SATELITNEWS.COM, SERANG – Kemarau panjang yang melanda wilayah Banten, memyebabkan hasil panen padi para petani terganggu. Hal itu terjadi karena, sebagian besar areal pesawahan tidak bisa digarap, karena tidak ada pasokan air.
Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Provinsi Banten, hasil panen pasi sejak Januari sampai Oktober 2026 sekira 1,701 juta ton, atau lebih besar dibandingkan tahun 2025 yang hanya sekira 1,646 juta ton.
Jumlah itu, tersebar di Kabupaten Pandeglang sebanyak 529 ribu ton pada tahun 2026, sedangkan tahun 2025 sebanyak 493,3 ribu ton. Di Kabupaten Lebak sebanyak 410,2 ribu ton pada tahun 2026, sedangkan tahun 2025 sebanyak 404,4 ribu ton. Di Kabupaten Tangerang sebanyak 287,4 ribu ton pada tahun 2026, sedangkan tahun 2026 sebanyak 270,7 ribu ton.
Di Kabupaten Serang, sebanyak 404,2 ribu ton ditahun 2026, sedsngkan tahun 2025 sebanyak 415,4 ribu ton. Di Kota Tangerang, sebanyak 807,5 ribu ton ditahun 2026, sedangkan ditahun 2025 sebanyak 786,3 ribu ton. Di Kota Cilegon sebanyak 8.141 ton ditahun 2026, sedangkan ditahun 2025 sebanyak 7.113,2 ton.
Di Kota Serang, sebanyak 60.429,87 ton ditahun 2026, sedangkan ditahun 2025 sebanyak 54.905,90 ton. Sedangkan di Kota Tangerang Selatan, tidak ada hasil panen padi karena tidak ada areal pesawahan.
Hasil panen itu, dari ratusan ribu hektare sawah di Banten, seperti di Kabupaten Pandeglang luas lahan tahun 2026 yang tergarap sampai panen sekira 100.966, hektare, sedangkan di tahun 2025 lahan garapan sekira 97.717 hektare. Di Kabupaten Lebak lahan digarap sekira 86.072 haktare di tahun 2026, sedangkan di tahun 2025 seluas 87.043 hektare.
Baca Juga: Serapan Pupuk Bersubsidi Rendah, Poktan dan Gapoktan Di Banten Jangan Main Curang
Di Kabupaten Tangerang, lahan garapan seluas 54.324 hektare di tahun 2026, sedangkan di tahun 2025 seluas 53.244 hektare. Di Kabupaten Serang lahan garapan seluas 76.413 hektare di tahun 2026, sedangkan di tahun 2025 seluas 77.023 hektare.
Di Kota Tangerang, lahan garapan seluas 131,96 hektare di tahun 2026, sedangkan tahun 2025 seluas 134,29 hektare. Di Kota Cilegon seluas 1.610 hektare di tahun 2026, sedangkan di tahun 2025 seluas 1.283 hektare.
Di Kota Serang, lahan garapan seluas 11.362 hektare di tahun 2026, sedangkan di tahun 2025 seluas 10.730 hektare.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Saiful Bahri Maemun mengatakan, selama musim kemarau atau El Nino, banyak petani tidak bisa menggarap lahan pertanian karena kekurangan pasokan air. Akibatnya, hasil panen padi di Banten mengalami penyesuaian atau penurunan.
“Petani banyak yang menyesuaikan kondisi kemarau dan menunda tanam sehingga luas panen dan produktivitas pun menurun,” katanya, Selasa (20/10/2026).
Saiful mengaku, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya dan bantuan kepada para petani agar bisa tetap menggarap lahan mereka ditengah musim kemarau. Meskipun, kata dia, bantuan yang diberikan belum bisa menyelesaikan persoalan tersebut.
Baca Juga: Wagub Dimyati Paparkan Investasi Banten, Pengamat: Harus Berdampak kepada Masyarakat
“Kita coba memberikan pompa dan irigasi perpompaan apabila ada air yang tersedia. Tetapi, kita turun produksi, tetapi kebutuhan beras kita masih surplus,” tambahnya.
Sementara, Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Pandeglang, Anton Haerul Samsi berharap, musim kemarau tidak terlalu memberikan dampak terhadap hasil panen petani. Oleh karena itu, persoalan kekeringan harus menjadi perhatian serius Pemprov Banten.
“Harapan kita, petani ini tetap bisa menggarap sawah mereka meskipun kemarau. Mudah-mudahan ke depan, akan ada banyak bantuan untuk menjaga pasokan air ke semua area pesawahan yang ada,” imbuhnya. (adib)

















