SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Tinggi muka air (TMA) Sungai Cisadane di Bendung Pasar Baru, Kota Tangerang, terus menurun seiring musim kemarau. Dalam hampir satu bulan terakhir, bendung tersebut disebut tidak lagi menerima kiriman air dari wilayah hulu.
Petugas Operasional Bendung Cisadane UPT DAS Cidurian, Ahmad Sobirin, mengatakan, berdasarkan pemantauan pada Senin (17/8/2026), TMA di bagian depan bendung berada pada level 11,75 meter. Sementara TMA di bagian belakang tercatat sekitar 5,50 meter. “Untuk per hari ini, tanggal 16 Agustus, TMA depan 11,75. Di belakang 5,50,” ujar Sobirin saat ditemui SatelitNews.Com
Menurut dia, angka tersebut masih berada dalam kategori normal untuk Bendung Pasar Baru karena kebutuhan air untuk irigasi masih dapat dipenuhi. Dalam kondisi normal, TMA bagian depan biasanya dipertahankan pada kisaran 12 meter.
Namun, penurunan muka air telah berlangsung secara bertahap selama musim kemarau. Dari sekitar 12 meter, TMA kemudian turun menjadi 11,95 meter dan kini mencapai 11,75 meter. “Di musim kemarau ini TMA depan memang berangsur menurun, sedikit-sedikit menurun,” kata Sobirin.
Kondisi tersebut berkaitan dengan berkurangnya pasokan air dari wilayah hulu Sungai Cisadane. Ahmad memperkirakan hampir satu bulan terakhir tidak ada lagi kiriman air dengan debit yang berarti dari hulu. Sebelumnya, kata dia, sempat terjadi dua kali kiriman air dengan debit berbeda pada bulan sebelumnya. Namun, setelah itu tidak ada lagi kiriman hingga pertengahan Agustus.
Berdasarkan informasi dari petugas di wilayah hulu, kondisi di Pos Pantau Batubelah juga menunjukkan penurunan. Ketinggian air di lokasi tersebut disebut berada sekitar 90 sentimeter dan masuk kategori di bawah normal. Ahmad berharap hujan kembali turun di wilayah hulu maupun sekitar Tangerang sehingga dapat meningkatkan kembali tinggi muka air di Bendung Pasar Baru.
Baca Juga: Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Tangsel Meningkat
“Harapannya ada kiriman dari hulu, ada hujan di sana atau di kita, sehingga ada penambahan tinggi muka air di level depan Bendung Pasar Baru,” ujarnya. Di tengah penurunan muka air, seluruh pintu Bendung Pasar Baru saat ini tidak dalam kondisi terbuka. Penutupan dilakukan untuk menjaga ketersediaan air bagi kebutuhan irigasi di wilayah timur dan barat.
Sobirin menjelaskan, pembukaan pintu bendung akan menyebabkan debit air mengalir keluar sehingga TMA di bagian depan bendung ikut berkurang. Besarnya penurunan bergantung pada jumlah pintu yang dibuka. “Kalau dibuka, sudah pasti debit terbuang dan ketinggian TMA depan pasti berkurang. Tergantung bukaan pintunya,” katanya.
Penutupan seluruh pintu tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan. Meski demikian, pintu tetap sesekali dibuka dalam waktu tertentu untuk keperluan perawatan dan pembersihan di bagian belakang bendung. Durasi pembukaan tidak ditentukan secara khusus karena menyesuaikan kebutuhan pekerjaan di lapangan. Setelah pembersihan dianggap selesai, pintu kembali ditutup.
Selama Festival Cisadane berlangsung, kondisi pintu bendung juga disebut tertutup seluruhnya. Pengelola bendung tetap melakukan pengaturan ketika terjadi peningkatan muka air di bagian depan. Ahmad mencontohkan, apabila TMA meningkat hingga sekitar 12,40 meter, pintu dapat dibuka untuk menurunkannya hingga sekitar 12,20 meter sebelum kembali ditutup.
Pengaturan tersebut dilakukan untuk menjaga kestabilan TMA sekaligus mempertahankan ketersediaan air bagi kebutuhan masyarakat. Sobirin mengakui musim kemarau yang berlangsung saat ini membawa kekhawatiran terhadap ketersediaan air Sungai Cisadane. Ancaman kekeringan, menurut dia, semakin perlu diperhatikan apabila kondisi tanpa kiriman air dari hulu berlangsung dalam waktu panjang.
“Kalau ancaman dan kekhawatiran sudah pasti. Kita juga khawatir kalau memang ini berlaku dengan waktu yang lama ke depannya,” ujarnya. Meski demikian, kondisi TMA di Bendung Pasar Baru saat ini masih dinilai normal dan kebutuhan irigasi masih dapat dipenuhi. Petugas terus berupaya mempertahankan kestabilan muka air dengan mengatur aliran melalui pintu bendung.
Baca Juga: UMT Resmi Buka Fakultas Kedokteran, Kuota Awal Maksimal 50 Mahasiswa
Sobirin menegaskan, pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap TMA di bagian depan bendung. Kondisi bagian belakang juga tetap diperhatikan karena pengelolaan air harus mempertimbangkan keseimbangan kebutuhan di berbagai wilayah irigasi. “Bukan juga kita mengabaikan yang belakang. Karena pemenuhan irigasi itu ada di depan. Kita juga memberikan keseimbangan untuk kebutuhan wilayah irigasi di timur dan di barat,” katanya.
Dengan kondisi pasokan dari hulu yang belum kembali normal, hujan menjadi salah satu faktor yang diharapkan dapat menjaga ketersediaan air Sungai Cisadane. Jika kemarau berlangsung lebih lama tanpa tambahan debit dari hulu, pengelolaan air di Bendung Pasar Baru akan semakin bergantung pada pengaturan muka air dan efisiensi distribusi untuk kebutuhan irigasi. (ari)




















