SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Suasana berbeda terasa di Situ Gintung, Tangerang Selatan (Tangsel) saat semangat kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dirayakan dengan membentangkan Sang Merah Putih di atas permukaan air, Senin (17/8/2026).
Koordinator Forum Potensi Kota Tangerang Selatan, Dudi Iskandar mengatakan pembentangan bendera tersebut melibatkan sekitar 130 orang yang tergabung dalam tim pengibaran. Pesertanya berasal dari berbagai unsur, mulai dari Polisi Udara, Satpol PP, hingga para relawan di wilayah Kota Tangerang Selatan.
Selain pembentangan bendera, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan lomba fun racing yang melibatkan relawan dan sejumlah unsur lainnya.
Menurut Dudi, persiapan kegiatan dilakukan sekitar satu bulan. Persiapan tidak hanya menyangkut pengadaan bendera, tetapi juga koordinasi perizinan, kesiapan peserta, hingga simulasi pembentangan di atas air.
“Persiapan untuk kegiatannya dari pengadaan bendera, terus juga
koordinasi perizinan dan segala macam sampai dengan simulasi pembentangan di lokasi di air sekitar satu bulan,” paparnya.
Menurutnya, pembentangan bendera di atas air tentu memiliki tantangan tersendiri. Suhu air dan kondisi fisik peserta menjadi hal yang harus diperhitungkan. Untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan, panitia menyiapkan tim medis dari sejumlah lembaga. Tim SAR juga disiagakan di lokasi untuk memberikan pertolongan apabila terjadi keadaan darurat.
Baca Juga: Semarak HUT RI ke-81, Warga Amarapura Tangsel Perkuat Kekompakan dan Gotong Royong
“Terus juga didukung dengan tim SAR yang standby kalau memang ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan di air,” bebernya.
Bukan Sekadar Seremoni
Bendera Merah Putih yang dibentangkan memiliki ukuran raksasa, yakni sekitar 40 meter x 25 meter. Bentangan tersebut menjadi pemandangan yang tidak biasa di tengah Situ Gintung.
Dudi mengatakan kegiatan ini bukan kali pertama dilakukan. Pada peringatan HUT RI ke-80 tahun lalu, kegiatan serupa juga digelar di lokasi yang sama. Momentum tersebut kemudian ingin dijadikan kegiatan tahunan sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan Situ Gintung sebagai salah satu destinasi yang perlu dijaga bersama.
“Harapannya sih mungkin setiap tahun kita bisa ada pelaksanaan peringatan di danau, sekalian apa ya memperkenalkan destinasi Situ Gintung karena memang milik
kita bersama, harapannya adalah kita jaga bersama,” harapnya.
Pantauan di lokasi, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Warga datang untuk menyaksikan langsung bagaimana ratusan peserta membentangkan Sang Merah Putih di atas permukaan danau.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Gelar Renungan Suci HUT ke-81 RI
Salah satunya Nunung Nuraini. Warga yang hadir tersebut mengaku sengaja meluangkan waktu untuk menyaksikan momen tersebut karena menurutnya pembentangan bendera di atas air merupakan kegiatan yang langka.
“Ini sesuatu yang
memang kegiatan langka lah saya pikir ya. Kalau kita di RT, RW, kelurahan, kecamatan semuanya ada apel seperti ini. Tapi ini sesuatu yang memang harus kita prioritaskan untuk kegiatan-kegiatan seperti ini,” ucap Nunung.
Ia menyebut kegiatan tersebut juga memperlihatkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari pelajar, Karang Taruna, Satpol PP, kepolisian, mahasiswa hingga para relawan ikut ambil bagian.
Bagi Nunung, kegiatan tersebut bukan hanya tentang membentangkan kain Merah Putih berukuran raksasa. Ada semangat kebersamaan yang terlihat dari keterlibatan berbagai kelompok dalam satu kegiatan.
Nunung sendiri mengaku sudah dua kali menyaksikan kegiatan pembentangan bendera di Situ Gintung. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan setiap tahun dengan konsep yang semakin baik.
Di antara ratusan peserta yang terlibat, ada sosok paling muda yang mencuri perhatian. Dia adalah Zulfan, siswa kelas 3 SMP berusia 15 tahun asal Jakarta Timur.
Bagi Zulfan, kegiatan tersebut bukan sekadar mengisi rangkaian perayaan HUT RI. Untuk pertama kalinya, ia terlibat langsung dalam pembentangan bendera berukuran raksasa di tengah danau. Walaupun pengalaman pertama, dirinya mengaku sangat antusias dan meras bangga dalam capaian tersebut.
“Bangga sih udah ngibarin bendera segede gitu. Itu juga gimana ya kayak ngerasa bangga aja sama Indonesia lah kayak seneng,” ujarnya saat ditemui di lokasi.
Zulfan mengikuti kegiatan tersebut setelah diajak oleh ayahnya yang merupakan bagian dari komunitas relawan. Ia kemudian mendaftarkan diri dan menjalani latihan sebelum mengikuti pembentangan bendera.
Persiapannya pun terbilang singkat.
Ia mengaku hanya menjalani tiga kali latihan sebelum pelaksanaan. Meski begitu, ada kemampuan dasar yang menjadi syarat penting untuk mengikuti kegiatan di tengah air.
“Pelatihan berlangsung sekitar tiga kali, sama yang paling penting sih bisa berenang. Iya, yang paling penting tuh harus bisa berenang. Tapi tetap dilengkapi perlengkapan keamanan diri,” ucapnya.
Kemampuan berenang bukan hal baru bagi Zulfan. Ia mengaku sudah bisa berenang sejak kecil. Bahkan, semasa kecil dirinya sempat mengikuti sejumlah kompetisi renang.
Namun, aktivitas tersebut kini mulai dikurangi karena ia memilih lebih fokus pada pendidikan.
Kendati sudah terbiasa berenang, membentangkan bendera di danau tetap memberikan pengalaman berbeda. Salah satu tantangan yang dirasakan Zulfan adalah harus bertahan cukup lama di dalam air.
Menurutnya, kondisi air Situ Gintung juga berbeda dengan air kolam renang. Menurut Zulfan, permukaan air terasa lebih hangat ketika terkena paparan matahari, sementara bagian bawahnya tetap terasa dingin.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menjadi persoalan besar baginya
“Kesulitannya paling lama-lama di air. Airnya dia beda, kalau misal di situ kayak lebih atasnya nih kalau udah kejemur matahari atasnya jadi kayak lebih anget, bawahnya dingin. Kalau di kolam renang kan beda, dia dingin,” ungkapnya.
Zulfan juga menjadi salah satu peserta termuda. Di tengah peserta lain yang mayoritas sudah duduk di bangku SMA, SMK, maupun berasal dari berbagai unsur relawan dan instansi, ia masih berstatus sebagai pelajar SMP.
“Kayaknya udah saya termuda untuk peserta yang membentangkan. Karena sebagian yang lain kan sudah SMK, saya masih SMP sendiri,” katanya. (eko)


















