SATELITNEWS.COM, SERANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, terus melakukan pendistribusian air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan. Hingga saat ini, hampir 20 kecamatan di Kabupaten Serang dilaporkan membutuhkan pasokan air bersih.
Kepala BPBD Kabupaten Serang, Ajat Sudrajat, mengatakan pendistribusian air bersih dilakukan secara bertahap berdasarkan permohonan masyarakat serta hasil survei tim di lapangan.
“Untuk saat ini, walaupun belum semua kita penuhi, tapi tiap hari kita jalan. Bahkan sekarang dibantu, baik dari internal OPD yang ada di Kabupaten Serang, terus dari organisasi yang ada seperti Baznas, sampai dari pihak perusahaan sudah berkolaborasi dengan kita untuk nge-drop air bersih sesuai dengan permohonan yang masuk dan sesuai dengan hasil survei kita ke lapangan,” ujar Ajat, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, wilayah yang mengalami dampak kekeringan cukup parah berada di kawasan utara Kabupaten Serang. Namun, kondisi kekeringan kini mulai merambah wilayah pegunungan.
“Di kita ini untuk saat ini, hampir 20-an kecamatan butuh semua air bersih. Cuma yang lebih parah itu ada di daerah utara. Tapi sekarang sudah masuk ke daerah pegunungan,” tambahnya.
Ajat menjelaskan, salah satu faktor yang menyebabkan kekeringan semakin meluas adalah rendahnya curah hujan. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga akhir tahun.
Baca Juga: Babinsa Koramil 0116/Cikeusik Salurkan 24.000 Liter Air Bersih
“Curah hujan diperkirakan sampai akhir tahun tidak turun. Nah, itu penyebabnya. Kemudian, dari hulu pun debit air di sungai yang ke hilir itu semakin berkurang,” jelasnya.
Berkurangnya debit air dari wilayah hulu membuat ketersediaan dan serapan air di wilayah hilir ikut menurun. Kondisi itu menyebabkan sejumlah daerah semakin mengalami kekurangan air.
Untuk mengantisipasi kekeringan dalam jangka panjang, BPBD Kabupaten Serang saat ini mulai menyusun perencanaan pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah prioritas.
“Untuk saat ini kan tidak permanen solusi mengatasinya. Nah, kami sedang upaya sekarang untuk menyiapkan perencanaan, terutama di daerah-daerah prioritas yang terkena air bersih, kita ajukan untuk bikin sumur bor,” ungkapnya.
Terkait jumlah titik sumur bor yang akan dibangun, Ajat mengatakan pihaknya masih melakukan pemetaan. Rencana tersebut diharapkan dapat dimasukkan dalam usulan program tahun 2027.”Belum, lagi kita petakan. Mudah-mudahan di usulan nanti 2027 kita masukkan,” ujarnya.
Sementara, terkait penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan kekeringan, Ajat memastikan anggaran tersebut belum digunakan.
Baca Juga: Kekeringan Meluas di Tangsel, 421 KK Terdampak dan 576 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan
Menurutnya, berdasarkan ketentuan, penanganan saat status bencana kekeringan masih berada pada tahap Siaga Darurat dapat menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) dari pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Kalau BTT tentunya belum. Karena gini ketentuannya, ketika kita menetapkan status bencana kekeringan sekarang, itu hanya bisa menggunakan DSP dari pusat, dari BNPB. Ini sedang berproses kita ajukan,” tukasnya.
Ia menambahkan, penggunaan BTT baru dapat dilakukan apabila status bencana ditingkatkan dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat.
“Nanti statusnya naik, dari Siaga Darurat menjadi Tanggap Darurat, baru BTT bisa kita gunakan,” pungkasnya. (sidik)
























