SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Wajah Kawasan Wisata Rawa Danau Cipondoh, Kota Tangerang kini tak lagi semarak seperti beberapa tahun silam. Destinasi yang dulu menjadi salah satu titik rekreasi favorit warga itu mengalami kemunduran tajam, ditandai kerusakan fasilitas, menyusutnya jumlah pedagang, hingga turunnya angka kunjungan secara drastis.
Berdasarkan pantauan SatelitNews.Com, Rabu (8/4/2026) menunjukkan kondisi fisik kawasan yang memprihatinkan. Deretan bambu yang berdiri di tepian danau tampak rusak dan tak lagi layak digunakan. Material yang menopang bangunan wisata itu terlihat lapuk, menghitam, dan rapuh akibat terus terendam air serta terpapar cuaca ekstrem.
Sejumlah lapak pedagang yang dahulu berjejer rapi kini tampak kosong dan terbengkalai. Beberapa bahkan telah roboh, menyisakan rangka bambu miring yang nyaris ambruk. Tak ada lagi kesan hidup yang dulu melekat di kawasan tersebut.
Tak hanya itu, akses menuju lokasi pun ikut memperparah kondisi. Jalan selebar sekitar 1,5 meter tampak rusak dan berlubang. Pengunjung hanya bisa melintas menggunakan kendaraan roda dua. Saat hujan turun, sebagian jalur kerap tergenang, membuat kawasan ini semakin sulit dijangkau.
Situasi tersebut berdampak langsung pada menurunnya aktivitas wisata. Area yang dulunya dipadati pengunjung kini hanya sesekali didatangi warga yang hendak memancing. Wahana permainan air seperti bebek-bebekan tak lagi beroperasi dan dibiarkan terbengkalai di sudut danau dalam kondisi kusam dan rusak. Begitu pula dengan spot-spot foto yang sebelumnya menjadi daya tarik utama. Kini, hampir seluruhnya hancur dan tak terawat.
Salah satu pedagang, Rika Sahara (32), mengungkapkan perubahan drastis yang terjadi di kawasan tersebut. Ia mengenang masa sebelum pandemi Covid-19, ketika Rawa Danau Cipondoh masih ramai dikunjungi wisatawan. “Dulu sampai jam satu malam masih ramai. Sekarang habis maghrib juga sudah mulai sepi,” ujar Rika.
Baca Juga: Ribuan Benih Ikan Ditebar di Rawa Cipondoh Kota Tangerang
Menurutnya, penurunan ini tidak lepas dari kondisi bangunan yang semakin tidak layak akibat sering terdampak banjir. Dalam setahun, banjir bisa terjadi hingga tiga kali dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa. “Kalau banjir, airnya bisa sampai selutut. Kadang enggak nentu, tapi itu bikin bangunan jadi cepat rusak,” katanya.
Dampaknya tak hanya pada jumlah pengunjung, tetapi juga terhadap keberlangsungan pedagang. Rika menyebut, dari sekitar 15 pedagang yang dulu berjualan, kini hanya tersisa tiga orang yang masih bertahan. “Pedagang pada pindah sendiri, karena di sini sudah enggak layak dipakai,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Usuf Sulaiman (38), warga yang telah beraktivitas di kawasan tersebut selama dua dekade. Ia menuturkan, masa keemasan Rawa Danau Cipondoh terjadi pada periode 2013 hingga 2020. “Dulu penuh sama pengunjung, dari mana-mana pada datang. Sekarang sudah jauh berkurang,” kata Usuf.
Ia menilai, selain banjir, perubahan minat wisata masyarakat serta munculnya kawasan lain yang lebih tertata turut memengaruhi penurunan jumlah pengunjung. Akibat kondisi ini, pendapatan pedagang pun merosot tajam. Rika mengaku, saat kondisi masih ramai, ia mampu meraup omzet hingga Rp 2 juta per hari. Kini, penghasilannya hanya berkisar Rp 300.000 hingga Rp 500.000. “Sekarang paling dapat Rp 500.000, kadang lebih kecil kalau lagi sepi,” ucapnya.
Meski demikian, sebagian pedagang masih memilih bertahan. Mereka menggantungkan harapan pada kemungkinan adanya perbaikan dan penataan ulang kawasan wisata tersebut. “Harapannya sih diperbaiki lagi, biar rame lagi kayak dulu,” kata Rika.
Kondisi Rawa Danau Cipondoh hari ini menjadi potret surutnya sebuah destinasi yang pernah hidup. Tanpa penanganan serius, kawasan ini berisiko semakin ditinggalkan bukan hanya oleh pengunjung, tetapi juga oleh denyut ekonomi kecil yang dulu menggantungkan hidup di atasnya. (ari)
Baca Juga: JAI Banten 2 Bersihkan Kawasan Situ Cipondoh




























