TAHUN ini kita memasuki Tahun Baru Islam 1442 Hijriyah yang juga bertepatan dengan 75 tahun Indonesia merdeka. Momen pergantian tahun ini dimulai sekitar 14 abad yang lalu ketika Nabi Muhammad Saw hijrah dari Mekah ke Madinah. Peristiwa hijrah Nabi inilah yang menandai pergantian tahun yang dikenal dengan sebutan tahun Hijriyah.
Banyak pelajaran yang terkandung dalam peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad. Hijrah dimaknai sebagai perjuangan untuk lepas dari segala ketertindasan, kezaliman atas perilaku kaum Quraisy yang memusuhi dan menindas Nabi dan umat Islam. Hijrah juga bermakna upaya untuk membangun peradaban kembali, peradaban Islam yang menebar perdamiaan, kebaikan dan terlepas dari keterpurukan di Madinah al Munawaroh.
Hijrah merupakan pilihan untuk memerdekakan diri dari hegemoni kezaliman kekuasaan menuju keperadaban yang lebih demokratis. Hijrah menghadirkan tatanan masyarakat yang egaliter. Hijrah adalah keluar dari wilayah kepemimpinan oligharchy menuju kepemimpinan yang mengedepankan kapasitas, kapabilitas dan moralitas.
Kaum kafir Quraisy, pada hakikatnya merupakan simbol peradaban yang jauh dari demokratis, menjalankan praktik oligharchy. Untuk itu gerakan hijrah yang dilakukan Rasulullah adalah bentuk gerakan moral terhadap ketidakbenaran sistem yang ada.
Setiap kekuasaan yang tidak terkontrol, maka akan melahirkan gerakan-gerakan perubahan oleh masyarakat. Nabi Muhammad menjadi tokoh sentral dalam gerakan perubahan melawan tirani kekuasaan kafir Quraisy.
Hijrahnya Rasulullah Saw bersama para sahabat ke Madinah, memiliki dimensi historis dan spiritual yang mendalam. Memilih Madinah sebagai kawasan untuk berhijrah, tentu bukan pilihan yang didasarkan pada pertimbangan ambisi sesaat. Di Mekkah, Rasulullah Saw mendapat kebencian bertubi-tubi. Bahkan, umat Islam pun mendapat tekanan dan ancaman serta tindak kekerasan. Demi menghindari penguasa yang zalim di Mekkah, maka Rasulullah Saw berhijrah.
Spirit hijrah jika dilandasi dengan keimanan dan semangat jihad akan melahirkan gerakan perubahan yang dahsyat. Tidak semata-mata melawan penguasa untuk merebut kekuasaan, tetapi bagaimana hijrah membawa masyarakat menjadi merdeka. Merdeka dari ketertindasan, merdeka dari kebohongan arus informasi. Merdeka dari ketertutupan kran saluran aspirasi umat yang tersumbat. Merdeka bersuara menyatakan ketidaksetujuan atas kebijakan penguasa yang membawa umat lebih buruk. Hijrah adalah gerakan moral membela kaum mustadh’afin.
Dalam konteks sekarang ini, pemaknaan hijrah tentu bukan selalu harus identik dengan meninggalkan kampung halaman seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dan kaum Muhajirin, tetapi pemaknaan hijrah lebih kepada nilai-nilai dan semangat berhijrah itu sendiri, karena hijrah dalam arti seperti ini tidak akan pernah berhenti.
Dalam proses hijrahnya, Nabi Saw mengubah nama kota Yatsrib menjadi Madinat Ar-Rasul yang bermakna “Kota Rasulullah”. Perubahan nama kota itu tidak semata bersifat formalitas, melainkan sebuah penegasan untuk mewujudkan sebuah sistem masyarakat yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian. Bersama umat agama lain dan suku-suku Arab di Madinah, Nabi membuat konsensus bersama bernama Piagam Madinah (Mitsaq Al-Madinah) untuk menegaskan persamaan kemanusiaan, menghargai perbedaan dan menebar perdamaian.
Itulah misi hijrah yang ditekankan Nabi, yaitu mengubah suatu struktur tatanan masyarakat yang tidak adil dan otoriter (jahiliyah), menuju kesepakatan bersama dan demokratis (islamiyah). Nabi juga merombak sistem perekonomian yang timpang dikuasasi oleh segelintir orang (konglomerat) menuju perekonomian yang berpihak pada umat, yakni ekonomi keumatan. Yang tak kalah penting, Nabi membangun masyarakat madani yang amat berpihak kepada kaum mustadh’afin.
Dalam konteks apapun, hikmah dan spirit hijrah Nabi itu sesungguhnya bisa kita terapkan kapanpun dan dimanapun. Dalam konteks pribadi misalnya, hijrah bisa digunakan sebagai arahan untuk memperbaiki diri dari segala sikap dan perilaku yang selama ini keliru untuk menjadi individu yang memperbaiki diri dan membawa manfaat. Yang pada gilirannya tentu akan berdampak pada tatanan masyarakat. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang terkecil, mulai saat ini.
Hijrah yang dilakukan untuk konteks sekarang adalah bagaimana membangun semangat hal positif di masyarakat. Dari saling curiga akibat perbedaan pandangan politik menjadi saling percaya dan membangun kerjasama. Bahkan bulan Muharam adalah salah satu bulan dari empat bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab) bulan dilarang melakukan peperangan. Maka di bulan Muharam hendaknya kita semua menyebarluaskan semangat perdamaian. Tidak ada ruang untuk saling menyebar fitnah kepada lawan politik hanya untuk meraih kekuasaan dan memenangi persaingan pilkada.
Momen tahun baru hijrah yang berdekatan dengan perayaan Kemerdekan Indonesia ke-75 sepatutnya dijadikan sarana untuk mengubah paradigma memandang kekuasaan. Kekuasaan yang berpihak kepada kepentingan umat, bukan berpihak kepada pengusaha yang menjadi sponsor ketika berkontestasi. Hijrah menjadi gerakan moral berpindah dari hanya memperjuangkan keluarga, kelompok dan golongannya saja menuju kepemimpinan di berbagai daerah, tetapi lebih fokus mengurus umat yang masih berjuang menghadapi pandemi Covid-19. Hijrah menjadi semangat untuk memerdekakan kaum mustadh’afin agar mendapat keberpihakan dari setiap kebijakan penguasa. Hijrah menjadi semangat memerdekakan pemimpin bangsa Indonesia dari tekanan negara asing dalam setiap kebijakannya.
Hijrah dan kemerdekaan sejatinya dijadikan spirit membangun bangsa lebih baik, di bawah tuntunan keimanan. Hijrah memerdekakan bangsa Indonesia dari para penguasa yang hanya haus kekuasaan atas topeng demokrasi prosedural. Hijrah memerdekakan umat dari pembodohan pihak tertentu yang ingin menghancurkan bangsa.
Dua momen ini menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang berkemajuan dengan tetap merawat perdamaian di tengah kemajemukan yang ada. Menjadi bangsa yang mengedepankan semangat perubahan, kebaikan seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Terlindunginya seluruh bangsa dan tanah air, semangat untuk mencerdasakan kehidupan bangsa, tercapainya kesejahteraan rakyat dan ikut serta menjaga kedamaian dunia. Semoga bangsa Indonesia segera bangkit dan pulih menghadapi pandemi Covid-19 ini. Rakyat sehat dan negara kuat.
Sebaik-baiknya hijrah adalah memerdekakan diri dari belenggu hawa nafsu. Waallahu a’lam. (*)
*(Lembaga Kajian Syahmi Center)