SATELITNEWS.COM, SERANG – Keterlambatan penanganan medis hingga menyebabkan seorang pasien di RSUD Labuan atau Muhammad Irsyad Djuwaeli meninggal dunia, mendapat sorotan tajam anggota Komisi V DPRD Banten Yeremia Mendrofa.
Politisi PDI Perjuangan ini mendesak agar kinerja pegawai di RSUD Labuan dievaluasi menyeluruh dan pihak manajemen harus bertanggungjawab atas persoalan tersebut kepada pihak keluarga pasien.
Yeremia mengatakan, pihak manajemen harus berkaca diri dan tidak saling membantah karena hanya akan memperkeruh suasana. Oleh karena itu, pihak manajemen dan Dinas Kesehatan (Dinkes) harus bisa bertanggungjawab.
“Pertama, turut belasungkawa kepada keluarga, kiranya diberikan yang terbaik di sisi Nya. Saya meminta agar persoalan ini jangan hanya berhenti pada pernyataan saling membantah. Karena ini menyangkut pelayanan kesehatan dan nyawa manusia, maka yang paling penting adalah memastikan fakta dan kronologi yang sebenarnya,” katanya, Kamis (1/10/2026).
Yeremia mendesak agar pihak manajemen menjelaskan kepada publik terkait Standar Operasional Prosedur (SOP) yang digembor-gemborkan. Oleh karena, selama ini banyak keluhan atau aduan mengenai pelayanan di RSUD tersebut, termasuk sarana dan prasarana penunjang kesehatan.
“Kalau pihak manajemen RSUD Labuan menyatakan pelayanan sudah sesuai SOP, tentu hal tersebut harus bisa dijelaskan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, apabila keluarga pasien memiliki kronologi atau keluhan yang berbeda, itu juga harus didengar dan diverifikasi secara objektif,” ujarnya.
Baca Juga: Dikabarkan Pasien Meninggal Dunia di RSUD Labuan, Pihak Manajemen Membantah
Dia mendesak kepada Dinkes Banten agar melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap mekanisme pelayanan dan kinerja tenaga kesehatan di RSUD Banten. Tindakan itu penting dilakukan, agar kedepan tidak lagi ditemukan atau terjadi persoalan yang sama.
“Saya mendorong Dinas Kesehatan dan pihak terkait untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kejadian ini, termasuk melihat proses triase, waktu penanganan pasien, tindakan medis yang diberikan, kondisi pasien saat datang, hingga komunikasi antara rumah sakit dengan keluarga,” pungkasnya.
“Kita jangan terburu-buru menyimpulkan telah terjadi kelalaian sebelum ada pemeriksaan yang objektif. Tetapi jangan pula mengabaikan keluhan masyarakat,” sambungnya.
Yeremia mengingatkan, pemberian penanganan medis merupakan hal yang harus diutamakan dalam dunia kesehatan. Oleh karena itu, pihak manajemen harus bisa lebih mengutamakan pelayanan medis dibandingkan hal lainnya.
“Yang paling utama adalah bagaimana memastikan setiap pasien, khususnya pasien dalam kondisi darurat, mendapatkan pelayanan yang cepat, tepat, aman dan manusiawi,” ujarnya.
Yeremia menyarankan agar manajemen RSUD Labuan membuka komunikasi yang baik dengan keluarga pasien. Berikan penjelasan secara transparan dan berbasis fakta medis, sehingga tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Baca Juga: Rencana Pengurangan Dana Bansos, Anggota DPRD Banten Minta Pemprov Berhitung Ulang
“Bagi saya, evaluasi bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi untuk memastikan kualitas pelayanan kesehatan di Banten semakin baik dan kejadian serupa tidak terulang kembali,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, sejumlah warga Kecamatan Labuan mempertanyakan mekanisme pelayanan do Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuan atau Muhammad Irsyad Djuwaeli.
Pasalnya, ada seorang pasien tidak mendapatkan pelayanan optimal saat masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) hingga meninggal dunia.
Diketahui, pasien tersebut bernama Rukmi warga Kampung Siruang, Desa Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Pasien tersebut datang ke RSUD Labuan pada hari Selasa (29/9/2026) sekira pukul 06.30 WIB dan baru bisa masuk ruang inap sekira pukul 11.00 WIB.
Pemeriksaan medis baru dilakukan sekira pukul 12.00 WIB, dan tidak lama pasien tersebut meninggal dunia. Dalam kronologis itu, ada jenjang waktu hingga berjam-jam sebelum pasien dilakukan pemeriksaan kesehatan dan perawatan intensif.
Tetangga korban, Uwid Mufti Widya membenarkan tetangganya kurang mendapatkan perawatan saat memeriksa kesehatan ke RSUD Labuan. Padahal, sejak pagi sudah mendaftar dan masuk dalam IGD karena penyakit yang dideritanya.
“Pelayanan kurang maksimal di ruang IGD. Harus prioritas karena umumnya pasien masuk IGD karena darurat dan hrs segera ditangani dan harus banyak tempat tidur atau springbed agar pasien jangan nunggu di kursi roda,” katanya, saat menghubungi satelitnews.com, Rabu (30/9/2026). (adib)



















