SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Batas administratif memisahkan Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.
Namun, pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini, tiga wilayah tersebut akan dipertemukan dalam satu ruang kebersamaan melalui Festival Muludan Tangerang Raya 1448 Hijriah di Masjid Agung Al-Ittihad, Selasa, 25 Agustus 2026.
Festival yang mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Ukhuwah, Menyatukan Warisan Islam Tangerang” dan tagline “Tiga Masjid, Tiga Daerah, Satu Cinta kepada Rasulullah SAW” itu tidak hanya dimaksudkan sebagai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Penyelenggara ingin menjadikan momentum tersebut sebagai upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang Tangerang Raya sebagai satu ruang sosial dan kebudayaan sebelum terbagi ke dalam tiga wilayah administratif.
Sekretaris Umum DKM Masjid Agung Al-Ittihad, Imron Farhani El ‘Arofah, mengatakan festival tahun ini merupakan penyelenggaraan keempat.
Namun, ada konsep berbeda yang dihadirkan, yakni mempertemukan tiga masjid yang dinilai memiliki jejak penting dalam sejarah Islam di Tangerang: Masjid Raya Al-A’zhom, Masjid Agung Al-Ittihad, dan Masjid Jami Kalipasir.
Baca Juga: Maulid Ath-Thohariyyah, Bupati Dewi Doakan 8 Orang Hilang di Anak Krakatau
“Ini Muludan orang Islam yang ada di Tangerang. Jangan berbatas dengan wilayah administratif,” kata Imron saat ditemui di Masjid Agung Al-Ittihad, Kamis (20/8/2026).
Menurut Imron, Masjid Agung Al-Ittihad hendak dikembalikan sebagai salah satu simbol pemersatu masyarakat Tangerang. Masjid tersebut, kata dia, secara historis menjadi salah satu ruang pertemuan masyarakat dari berbagai wilayah Tangerang.
“Masjid Agung semoga bisa jadi semacam simbol pemersatu Tangerang. Bahwa kita hanya berbeda secara administratif, tapi kita orang Tangerang,” ujarnya.
Mempertahankan Istilah “Muludan”
Salah satu unsur yang sengaja dipertahankan dalam festival ini adalah penggunaan istilah Muludan, bukan Maulid.
Bagi masyarakat Tangerang, kata Imron, istilah tersebut lebih dekat dengan bahasa sehari-hari. Penyebutan Maulid dalam percakapan lokal kemudian berkembang menjadi “Mulud” atau “Muludan”.
“Ini bahasa aslinya orang kita. Ketika nyebut Maulid, orang Tangerang bilangnya Mulud. Lewat Muludan, kita merawat tradisi sekaligus mengembalikan marwah Masjid Agung Al-Ittihad sebagai simbol pemersatu,” ujarnya.
Baca Juga: Habib Jindan Buka Pekan Isra Mikraj Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang
Tradisi keagamaan tersebut kemudian dipadukan dengan unsur budaya masyarakat Tangerang. Rangkaian acara antara lain meliputi khataman Al-Qur’an, tawasul, tahlil, pembacaan Kitab Barzanji, selawat, hingga makan bersama.
Kirab budaya menjadi salah satu bagian utama festival. Panitia menyiapkan arak-arakan gunungan yang berisi hasil bumi dan makanan tradisional.
Setelah diarak, gunungan tersebut akan dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol rasa syukur, sedekah, keberkahan rezeki, dan kemakmuran.
Tradisi Perahu Dorong dari Masjid Jami Kalipasir juga kembali dihadirkan. Tradisi tersebut telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Kota Tangerang.
Dalam festival tahun ini, Perahu Dorong ditempatkan sebagai salah satu ikon budaya yang merepresentasikan semangat gotong royong, perjuangan, dan kehidupan masyarakat pesisir Tangerang.
Tiga Masjid dalam Satu Kirab
Konsep tiga masjid menjadi simbol utama Festival Muludan Tangerang Raya tahun ini.
Masjid Raya Al-A’zhom merepresentasikan pusat aktivitas keagamaan di Kota Tangerang. Masjid Agung Al-Ittihad ditempatkan sebagai simbol persatuan, sedangkan Masjid Jami Kalipasir merepresentasikan jejak sejarah perkembangan Islam di Tangerang.
Ketiga masjid tersebut dipertemukan melalui dua rute kirab yang berakhir di Masjid Agung Al-Ittihad.
Rute pertama dimulai dari Masjid Raya Al-A’zhom, kemudian melewati Jalan TMP Taruna, Jalan Siswa Dalam, Pasar Anyar, Stasiun Kereta Api Kota Tangerang, dan berakhir di Masjid Agung Al-Ittihad.
Rute kedua dimulai dari Masjid Jami Kalipasir, melalui Jalan A. Damyati, Jalan MT Haryono, Bank Mandiri Kisamaun, Jalan Kalipasir Indah, hingga Masjid Agung Al-Ittihad.
Nama Al-Ittihad sendiri berarti persatuan. Bagi Imron, makna tersebut sejalan dengan harapan agar masjid tersebut kembali menjadi tempat berkumpulnya masyarakat dari seluruh wilayah Tangerang Raya.
“Secara sejarah kan masjid ini dibangun sebagai simbol persatuan,” katanya.
3.000 Porsi Nasi Kebuli
Semangat kebersamaan juga diwujudkan melalui makan bersama.
Panitia menyiapkan sekitar 3.000 porsi nasi kebuli untuk jamaah dan masyarakat yang hadir. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 2.000 porsi.
Imron mengatakan seluruh hidangan kebuli tersebut disiapkan melalui infak masyarakat. Dengan demikian, dana yang dihimpun dari masyarakat dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk jamuan makan bersama.“Dari masyarakat kita kembalikan ke masyarakat,” ujarnya.
Selain nasi kebuli, masyarakat juga dipersilakan membawa nasi tumpeng secara sukarela. Secara keseluruhan, jumlah jamaah yang hadir diperkirakan dapat mencapai lebih dari 5.000 orang.
Bagi panitia, makan bersama tidak sekadar menjadi pelengkap acara.
Tradisi tersebut merupakan simbol kesetaraan, sedekah, dan persaudaraan yang ingin dibangun di tengah masyarakat Tangerang Raya.
“Pokoknya sudah, yang penting meriahkan dengan rasa syukur dan bahagia hadirnya Rasulullah di atas muka bumi,” kata Imron.
Hadirkan Pimpinan Tiga Wilayah
Festival Muludan Tangerang Raya tahun ini juga dijadwalkan dihadiri unsur pimpinan dari tiga wilayah administratif.
Dari Kabupaten Tangerang, bupati, wakil bupati, dan sekretaris daerah dijadwalkan hadir. Sementara dari Kota Tangerang Selatan, wali kota, wakil wali kota, dan sekretaris daerah juga dijadwalkan menghadiri kegiatan.
Kehadiran para pimpinan daerah tersebut menjadi bagian dari pesan utama festival, yakni bahwa batas pemerintahan tidak semestinya menghapus identitas dan ikatan sosial masyarakat yang memiliki akar sejarah dan kebudayaan yang sama.
Ketua Panitia Pelaksana Muhammad Farhan, mengatakan rangkaian acara dirancang untuk memadukan kegiatan keagamaan dengan kebudayaan lokal.
Acara diawali dengan khataman Al-Qur’an, tawasul, tahlil, dan pembacaan Kitab Barzanji.
Setelah itu, rangkaian dilanjutkan dengan Kirab Budaya Islam yang menampilkan Perahu Dorong serta gunungan hasil bumi dan makanan tradisional.
Seluruh rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung pada Selasa (25/8/2026), bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, mulai pagi hingga sekitar pukul 11.30 WIB atau menjelang salat Zuhur.
Imron berharap Festival Muludan Tangerang Raya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan. Jika antusiasme masyarakat terus meningkat, kegiatan tersebut diharapkan berkembang menjadi agenda Maulid Tangerang Raya yang melibatkan masyarakat lebih luas.
“Minimal setahun sekali kita se-Tangerang Raya bisa kumpul,” ujarnya.
Harapan tersebut sekaligus menjadi pesan utama yang ingin disampaikan melalui festival: bahwa perubahan batas administratif tidak serta-merta menghapus sejarah, tradisi, dan identitas bersama.
Di antara batas kota dan kabupaten yang terus berubah, tradisi Muludan menjadi pengingat bahwa ada warisan sosial dan budaya yang jauh lebih tua daripada pembagian administratif.
Bagi penyelenggara, Muludan bukan semata perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga ruang bagi masyarakat Tangerang untuk mengenali kembali akar sejarah, budaya, dan persaudaraan yang mereka miliki bersama. (ari)




















