SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Pondasi tanggul Bendungan bersejarah Badudun, yang terletak di Kampung Bantar Panjang, Desa Banyubiru, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, amblas.
Kerusakan ini, bukanlah yang pertama karena kejadian serupa pernah terjadi pada Juni 2024 lalu. Namun hingga kini, tak ada perbaikan yang memadai.
Akibat kejadian itu, masyarakat menjadi was was karena lokasi itu saat ini dijadikan sebagai objek wisata air oleh masyarakat setempat, dan banyak dikunjungi warga.
Selain merusak dinding tanggul bendungan, amblasnya pondasi tersebut juga merusak bagian tangga yang dipergunakan warga untuk turun ke area aliran air bendungan.
Welly, warga Komplek Bumi Kalanganyar Kecamatan Labuan, mengatakan saat ia berkunjung ke Bendungan Badudun beberapa waktu lalu, ia sudah menduga bahwa kejadian amblas dan longsornya pondasi tanggul akan terjadi.
“Soalnya udah kelihatan retak dan pecah-pecah gitu, apalagi sebelumnya emang udah rusak tapi tidak diperbaiki dengan sempurna. Cuma semacam ditambal gitu,” katanya, Jumat (16/1/2026).
Baca Juga: Lestarikan Laut Dan Budaya Melalui Tasyakuran Ruwat Laut Carita 2026
Apalagi menurut Welly, daerah tempat bendungan itu berada dan Kecamatan Labuan pada umumnya sudah hampir seminggu ini selalu diguyur hujan, sehingga ia menduga pondasi tanggul yang sudah tua itu amblas karena tidak kuat menahan tanah yang berubah menjadi lebih berat akibat diguyur hujan berhari-hari.
“Mohon segera diperbaiki, soalnya lokasi Bendungan ini adalah lokasi wisata. Jadi kami masyarakat, sangat khawatir kalau ada longsor seperti ini bisa membahayakan pengunjung yang datang,” tambahnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Bendungan Badudun ini adalah bendungan yang bersejarah yang diduga dibangun di era pemerintahan Regent atau Bupati Caringin di era Tubagus Wiradjadja, atau lebih dikenal sebagai Regent Bonchel yang menjabat pada tahun 1840 silam.
Bendungan ini juga, dikenal sebagai Bendungan Cisurog karena daerah irigasinya dinamai dengan daerah irigasi Cisurog. Bendungan ini mengairi persawahan di tiga Desa yaitu, Desa Caringin, Teluk dan Banyubiru, seluas kurang lebih 115 Ha.
Bendungan ini diduga dibangun oleh Belanda, karena dahulu di Desa Banyubiru diketahui ada kanal-kanal sungai yang sengaja dibangun untuk keperluan pertanian.
Apalagi, lokasi tersebut diketahui sebagai area yang termasuk wilayah perkotaan Kabupaten Banten Kulon, yang beribukota di Caringin.
Baca Juga: Fantastis, Anggaran Revitalisasi Situ Cikedal Mencapai Rp9,7 Miliar
Kanal-kanal itu, mengatur pengairan dari Sungai Caringin atau Cicaringin, Cisanggoma dan Cikande.
Dari ketiga sungai tersebut, yang paling besar debit air dan luasnya adalah Cisanggoma. Bahkan muara Sungai Cisanggoma yang berada di Caringin, diduga bisa dilayari oleh kapal-kapal besar dari Batavia.
Namun kanal tersebut hancur, saat Gunung Krakatau meletus pada 1883 silam, yang menghilangkan aliran Sungai Caringin atau Cicaringin dan malah bersatu dengan aliran Sungai Cisanggoma yang berhulu di Gunung Karang, Aseupan, dan Pulosari, yang masuk wilayah Kecamatan Mandalawangi.
Sementara, aliran Cicaringin menjadi makin sempit. Aliran Cisanggoma inilah, yang kini mengalir melintasi Desa Banyubiru termasuk yang mengalir ke Bendungan Badudun. (mardiana)
