak bersahabat.
Angin Monsun Asia terpantau lebih kuat dari kondisi normal, sementara daerah tekanan rendah di Samudra Hindia selatan Jawa Timur membentuk area konvergensi yang berdampak langsung ke wilayah Banten.
Situasi ini diperparah oleh kelembapan udara yang tinggi dan atmosfer yang relatif labil, sehingga mendukung terbentuknya awan-awan hujan dengan skala lokal yang intens.
Baca Juga: Incar Gelar Juara, Pemkab Tangerang Buka Seleksi Kafilah MTQ Banten ke-24
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat potensi cuaca buruk belum akan mereda dalam waktu dekat. BBMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih akan terjadi pada periode 13 hingga 18 Januari 2026.
Wilayah yang diprediksi terdampak meliputi Kabupaten Pandeglang bagian barat dan selatan, Kabupaten Lebak bagian selatan, Kabupaten Serang bagian barat dan timur, Kota Serang, serta Kabupaten Tangerang bagian barat dan utara.
Selain hujan lebat, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi angin kencang yang dapat menyertai. Hartanto menegaskan, pentingnya kewaspadaan di tengah kondisi cuaca yang dinamis ini.
“Menghadapi potensi cuaca tersebut, kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau informasi resmi melalui aplikasi InfoBMKG dan kanal media sosial @bmkgwilayah2 agar dapat mengantisipasi potensi cuaca ekstrem,” ujarnya.
Dengan intensitas hujan yang terus meningkat dan prakiraan cuaca yang masih mengkhawatirkan, BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat untuk bersiap menghadapi kemungkinan dampak lanjutan, mulai dari genangan hingga bencana yang lebih serius. (rmg)

















