SATELITNEWS.COM, LEBAK–Hampir tiga bulan dilanda kemarau, warga Desa Paja, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak, kini kesulitan mendapatkan air bersih. Sumber air yang selama ini menjadi andalan warga mengering, sehingga masyarakat terpaksa menggunakan air keruh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat warga harus berhemat dalam menggunakan air. Sungai yang sebelumnya menjadi tempat masyarakat mendapatkan air untuk mencuci dan keperluan rumah tangga lainnya kini sudah mengering. Sejumlah sumur warga juga mengalami kondisi serupa.
Air yang masih tersisa pun tidak mencukupi kebutuhan masyarakat. Selain jumlahnya terbatas, kondisi air yang tersedia juga keruh sehingga warga harus tetap menggunakannya di tengah keterbatasan sumber air bersih.
Salah seorang warga Desa Paja, Anita, mengatakan kondisi sumber air saat ini jauh berbeda dibandingkan sebelumnya. Warga yang biasanya dengan mudah mendapatkan air dari sungai kini harus mencari sumber lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Dulu kalau mau mencuci kami tinggal ke sungai. Airnya jernih dan melimpah. Sekarang sudah kering, kalaupun ada air kondisinya keruh,” kata Anita, Senin (27/7/2026). Menurutnya, keterbatasan air membuat warga harus bergantian untuk mendapatkan air. Bahkan, masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memperoleh air dalam jumlah yang terbatas.
“Air yang kami dapat sekarang sangat sedikit. Kami harus antre dan bergantian dari pagi sampai sore. Itu pun hanya cukup untuk sebagian kebutuhan,” ujarnya. Kesulitan mendapatkan air bersih juga membuat sebagian warga harus menempuh perjalanan cukup jauh. Mereka berjalan kaki sekitar lima kilometer menuju mata air yang masih bisa digunakan.
Baca Juga: KDMP Lebak Belum Maksimal, Baru 58 Koperasi yang Beroperasi
Perjalanan menuju sumber air tersebut tidak mudah. Warga harus melewati jalan setapak, kebun dan persawahan yang kondisinya ikut mengering akibat kemarau panjang. Warga lainnya, Wawan, mengaku sumur miliknya sudah tidak lagi mengeluarkan air. Untuk mencari air, ia memilih berangkat pada sore hari agar tidak terlalu kepanasan saat menempuh perjalanan.
“Sumur di rumah sudah kering, tidak ada air sama sekali. Saya biasanya berangkat menjelang Magrib karena kalau siang terlalu panas. Jalannya melewati kebun dan sawah,” ungkap Wawan. Dalam sekali perjalanan, Wawan mengaku hanya mampu membawa pulang sekitar dua jeriken air. Kondisi medan yang naik turun membuat perjalanan tersebut cukup menguras tenaga.
“Paling hanya bisa membawa dua jeriken air. Harus naik turun bukit dan cukup melelahkan. Tapi mau tidak mau tetap harus mencari air untuk kebutuhan di rumah,” katanya. Krisis air tersebut membuat warga menerapkan penghematan secara ketat. Air yang masih tersedia sebisa mungkin dimanfaatkan untuk beberapa keperluan. Bahkan, air bekas mencuci masih digunakan kembali untuk menyiram tanaman dan membersihkan halaman.
Warga berharap pemerintah daerah segera memberikan bantuan untuk mengatasi kesulitan air yang telah berlangsung cukup lama. Mereka meminta distribusi air bersih dapat dilakukan secara rutin selama musim kemarau. Selain bantuan sementara, masyarakat juga berharap adanya solusi jangka panjang melalui pembangunan sumur bor atau sarana penyediaan air bersih lainnya. Dengan begitu, warga tidak harus berjalan kaki hingga lima kilometer setiap kali membutuhkan air.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak, Febby Rizki Pratama, mengatakan Kecamatan Sajira menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam pemantauan BPBD selama musim kemarau. Menurutnya, BPBD Lebak terus melakukan pendistribusian air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan dan kesulitan mendapatkan sumber air.
“Untuk Kecamatan Sajira sudah menjadi wilayah yang kami pantau dalam menghadapi musim kemarau. BPBD terus bergerak untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak,” kata Febby.
Baca Juga: Seminggu Sudah 6 Kebakaran, Masyarakat Lebak Diminta Waspadai Dampak Kemarau
Ia menyebutkan, hingga saat ini BPBD Lebak telah menyalurkan sebanyak 81 ribu liter air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan. Distribusi bantuan tersebut tercatat telah menjangkau 1.388 kepala keluarga (KK).
BPBD memastikan penyaluran air bersih akan terus dilakukan dengan melihat kondisi dan kebutuhan masyarakat di wilayah yang mengalami krisis air selama musim kemarau. “Masyarakat agar menggunakan air secara bijak dan menghemat persediaan yang ada. Hal itu penting dilakukan mengingat musim kemarau masih berpotensi menyebabkan sejumlah sumber air warga mengering,” tandasnya. (mulyana)

















