SATELITNEWS.COM, SERANG – Proses pencarian terhadap lima jurnalis, dua kru kapal Arupadhatu 1, dan guide, yang hilang di Perairan Selat Sunda karena meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK), memasuki hari kedelapan.
Diwaktu tambahan pencarian ini, tim SAR gabungan menerjunkan sebanyak 647 personel dan 20 kapal, untuk menyisir beberapa lokasi di Selat Sunda.
Diketahui, kedelapan korban terdiri dari Warta selaku kapten kapal, Surakman selaku anak buah kapal (ABK), Heriyanto selaku guide, serta lima orang jurnalis, yaitu M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, dan Donal yang merupakan jurnalis freelance.
Kasi Operasi dan Siaga Basarnas Banten Rizky Dwianto mengatakan, ratusan personel dibagi menjadi dua tim untuk melakukan pencarian terhadap delapan orang yang dikabarkan hilang tersebut.
“Personel matra laut ada 325 orang, kemudian yang ada di posko atau di darat sebanyak 322 orang, secara keseluruhan 647 orang terlibat dalam operasi SAR dihari ke delapan,” katanya, Selasa (15/9/2026).
Dia menerangkan, proses pencarian masih dilakukan dibeberapa kawasan yang diduga kuat menjadi tempat para korban tersebut. Meskipun, sejak hari pertama dilakukan pencarian, belum membuahkan hasil.
Baca Juga: Operasi Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal di GAK Diperpanjang Tiga Hari Kedepan
“Mudah-mudahan bisa sesegera mungkin menemukan mereka. Area baru kita tidak ada, masih fokus di area selama ini, tetapi kita sudah Mapel dan dibantu oleh kantor SAR Bengkulu sudah di cover oleh mereka untuk wilayah sana,” tambahnya.
Mengenai pencarian melalui udara, pihaknya tidak menerjunkan helikopter di hari kedelapan pencarian. Akan tetapi, apabila ada potensi menemukan, tim udara bisa segera bergerak menuju lokasi.
“Pantauan udara standbay di ATS Bogor, jika sewaktu-waktu dibutuhkan, mereka bisa segera bergerak. Melalui udara, kita sudah menyisir di semua area, dan tidak ada tanda-tanda diketemukan, dan hanya menemukan terpal warna orange dan itu bukan yang kita cari,” ujarnya.
“Untuk penyisiran darat masih dilakukan, dari Carita sampai pantai Anyer. Pencarian dan penyisiran masih sama, karena untuk berbagai kemungkinan di pulau yang akan sandar darurat sudah kita lakukan pengecekan,” sambungnya.
Kepala Basarnas Banten Al Amrad mengatakan, pada pelaksanaan operasi SAR hari kedelapan, Tim SAR Gabungan merencanakan penyisiran di lima sektor pencarian laut, dengan total luas area sekitar 3.962 mil laut persegi.
Pencarian melibatkan sejumlah unsur utama, diantaranya KN SAR Tetuka, KN SAR Basudewa, KN SAR Antasena, KRI Gilimanuk, KRI Leuser, KRI Lepu, KRI Kerambit, KAL Anyer, KAL Pahowang, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RIB 02 Lampung, RBB Pulau Peucang, serta sejumlah kapal KP Polairud.
Baca Juga: Dukung Pencarian Wartawan di Perairan Selat Sunda, Helikopter HR-3604 Dikerahkan
Sektor A dengan luas 1.026 mil laut persegi akan dilakukan oleh KRI Gilimanuk dan KRI Leuser. Sektor B seluas 780 mil laut persegi melibatkan KN SAR Antasena dan KP Sanjaya. Selanjutnya, sektor C dengan luas 825 mil laut persegi akan disisir oleh KN SAR Tetuka, KRI Lepu, dan KRI Kerambit.
“Pada sektor D seluas 872 mil laut persegi, pencarian melibatkan KN SAR Basudewa, RIB 02 Lampung, KAL Anyer, dan KAL Pahowang. Sementara itu, sektor F dengan luas 459 mil laut persegi akan dilakukan oleh RIB 02 Banten, RBB Pulau Peucang, sejumlah kapal KP Polairud, serta unsur pendukung lainnya,” ungkapnya.
Selain pencarian di laut, Tim SAR Gabungan juga menyiapkan dua unit drone thermal Basarnas untuk mendukung pemantauan dari udara.
Operasi turut diperkuat dengan berbagai sarana pencarian dan pertolongan darat, termasuk kendaraan penyelamat, kendaraan komunikasi, ambulans, truk personel, serta unsur pendukung dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, BNPB, pemerintah daerah, organisasi potensi SAR, dan relawan.
Untuk mengantisipasi kemungkinan pergerakan korban atau material yang terbawa arus, Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten juga melakukan pemapelan kepada Kantor SAR Bengkulu, guna melaksanakan monitoring di wilayah pesisir Bengkulu dan Pulau Enggano.
Kondisi cuaca di lokasi pencarian diperkirakan berawan tebal, dengan kecepatan angin dari arah tenggara mencapai 10 hingga 20 knot. Sementara itu, tinggi gelombang diperkirakan berkisar antara 0,5 hingga 3,5 meter.
“Kondisi angin dan gelombang tersebut, menjadi salah satu faktor yang terus diperhatikan dalam pelaksanaan operasi, khususnya untuk menjaga keselamatan seluruh personel dan unsur SAR yang terlibat,” tuturnya.
Al Amrad mengatakan, tim SAR Gabungan akan terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia, untuk memperluas wilayah pencarian dan meningkatkan peluang ditemukannya para korban.
“Pada hari kedelapan ini, pencarian kembali kami perluas melalui beberapa sektor laut dengan melibatkan unsur SAR gabungan, baik dari Basarnas, TNI, Polri, maupun potensi SAR lainnya,” pungkasnya.
“Kami juga melakukan pemantauan terhadap wilayah pesisir Bengkulu dan Pulau Enggano, sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan adanya pergerakan korban atau benda yang berkaitan dengan kejadian ini,” sambungnya.
Seluruh unsur yang terlibat, diminta tetap mengutamakan keselamatan personel selama melaksanakan operasi, dengan memperhatikan perkembangan cuaca, kecepatan angin, tinggi gelombang, serta hasil evaluasi pencarian di lapangan.
Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten bersama seluruh unsur SAR Gabungan, tetap berkomitmen melaksanakan pencarian secara maksimal hingga seluruh upaya yang direncanakan dapat dilaksanakan. (adib)
























