SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Pemerintah Kota Tangerang tidak ingin program Sekolah Lansia berhenti pada kegiatan belajar dan seremoni wisuda. Setelah menyelesaikan pembelajaran, para peserta didorong mampu mengelola kegiatan secara mandiri hingga menjadi penggerak bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Dorongan itu terlihat dari 405 peserta Sekolah Lansia tahun 2026 yang diwisuda. Sebanyak 390 peserta berasal dari 13 sekolah lansia yang tersebar di 13 kecamatan, sementara 15 lainnya berasal dari kelompok yang telah menjalankan pembelajaran secara mandiri.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Tangerang Tihar Sophian mengatakan, Sekolah Lansia merupakan bagian dari program Bina Keluarga Lansia yang tidak hanya berorientasi pada kesehatan, tetapi juga membangun kemampuan intelektual, emosional, spiritual, dan kemandirian lansia.
“Jadi, Pemerintah Kota Tangerang, dalam hal ini DP3AP2KB, membangun sumber daya manusia, dalam hal ini adalah Bina Keluarga Lansia, menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lansia,” kata Tihar seusai kegiatan wisuda di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang, Rabu (7/10/2026).
Menurut Tihar, pembelajaran mengacu pada tujuh dimensi kehidupan lansia. Materi diberikan untuk menjaga kesehatan sekaligus meningkatkan kemampuan peserta dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Untuk aspek spiritual, DP3AP2KB menggandeng Kementerian Agama. Sementara aspek kesehatan didukung tenaga kesehatan yang secara berkala melakukan pemeriksaan terhadap peserta.
“Dari mana pembelajarannya? Pembelajarannya, narasumbernya kita ambil dari Kementerian Agama terkait masalah spiritualnya, karena semakin usia senja harus banyak lebih dalam lagi. Kemudian juga dari rekan-rekan kita dari kesehatan, setiap waktu melaksanakan cek kesehatan terhadap para lansia dan kegiatan-kegiatan lainnya,” ujarnya.
Baca Juga: Kolaborasi Lintas Komunitas Perkuat Perlindungan Anak di Kota Tangerang
Tihar menegaskan, wisuda bukan akhir dari program. Peserta justru diarahkan memasuki tahap berikutnya hingga mampu menjalankan kegiatan Sekolah Lansia secara mandiri. Sekolah Lansia memiliki jenjang S1, S2, hingga S3. Pada setiap jenjang, materi pembelajaran dikembangkan sesuai tingkatannya.
Pada tahap sekolah mandiri, peserta tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pemerintah dalam menjalankan kegiatan. Mereka mulai mengorganisasi kegiatan sendiri dan berkoordinasi dengan narasumber, sedangkan pemerintah menjalankan fungsi pemantauan.
“Setelah kita melaksanakan kegiatan ini, dan mereka tuh sekolah mandiri. Yang artinya sudah melaksanakan kegiatan di sekolahnya masing-masing secara mandiri,” kata Tihar. Model tersebut, menurut Tihar, menjadi bagian penting dari upaya membentuk lansia yang sehat sekaligus memiliki kemampuan untuk mengurus aktivitasnya sendiri. “Jadi harapan kita tadi, jadi lansia yang mandiri, sehat, dan berguna,” ujarnya.
Tahapan tersebut kemudian berlanjut hingga S3. Pada jenjang ini, peserta tidak lagi hanya menjadi penerima pembelajaran, tetapi mulai didorong mengajak orang-orang di sekitarnya untuk melakukan kegiatan. Tihar menyebut sekitar 30 orang di Kecamatan Cibodas saat ini telah mencapai tahap S3. “Jadi bukan lagi kepada mereka bersekolah, tapi mereka mengajak orang-orang di sekitarnya untuk melakukan kegiatan,” katanya.
Pada 2026, Pemkot Tangerang membuka 13 Sekolah Lansia, masing-masing satu sekolah di setiap kecamatan. Setiap sekolah memiliki sekitar 30 peserta sehingga total peserta angkatan utama mencapai 390 orang. Jumlah tersebut kemudian bertambah 15 peserta dari kelompok yang telah menjalankan pembelajaran secara mandiri. Total 405 peserta akhirnya mengikuti wisuda.
“Di setiap kecamatan ada satu sekolah dengan satu sekolah adalah 30 siswa, totalnya ada 390 siswa. Jadi, ada 390 siswa terbagi dari 13 sekolah yang tersebar di se-Kota Tangerang,” kata Tihar. Pendaftaran dilakukan sejak awal tahun melalui kecamatan dan kelurahan. Calon peserta harus memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk ketentuan usia dan kondisi kesehatan. Data peserta kemudian menjadi bagian dari pendataan pemerintah di tingkat kelurahan.
Baca Juga: Pendampingan Korban Kekerasan Seksual Cipondoh Dimulai Sejak 27 April
“Jadi melakukan pendaftaran dengan ada syarat-syarat. Ada syarat usia, syarat sehat, dan lain-lain. Artinya kenapa? Itu menjadi bagian inventarisir kami ya di setiap kelurahan,” ujarnya. Setelah pendataan, kepala kecamatan menerbitkan surat keputusan terkait penyelenggaraan Sekolah Lansia di wilayah masing-masing. DP3AP2KB kemudian menindaklanjuti pelaksanaan program.
Wali Kota Tangerang Sachrudin mengatakan keberhasilan Sekolah Lansia tidak semestinya hanya dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti pembelajaran dan wisuda. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah kualitas pembelajaran dan sejauh mana pengetahuan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dari sisi jumlah sama ya, 390 yang kita lakukan, baik 2025-2026 ini. Tapi yang penting bukan soal jumlah, bagaimana kita meningkatkan kualitasnya ya,” ujar Sachrudin. Ia mengatakan para lansia memiliki pengalaman hidup yang dapat menjadi pengetahuan bagi generasi berikutnya. Karena itu, mereka tetap perlu diberi ruang untuk berperan dalam keluarga dan lingkungan.
“Pada para orang tua lanjut usia yang begitu banyak pengalamannya, bagaimana terus kita kembangkan untuk bersama-sama membangun kota ini dengan pengalamannya diberikan kepada para generasi penerus bangsa ini untuk membangun mulai dari dirinya, membangun keluarga, lingkungan, dan kota kita,” katanya.
Sachrudin menilai keterlibatan lansia dalam pembangunan kota tidak harus dilakukan melalui kegiatan formal. Pengalaman dan pengetahuan mereka dapat diteruskan mulai dari keluarga hingga lingkungan sekitar. Ia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam program tersebut. Dinas Kesehatan mendukung aspek kesehatan, sedangkan Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia turut memperkuat pembelajaran keagamaan.
Menurut Sachrudin, pembelajaran tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, tetapi diterapkan dalam kehidupan keluarga dan lingkungan. Sachrudin menegaskan, pemerintah tidak semata-mata mengejar jumlah peserta Sekolah Lansia. Program tersebut harus memberikan manfaat nyata bagi kehidupan peserta.
“Kualitas dalam arti memahami tingkat pemahaman, penjabarannya tentang arti sebuah kehidupan, kemudian menjalankan sehari-harinya dengan banyak manfaatnya, nah itu intinya, banyak manfaat untuk kita,” katanya.
Dengan konsep tersebut, Sekolah Lansia Kota Tangerang diarahkan tidak berhenti pada pemberian sertifikat. Peserta diharapkan terus belajar, menjaga kesehatan, hidup mandiri, dan pada tahap tertentu mampu menggerakkan masyarakat di sekitarnya.
Program ini sekaligus mengubah posisi lansia dalam kegiatan sosial: bukan hanya sebagai penerima layanan, tetapi sebagai kelompok yang tetap memiliki kapasitas untuk berperan dan memberikan manfaat bagi keluarga serta lingkungan. (ari)




















