SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Hujan yang turun pada Minggu (8/3/2026) dini hari membuat permukiman di RW 014, Kelurahan Peninggilan Utara, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, kembali dilanda banjir. Air yang datang dengan cepat menggenangi rumah warga hingga masjid lingkungan.
Akibatnya, puluhan warga terpaksa mengungsi sementara dan sahur bersama di dapur umum darurat dengan menu mi instan yang dibuka di rumah ketua RW setempat.
Pantauan di lokasi sekitar 03.30 imsak menunjukkan banjir masih memenuhi halaman dan ruang dalam Masjid Jami Al-Hidayah, masjid yang menjadi pusat aktivitas ibadah di bulan puasa warga di lingkungan tersebut.
Air setinggi sekitar 50 cm atau sedengkul orang dewasa bahkan lebih di beberapa titik membuat tempat ibadah itu tidak dapat digunakan untuk salat Subuh berjemaah.
Ketua RW 014 Peninggilan Utara, Rudin Sagitara, mengatakan banjir kali ini dipicu hujan yang sebenarnya tidak terlalu deras. Namun, kondisi wilayah yang berada di dataran rendah membuat air dengan cepat menggenangi lingkungan.
“Ini sebenarnya hujan kategori biasa, curahnya tidak terlalu tinggi. Tapi karena wilayah kami rendah dan dikelilingi perumahan, begitu hujan turun air langsung mengalir ke sini,” kata Rudin saat ditemui di lokasi oleh wartawan SatelitNews.Com.
Baca Juga: Banjir dan Longsor Terjang 11 Kecamatan di Lebak, 1 Warga Tewas
Menurut dia, banjir yang terjadi kali ini belum termasuk yang terparah. Ia mengingatkan, pada banjir besar tahun 2002, 2007, dan terakhir pada 2020, ketinggian air bahkan mencapai dada orang dewasa.
“Kalau yang sekarang ini masih belum parah dibanding dulu. Tahun 2002, 2007, bahkan 2020 itu sampai sedada. Jadi memang wilayah ini sudah lama jadi langganan banjir,” ujar Rudin.
Banjir datang hanya beberapa jam setelah warga selesai melaksanakan kegiatan buka puasa bersama di masjid tersebut.
Rudin menceritakan, pada Minggu malam warga sempat menggelar buka puasa bersama di Masjid Jami Al-Hidayah. Setelah kegiatan selesai dan jamaah mulai pulang, hujan turun dan air dengan cepat mulai naik.
“Setelah buka bersama selesai, jamaah sudah pada pulang. Tidak lama kemudian hujan turun. Kami akhirnya sepakat untuk tidak langsung pulang dan menunggu di masjid,” kata dia.
Tak lama kemudian, air mulai masuk dengan cepat ke area masjid. Warga yang masih berada di lokasi segera melakukan evakuasi darurat untuk menyelamatkan barang-barang yang ada di dalam masjid.
Baca Juga: Hujan Ekstrem, BPBD Kota Tangerang Beri Atensi Khusus ke Wilayah Ciledug dan Periuk
“Yang pertama kami selamatkan itu alat-alat elektronik dan karpet masjid. Apalagi karpet ini baru. Kalau sampai terendam lama pasti rusak,” ujar Rudin.
Selain itu, pengurus masjid juga menggunakan pengeras suara untuk memberi peringatan kepada warga agar tetap waspada. “Kami umumkan lewat pengeras suara supaya warga tidak langsung tidur. Karena airnya naik sangat cepat,” kata dia.
Ketua RT 02 RW 014, Supri. Kmengatakan ketinggian air di dalam masjid mencapai sekitar 50 cm. Sementara di beberapa rumah warga genangan air bahkan lebih tinggi.
“Kalau di masjid sekitar 50 sentimeter. Tapi di rumah warga ada yang hampir sepaha orang dewasa,” kata Supri.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga kesulitan keluar rumah pada dini hari. Bahkan, sebagian rencana pengecekan lingkungan sempat dibatalkan karena kedalaman air. “Tadi kami sempat mau turun ke warga, tapi tidak jadi karena airnya cukup dalam,” ujar dia.
Banjir ini juga berdampak pada aktivitas ibadah saat bulan puasa. Dengan kondisi masjid yang terendam air, salat Subuh berjemaah di Masjid Jami Al-Hidayah dipastikan tidak dapat dilaksanakan.
Menurut Rudin, jika melihat pengalaman sebelumnya, proses pembersihan masjid biasanya membutuhkan waktu cukup lama.
“Kalau seperti ini biasanya kita bersihkan sampai sekitar jam delapan pagi baru selesai. Jadi untuk Subuh kemungkinan tidak bisa dipakai,” ujarnya.
Sebagai alternatif, warga yang ingin salat berjemaah diarahkan menuju masjid lain yang berada di wilayah yang lebih tinggi.
“Kalau yang dekat bisa ke Masjid Al-Jihad yang posisinya di atas. Kalau tidak, biasanya warga salat di rumah masing-masing dulu,” kata Rudin.
Banjir yang melanda lingkungan tersebut berdampak pada puluhan rumah warga. Berdasarkan pendataan sementara pengurus RW, sedikitnya sekitar 30 rumah terendam air.
“Kurang lebih ada sekitar 30 kepala keluarga atau 30 rumah yang terdampak,” ujar Rudin.
Meski demikian, sebagian warga telah terbiasa menghadapi kondisi tersebut. Ketika hujan turun, mereka biasanya segera mengamankan barang-barang penting.
“Biasanya warga sudah antisipasi. Alat elektronik langsung dinaikkan ke atas lemari atau tempat yang lebih tinggi,” kata dia.
Rudin menjelaskan, banjir sering terjadi di wilayah tersebut karena posisinya yang menjadi titik kumpul aliran air dari sejumlah kawasan sekitar.
Air hujan dari beberapa wilayah, seperti RW 9, RW 10, RW 11, hingga kawasan perbatasan Sudimara, mengalir ke daerah ini. Bahkan air dari area gerbang Perumahan Simprug juga mengarah ke wilayah RW 014.
“Jadi semua air larinya ke sini. Makanya begitu hujan turun sedikit saja, banjirnya sangat cepat,” kata dia.
Untuk membantu warga yang rumahnya terendam banjir, pengurus RW bersama para ketua RT membuka dapur umum darurat di rumah ketua RW.
Dapur umum tersebut digunakan sebagai tempat berkumpul warga sekaligus lokasi sahur bersama menjelang waktu imsak.
Sekitar 35 warga untuk sementara mengungsi di lokasi tersebut. Mereka sahur bersama dengan menu sederhana berupa mi instan.
“Kita bikin dapur umum supaya warga yang terdampak bisa sahur. Yang tidak bisa keluar rumah juga kita antar makanannya,” kata Rudin.
Salah seorang warga, Desy, mengatakan rumahnya ikut terendam banjir sejak sekitar pukul 23.30 WIB.
“Di dalam rumah sudah selutut. Di depan rumah bahkan sudah sepaha orang dewasa,” kata Desy.
Ia bersama beberapa warga lain akhirnya memilih mengungsi sementara di rumah ketua RW untuk menunggu air surut sekaligus sahur bersama.
“Sekarang kita mengungsi di rumah Pak RW. Alhamdulillah bisa sahur bareng-bareng di sini,” ujarnya.
Menurut Desy, banjir di lingkungan tersebut memang sering terjadi. Bahkan selama bulan Ramadhan tahun ini, banjir sudah terjadi dua kali.
“Awal puasa kemarin juga kebanjiran, tapi masih sebetis. Sekarang lebih dalam lagi, sampai selutut,” kata dia.
Warga berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi banjir yang terus berulang di wilayah mereka.
Selama ini pengurus RW telah beberapa kali mengusulkan pengadaan mesin pompa air melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Namun, usulan tersebut belum terealisasi.
Menurut Rudin, salah satu kendala adalah ketiadaan lahan yang bisa digunakan untuk menempatkan mesin pompa tersebut.
Di wilayah sekitar sebenarnya terdapat lahan fasilitas umum, namun lokasinya berada di RW lain sehingga belum ada kesepakatan penggunaan lahan.
“Kami pernah mencoba negosiasi untuk menaruh mesin di lahan fasum di RW 15 yang ada di depan masjid. Tapi waktu itu belum mendapatkan izin dari pengurus setempat dan tidak ada tempat untuk menaro alatnya,” kata dia.
Akibatnya, hingga kini upaya penanganan banjir masih terbatas pada langkah darurat setiap kali banjir datang.
Desy berharap pemerintah bisa lebih serius mencari solusi agar warga tidak terus hidup dalam ancaman banjir setiap musim hujan.“Harapannya semoga pemerintah bisa cepat menangani banjir. Supaya kami tidak terus langganan banjir. Dulu mungkin lima tahun sekali, sekarang hampir tiap tahun, bahkan bulan puasa ini sudah tiga kali banjir.” ujar Desy.
Sementara, hingga menjelang imsak, genangan air di lingkungan RW 014 masih belum surut sepenuhnya. Warga memperkirakan air baru akan mulai berkurang sekitar pukul 08.00 WIB, atau sekitar lima jam setelah genangan pertama kali muncul. Banjir yang kembali melanda kawasan Peninggilan juga mendapat perhatian dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tangerang. (ari)
























