SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Upaya mencegah merebaknya penyakit zoonotik terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Tangerang. Dinas Kesehatan bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) menggelar seminar dan lokakarya sebagai langkah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, seperti flu burung, rabies, antraks, dan leptospirosis.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Smart Building, Pusat Pemerintahan Kabupaten Tangerang, Senin (13/7/2026), itu melibatkan Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI, Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas), serta Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE).
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Sri Indriyani, mengatakan lokakarya tersebut bertujuan meningkatkan efektivitas komunikasi risiko dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi potensi wabah penyakit zoonotik.
“Lokakarya ini bertujuan meningkatkan efektivitas komunikasi risiko dan partisipasi masyarakat dalam respons wabah. Kegiatan ini juga memperkuat jejaring kerja serta kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi penyakit zoonotik yang berpotensi menjadi wabah, seperti flu burung, rabies, antraks, dan leptospirosis,” ujar Sri kepada Satelit News, Senin (13/7).
Menurut Sri, kegiatan tersebut juga diisi dengan pelatihan komunikasi interpersonal bagi para promotor kesehatan agar mampu mengedukasi dan memotivasi masyarakat melakukan langkah-langkah pencegahan. Selain itu, para pemangku kepentingan, termasuk media, diberikan pembekalan untuk menangkal penyebaran hoaks terkait wabah penyakit sekaligus menyampaikan informasi yang benar kepada masyarakat.
“Jangan menunggu sampai penyakit muncul dan menyebar baru kita bergerak. Justru saat situasi masih tenang seperti sekarang, kita harus memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas, dan memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang benar agar potensi wabah dapat diatasi sedini mungkin,” ujarnya.
Baca Juga: Tersangka Pembunuh Driver Ojol di Kosambi Berhasil Ditangkap
Sri menambahkan, langkah tersebut sangat penting karena sejumlah penyakit zoonotik memiliki risiko komplikasi yang fatal apabila terlambat ditangani. Rabies, misalnya, hampir selalu berakibat fatal jika gejala klinis sudah muncul, sedangkan antraks dan flu burung memiliki risiko kematian yang tinggi akibat gagal napas maupun infeksi darah (sepsis).
Karena itu, masyarakat diimbau membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, salah satunya dengan mencuci tangan menggunakan sabun pada lima waktu penting, yakni sebelum memasak atau makan, setelah dari toilet, setelah batuk atau bersin, setelah membuang sampah, serta setelah berinteraksi dengan hewan.
Selain itu, warga yang mengalami gigitan atau cakaran hewan penular rabies diminta segera mencuci luka menggunakan air mengalir dan sabun selama 15 menit. Masyarakat juga dianjurkan menggunakan sepatu bot tahan air saat beraktivitas di kawasan banjir guna mencegah leptospirosis.
“Segera melapor dan berobat ke puskesmas atau rumah sakit terdekat apabila mengalami kontak atau gigitan hewan penular. Selain itu, laporkan kejadian ternak atau unggas yang mati mendadak kepada dinas peternakan setempat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner DPKP Kabupaten Tangerang, Joko Ismadi, menjelaskan penyakit zoonotik dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi maupun lingkungan yang telah terkontaminasi.
Menurutnya, saat musim hujan, air kencing tikus yang bercampur genangan air berpotensi menularkan leptospirosis. Karena itu, masyarakat disarankan menggunakan alas kaki tertutup, seperti sepatu bot, ketika beraktivitas di daerah yang tergenang.
Selain itu, flu burung dapat menular apabila seseorang menyentuh ayam, burung, atau bebek yang sakit maupun mati mendadak, kemudian terpapar kotorannya, atau mengonsumsi daging dan telur unggas yang tidak dimasak hingga matang.
“Antraks juga dapat menular melalui kontak dengan sapi, kambing, atau domba yang terinfeksi maupun saat menangani bangkai hewan sakit. Karena itu, masyarakat jangan menyembelih ataupun mengonsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak,” ujarnya.
Joko menambahkan, rabies dapat ditularkan melalui gigitan atau cakaran anjing, kucing, monyet, maupun kelelawar. Namun, sekitar 90 persen kasus rabies bersumber dari anjing, sedangkan kucing dan monyet masing-masing sekitar 3 persen, dan sisanya berasal dari hewan lainnya.
“Sebetulnya, hewan penyebab rabies paling tinggi adalah anjing. Kalau kucing dan monyet hanya sekitar 3 persen. Namun, rabies dapat dicegah dengan mudah melalui vaksinasi hewan peliharaan,” katanya. (alfian/aditya)




























