SATELITNEWS.COM, SERANG – Membangun ruang dialog yang terbuka dan produktif menjadi salah satu langkah penting untuk mendorong peran generasi muda dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Semangat inilah yang ingin diperkuat Rembuk Pemuda Provinsi Banten di bawah kepemimpinan Salmah Hidayani.
Ketua Rembuk Pemuda Provinsi Banten, Salmah Hidayani, menilai generasi muda perlu memiliki ruang untuk bertukar pikiran, menyampaikan gagasan, sekaligus membangun kolaborasi tanpa dibatasi perbedaan latar belakang.
Menurutnya, diskusi tidak seharusnya berhenti pada adu argumentasi atau perdebatan semata. Lebih dari itu, setiap gagasan yang muncul perlu diarahkan menjadi rekomendasi dan aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Melalui Rembuk Pemuda, kami ingin menghadirkan ruang bagi anak-anak muda untuk saling bertukar pikiran, menyampaikan gagasan, dan membangun kolaborasi tanpa melihat perbedaan latar belakang. Bagi kami, perbedaan bukan penghalang untuk bergerak bersama, justru menjadi kekuatan untuk melahirkan solusi,” ujar Salmah.
Ia menambahkan, pemuda tidak cukup hanya menyampaikan kritik atau meramaikan perdebatan di ruang publik. Generasi muda juga harus mampu menawarkan gagasan dan mengambil peran nyata dalam mendorong perubahan.
“Kami berharap Rembuk Pemuda di Provinsi Banten bisa menjadi ruang yang produktif. Bukan hanya tempat berkumpul dan berdiskusi, tetapi juga melahirkan rekomendasi, gerakan, dan aksi nyata yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Baca Juga: Polemik RKUHAP, Kritik Kian Menguat
Semangat tersebut sejalan dengan pandangan Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati, yang mengapresiasi inisiatif membuka ruang komunikasi dan diskusi bagi anak muda dari berbagai latar belakang.
“Satu hal yang saya sangat apresiasi kepada teman-teman Rembuk Pemuda, semangat untuk bisa membuka ruang berdiskusi, ruang untuk berkomunikasi di saat di mana di media sosial dan juga ruang umum banyak terjadi perdebatan,” kata Saraswati, dalam forum Rembuk Pemuda di Jakarta Selatan, Sabtu (31/10/2026).
Saraswati menyayangkan perdebatan di ruang publik, khususnya media sosial, sering kali tidak berujung pada rekomendasi ataupun kegiatan nyata. Padahal, perbedaan pandangan semestinya dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kolaborasi dan menghasilkan solusi.
Ia menegaskan, keberagaman latar belakang, suku, agama, ras, maupun pandangan tidak seharusnya menjadi sekat bagi generasi muda untuk duduk bersama. Sebaliknya, keberagaman tersebut merupakan kekuatan dalam merumuskan gagasan yang lebih komprehensif.
“Jadi ini ajang untuk pemuda-pemudi Indonesia dari segala latar belakang maupun warna dan segala ras, agama, suku itu bisa betul-betul dengan kebinekaannya, dengan pendapat mereka masing-masing itu bisa berembuk, bisa berdiskusi, tentunya dengan harapan bergerak dan berdampak,” ujar Saraswati.
Saraswati juga berharap forum komunikasi antarpemuda dapat terus berkembang di berbagai daerah. Menurutnya, diskusi tidak harus selalu berlangsung di tempat formal, tetapi dapat dilakukan di kampus, kafe, maupun ruang publik lainnya yang memungkinkan anak muda bertemu dan bertukar pikiran.
Baca Juga: Selalu Jadi Temuan BPK RI, Anggota DPRD Banten Minta Kepsek Yang ‘Main’ BOS Dipecat
Bagi Rembuk Pemuda Provinsi Banten, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan modal untuk membangun kekuatan bersama.
Melalui ruang dialog yang inklusif, Rembuk Pemuda Banten berharap semakin banyak generasi muda yang berani menyampaikan gagasan, terbuka terhadap perbedaan, serta terlibat aktif dalam menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat. (sidik)

















