SATELITNEWS.COM, GAZA–Gencatan senjata di Jalur Gaza kembali menunjukkan kerapuhannya. Serangkaian serangan udara Israel sejak Jumat (30/1) malam hingga Sabtu (31/1) siang waktu setempat menewaskan sedikitnya 32 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya.
Serangan itu menyasar fasilitas kepolisian, kawasan permukiman padat, serta tenda-tenda pengungsian. Lokasi-lokasi itu selama ini menjadi tempat berlindung terakhir warga sipil.
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di kawasan Sheikh Radwan, Gaza City bagian utara. Sebuah pusat kepolisian yang dikelola otoritas dalam negeri Hamas runtuh dihantam serangan udara.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan sedikitnya 14 orang tewas dalam serangan tersebut, sementara sejumlah korban lain mengalami luka berat. Beberapa orang masih dilaporkan tertimbun di bawah reruntuhan bangunan.
Menurut sumber keamanan Palestina, korban tewas di lokasi itu termasuk empat tahanan dan tiga polisi perempuan. Bangunan yang menjadi sasaran berada di tengah kawasan permukiman, sehingga gelombang ledakan juga merusak rumah-rumah di sekitarnya dan memperluas dampak serangan ke warga sipil yang tidak berada di dalam fasilitas tersebut.
Serangan lain dilaporkan terjadi di kawasan al-Nasr, Gaza City bagian barat. Sebuah drone Israel meluncurkan setidaknya satu rudal ke arah sekelompok warga Palestina, menewaskan tiga orang.
Di wilayah selatan, sebuah tenda pengungsian di kawasan Asdaa, Khan Younis utara, menjadi sasaran serangan yang menewaskan tujuh anggota keluarga Abu Hadaied, termasuk perempuan dan anak-anak. Tiga anggota keluarga lainnya dilaporkan mengalami luka parah.
Basal juga melaporkan lima korban tewas akibat serangan terhadap sebuah gedung apartemen di kawasan al-Rimal, Gaza City barat. Korban di lokasi ini termasuk seorang perempuan dan dua anak.
Sementara itu, di Khan Younis, pesawat tempur Israel mengebom gedung administrasi kamp Ghaith yang menampung puluhan pengungsi. Meski penghuni telah menerima peringatan untuk mengungsi, serangan tersebut tetap memicu kepanikan luas di kamp.
Fasilitas kesehatan di Gaza kembali berada di bawah tekanan. Direktur Kompleks Medis Al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, mengatakan lebih dari 30 orang terluka dalam serangan terbaru, dengan sebagian besar korban memerlukan tindakan operasi. Kondisi rumah sakit yang kekurangan sumber daya membuat penanganan korban dilakukan dalam situasi darurat.
Israel menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah menargetkan empat komandan Hamas, sejumlah militan lainnya, fasilitas penyimpanan dan produksi senjata, serta dua lokasi peluncuran roket di Jalur Gaza bagian tengah.
Menurut IDF, tindakan itu dipicu oleh insiden di Rafah timur, ketika delapan militan teridentifikasi keluar dari sebuah terowongan. Hal itu dinilai sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Hamas membantah klaim tersebut. Dalam pernyataannya, Hamas menyebut tudingan Israel tidak benar dan menyesatkan, serta menilai pengeboman yang terus berlangsung sebagai pelanggaran terang-terangan dan berulang terhadap perjanjian gencatan senjata.
Hamas juga menyerukan kepada komunitas internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengecam serangan tersebut, mengambil langkah konkret untuk menghentikannya, meminta pertanggungjawaban para pemimpin Israel, serta mengakhiri apa yang disebutnya sebagai “kebijakan impunitas” yang mendorong kekerasan lebih lanjut.
Sehari sebelumnya, militer Israel mengumumkan penangkapan seorang komandan senior Batalion Rafah Timur Hamas dalam operasi di Rafah timur. Israel menyatakan operasi bersama badan keamanan dalam negeri Shin Bet masih berlanjut untuk melacak dan membunuh militan lain yang melarikan diri.
Otoritas kesehatan Gaza melaporkan bahwa sejak diberlakukannya gencatan senjata, sedikitnya 509 warga Palestina tewas dan 1.409 lainnya terluka akibat tembakan Israel. Secara keseluruhan, sejak Oktober 2023, jumlah korban di Jalur Gaza telah mencapai 71.769 orang tewas dan 171.251 luka-luka. (xan)