SATELITNEWS.COM, LEBAK–Kunjungan wisata edukasi ke Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, sepanjang tahun 2025 melampaui target yang telah ditetapkan. Capaian tersebut berdampak langsung pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor retribusi museum.
Kepala Museum Multatuli Rangkasbitung, Ubaidilah Muhtar, mengatakan pada 2025 pihaknya menargetkan kunjungan sebanyak 26 ribu orang. Namun realisasi kunjungan tercatat mencapai 29.765 orang atau melampaui target dan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, capaian kunjungan tahun 2025 berhasil melampaui target. Total ada 29.765 pengunjung, terdiri dari 16.325 pelajar, 13.343 pengunjung umum, dan 86 orang wisatawan mancanegara,” kata Ubaidilah, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, jumlah tersebut juga mengalami peningkatan sekitar 1.050 orang dibandingkan tahun 2024. Meski demikian, tarif retribusi masuk museum tetap tidak mengalami perubahan. “Untuk tiket masih sama, anak-anak Rp1.000, dewasa Rp2.000, dan wisatawan mancanegara Rp15.000,” ujarnya.
Seiring dengan lonjakan kunjungan, target PAD dari retribusi museum juga berhasil terlampaui. Pada 2025, Museum Multatuli ditargetkan menyumbang PAD sebesar Rp30 juta. Namun realisasi pendapatan mencapai Rp47.434.000. “Capaian PAD tahun 2025 naik sekitar Rp5 juta dibandingkan tahun 2024 yang nilainya Rp42.236.000,” jelas Ubaidilah.
Ia menilai, meningkatnya kunjungan tidak lepas dari kebijakan Pemerintah Provinsi Banten yang mendorong kegiatan kunjungan edukasi siswa dilakukan di wilayah Banten. Kebijakan tersebut berdampak positif bagi museum-museum di kabupaten dan kota, termasuk Museum Multatuli. “Banyak kunjungan dari luar Lebak, seperti dari Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Cilegon, dan Serang. Tentu saja dari Lebak sendiri juga cukup tinggi,” katanya.
Baca Juga: Arief Wibowo Dorong Kajian Potensi PAD Kota Tangerang
Selain itu, penerapan kurikulum pendidikan yang mewajibkan siswa melakukan kunjungan ke tempat bersejarah dan budaya turut mendorong peningkatan jumlah pengunjung. “Ini sangat membantu museum sebagai ruang belajar sejarah dan budaya,” tambahnya.
Museum Multatuli sendiri memiliki tujuh ruang tematik yang menyajikan narasi sejarah, mulai dari ruang selamat datang, kolonialisme di Nusantara, tanam paksa, Multatuli, Banten, Lebak, hingga Rangkasbitung. Museum ini juga memuat narasi perjuangan tokoh-tokoh bangsa yang pemikirannya dipengaruhi Multatuli melalui novel Max Havelaar.
Untuk tahun 2026, pihak Museum Multatuli menargetkan kunjungan sebanyak 40 ribu orang dengan target retribusi sebesar Rp40 juta, naik Rp10 juta dari tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Yosep M Holis, menyatakan optimistis target tersebut dapat tercapai seiring kesiapan museum dan dukungan koleksi benda-benda bersejarah yang dimiliki. “Dengan kesiapan dan pendukungan koleksi sejarah di Museum Multatuli, kami berharap kunjungan terus meningkat sehingga pendapatan daerah juga ikut bertambah,” ujarnya.
Di tengah tantangan literasi sejarah generasi muda, capaian Museum Multatuli menunjukkan bahwa ruang-ruang ingatan kolektif masih memiliki daya tarik, selama dikelola konsisten dan terhubung dengan kebijakan pendidikan yang tepat.(mulyana)
























