SATELITNEWS.COM, JAKARTA — Insentif Bank Indonesia (BI) untuk menarik modal asing telah menghasilkan aliran dana masuk sebesar US$9,9 miliar sejak Juni hingga 20 Oktober 2026. Namun, tekanan global masih membayangi rupiah yang melemah 0,61 persen dibandingkan dengan akhir September, ke level Rp17.985 per dolar Amerika Serikat (AS).
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter AS yang semakin ketat, serta sentimen investor asing di pasar saham.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin ketat, serta sentimen di pasar saham,” kata Destry dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober 2026 di kantor BI, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Di tengah tekanan tersebut, BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 5,75 persen dalam RDG pada 20–21 Oktober 2026. Suku bunga Lending Facility juga tetap 6,50 persen, sedangkan suku bunga Deposit Facility dinaikkan 25 basis poin menjadi 5 persen.
“Keputusan tersebut diperkuat dengan peningkatan kebijakan insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada Bank Indonesia, guna menarik aliran masuk modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas,” kata Destry.
Selain DNDF, kebijakan insentif mencakup swap lindung nilai serta transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) dengan negara mitra.
Baca Juga: ICW Desak Usut Eks Pimpinan BNPB
Untuk transaksi DNDF lindung nilai kepada BI yang mendasari pendanaan luar negeri, pengurangan premi ditingkatkan dari 25 persen menjadi 40 persen untuk tenor enam bulan dan dari 30 persen menjadi 45 persen untuk tenor 12 bulan. Insentif swap beli lindung nilai konvensional juga dilanjutkan, berupa pengurangan premi 15 persen untuk tenor tiga bulan, 20 persen untuk enam bulan, dan 25 persen untuk 12 bulan.
“BI berkomitmen menjaga stabilitas rupiah dengan memperkuat insentif untuk tarik investasi asing dan pendalaman pasar uang dan pasar valas,” ujar Destry.
Selain menjaga stabilitas nilai tukar, BI memperkuat likuiditas perbankan untuk mendukung penyaluran kredit ke sektor riil. Giro wajib minimum (GWM) rata-rata bank umum konvensional diturunkan bertahap dari 9 persen menjadi 7 persen.
Untuk bank umum syariah dan unit usaha syariah, GWM diturunkan dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen. Penurunan dilakukan dalam dua tahap, mulai 1 November dan 1 Desember 2026. BI juga menurunkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dari 6 persen menjadi 5 persen, berlaku mulai 1 Desember 2026.
Kebijakan tersebut ditempuh di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 sekitar 3 persen, sedangkan inflasi global diperkirakan mencapai 4,6 persen.
Kebijakan moneter global yang ketat diperkirakan bertahan lebih lama, termasuk besarnya peluang kenaikan kembali suku bunga acuan AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga masih tinggi, sementara minat investor terhadap aset portofolio di negara berkembang terbatas.
Baca Juga: Mantan Jampidsus Febrie Didakwa Terima Rp346,7 M dan US$440.990
Tekanan itu tercermin pada pergerakan investasi portofolio asing. Pada triwulan III 2026, investasi portofolio mencatat arus keluar bersih US$0,08 miliar, terutama akibat keluarnya dana dari pasar saham.
Hingga 19 Oktober, arus investasi portofolio pada triwulan IV berbalik mencatat arus masuk bersih US$0,66 miliar, ditopang aliran dana ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia dan Surat Berharga Negara.
Di dalam negeri, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus US$3,55 miliar, meningkat dari US$0,12 miliar pada bulan sebelumnya. Cadangan devisa pada akhir September mencapai US$146,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
BI memperkirakan transaksi berjalan Indonesia pada 2026 mencatat defisit dalam rentang 2,4–1,6 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen. Inflasi indeks harga konsumen pada September tercatat 3,28 persen secara tahunan, naik dari 3,19 persen pada Agustus, tetapi masih dalam sasaran BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.
BI memperkirakan rupiah bergerak stabil ke depan, ditopang komitmen bank sentral, imbal hasil aset rupiah yang menarik, inflasi yang terkendali, serta prospek perekonomian domestik yang tetap baik.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal, termasuk menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian,” pungkas Destry. (rmg/xan)

















