SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Di tengah ketidakpastian ekonomi global, arus investasi ke Indonesia tetap menunjukkan penguatan pada awal 2026. Realisasi investasi pada triwulan I-2026 diproyeksikan mencapai Rp 497 triliun, tumbuh sekitar 6,9–7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menyerap sekitar 627 ribu tenaga kerja baru.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyebut angka tersebut masih merupakan proyeksi menjelang penutupan perhitungan pada 15 April 2026. Namun, ia optimistis target pemerintah pada tiga bulan pertama tahun ini tetap dapat tercapai.
“Dengan perkembangan ini, insya Allah target yang dicanangkan pemerintah pada tiga bulan pertama ini bisa kami capai, yaitu sebesar Rp 497 triliun. Berarti tumbuh sekitar 7 persen secara tahunan,” kata Rosan dalam keterangan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Selasa (14/4/2026).
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun 2025, realisasi investasi tercatat Rp 465 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 594 ribu orang. Artinya, terdapat kenaikan baik dari sisi nilai investasi maupun penciptaan lapangan kerja pada tahun ini.
“Penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai 627 ribu orang atau naik sekitar 5,5 persen,” ujarnya.
Di balik capaian tersebut, program hilirisasi masih menjadi penopang utama masuknya modal ke Indonesia. Pemerintah menilai kebijakan ini terus memperkuat struktur industri nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya dalam negeri.
Baca Juga: Timnas Voli Indonesia Berpeluang Pijak Semifinal
“Program prioritas yang meliputi berbagai kebijakan, terutama hilirisasi, masih menjadi kontributor besar. Kurang lebih 30 persen dari seluruh investasi yang masuk ke Indonesia berasal dari sektor ini,” kata Rosan.
Dari sisi sektor usaha, industri logam dasar mencatat realisasi investasi tertinggi pada Januari–Maret 2026 dengan nilai Rp 67 triliun. Sektor ini sekaligus menegaskan posisi Indonesia dalam pengembangan industri berbasis sumber daya alam.
Di bawahnya, investasi terbesar berikutnya mengalir ke sektor transportasi, pergudangan, dan logistik sebesar Rp 54 triliun, pertambangan Rp 51 triliun, jasa lainnya termasuk pusat data dan layanan digital Rp 43 triliun, serta perumahan dan kawasan permukiman Rp 36 triliun.
Sementara itu, dari sisi sebaran wilayah, Jakarta masih menjadi magnet utama investasi dengan realisasi Rp 74 triliun. Jawa Barat menyusul Rp 72 triliun, kemudian Jawa Timur Rp 38 triliun, Sulawesi Tengah Rp 34 triliun, dan Banten Rp 33 triliun.
Untuk penanaman modal asing (PMA), Singapura tetap menjadi penyumbang terbesar, diikuti China, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Kelima negara ini masih mendominasi arus investasi asing ke Indonesia pada awal tahun.
Rosan menilai, meningkatnya minat investor global tidak lepas dari kondisi geopolitik internasional yang semakin tidak stabil. Dalam situasi tersebut, Indonesia dipandang memiliki daya tarik karena stabilitas politik dan keamanan yang relatif terjaga.
Baca Juga: Indonesia Bawa Pulang 1 Gelar dari Australia Open
“Mereka melihat Indonesia menjadi lebih menarik lagi karena salah satu kekuatan kita adalah mampu menjaga kedamaian dan stabilitas, baik politik maupun keamanan, serta iklim investasi yang terjaga dengan baik,” ujarnya.
Selain faktor domestik, Rosan juga menyoroti peran diplomasi ekonomi yang dijalankan pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, dalam memperkuat kepercayaan investor. Dalam sejumlah kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan dan Jepang, Presiden disebut aktif berdialog dengan pelaku usaha dan memaparkan kondisi ekonomi Indonesia secara langsung.
Pendekatan tersebut, kata Rosan, memberikan kepastian tambahan bagi investor mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.
Dengan capaian awal tahun ini, pemerintah berharap momentum investasi dapat terus terjaga dan menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan industri nasional dalam jangka menengah. (rmg/xan)




























