SATELITNEWS.COM, SERANG – Kerugian para petani di Banten akibat puso alias gagal panen, membengkak. Sebelumnya, Dinas Pertanian menghitung kerugian sekira Rp11 Miliar, setelah dihitung ulang, kerugian diperkirakan mencapai Rp46,8 Miliar.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, areal persawahan yang terkena dampak banjir dan mengalami puso sekira 1.101,5 hektare. Lahan itu tersebar disemua wilayah di Provinsi Banten.
Dari luasan lahan itu, pihaknya melakukan penghitungan besaran kerugian para petani di Provinsi Banten. Sebelumnya, penghitungan yang dilakukan Dinas Pertanian hanya sekira Rp11 miliar berdasarkan taksiran modal yang dikeluarkan para petani.
Perhitungan kerugian ekonomis terdampak puso, itu lanjutnya, berdasarkan kehilangan hasil produksi padi tingkat provinsi menggunakan update data insidentil puso sesuai persi pemahaman UPTD BPTPHP.
“Data puso 1.101,5 hektare lebih, data biaya agroinfut atau produksi budidaya padi rata-rata kabupaten/kota Rp10 juta per hektare dengan dengan modal. Maka kerugian petani Rp11 Miliaran,” katanya, Kamis (29/1/2026).
Setelah Dinas Pertanian melakukan penghitungan ulang, kerugian para petani ternyata semakin membengkak. Perhitungan real kerugian ekonomis akibat puso dengan memasukan semua variabel, yaitu total luasan lahan yang mengalami puso, dikalikan rata-rata produksi, dan dikalikan harga rata-rata gabah.
Baca Juga: Pemprov Banten Kekurangan Penyuluh Pertanian Berstatus PNS
Berdasarkan data yang ada pada kita, rata-rata hasil produksi gabah setiap satu hektare sebanyak 5 ton. Kemudian dikalikan dengan harga rata-rata gabah Rp6.500 per kilogram, dan dikalikan dengan luasan lahan yang terkena puso.
“Dari perhitungan itu, kita sudah bisa melihat kerugiannya besar, yaitu sampai Rp35,798 miliar bagi seluruh petani di Banten yang mengalami puso,” ujarnya.
Agus mengatakan, jumlah tersebut diakumulasikan dengan modal awal yang dikeluarkan oleh para petani untuk menggarap lahan mereka. Sehingga ditemukanlah total kerugian yang dialami para petani, yaitu sampai Rp46,8 Miliar.
“Kerugian Rp46,8 miliar itu berasal dari potensi kerugian ditambah dengan kerugian real. Jadi kerugian awal Rp11 miliar ditambah Rp35,798 miliar. Maka total kerugian seluruhnya Rp46,8 Miliar,” tukasnya.
Agus mengatakan, untuk sementara pihaknya baru bisa menyediakan bantuan benih untuk para petani yang mengalami gagal panen karena puso. Bantuan itu, diserahkan langsung kepada para petani yang mengalami kerugian.
“Sementara ini bantuan itu yang baru bisa dilakukan, bantuan itu hanya untuk mereka yang mengalami puso. Kalau untuk bantuan yang lain belum,” ujarnya.
Baca Juga: Bidik 52 Ribu Ton, Banten Ekspansi Jagung 9.000 Hektare
Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten Nasir M Daud mengatakan, meski terjadi puso di semua wilayah di Banten, namun hal itu tidak berdampak besar terhadap ketersediaan pangan di Banten.
“Kalau dibilang tidak berdampak, tentu enggak juga. Dampak sudah pasti ada, tetapi kita sudah ada stok beras untuk mengantisipasi hal ini,” ungkapnya.
Nasir mengatakan, pihaknya juga menyediakan bantuan beras bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk para petani yang mengalami gagal panen, karena dampak banjir beberapa waktu lalu.
“Jadi bantuan beras itu bisa dikeluarkan, bahkan untuk nelayan juga kita berikan bantuan. Dan bantuan juga bisa dikeluarkan untuk penanganan kebencanaan, dan banjir ini masuk,” imbuhnya. (adib)
























