SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG—Pascadilanda bencana tsunami Selat Sunda 2018 lalu, membuat kondisi Muara Ciputen Agung di wilayah Kecamatan Labuan, mengalami pendangkalan. Sehingga saat ini dilakukan normalisasi oleh Pemerintah, melalui Balai Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3) Banten. Penanganan muara itu bakal menelan anggaran Rp9 miliar.
Kepala Desa Teluk, Endin Fahrudin mengatakan, pascabencana tsunami Selat Sunda dua tahun lalu, Muara Cipunten Agung mengalami pendangkalan. Makanya saat ini bakal dilakukan normalisasi.
“Pekan lalu informasinya pihak pelaksana sudah menurunkan alat berat ke lokasi, mudah-mudahan pelaksanaan normalisasi bisa cepat diselesaikan. Dikarenakan kalau berlarut, berdampak pada aktivitas nelayan,” kata Edin, Rabu (4/11).
Menurut Edin, normalisasi muara itu hasil dari permohonan masyarakat. Sebab, pascabencana tsunami Selat Sunda yang terjadi pada tahun 2018 lalu, muara itu mendangkal akibat banyaknya perahu nelayan yang tenggelam. Ditambah dengan puing bangunan rumah warga.
“Bukan akibat tsunami saja, selama kurun waktu 30 tahun lebih muara itu belum pernah dilakukan normalisasi. Sehingga para nelayan pun kesulitan untuk menyandarkan kapalnya di muara itu,” jelasnya.
Edin mengungkapkan, kalau untuk perusahaan yang menjadi pelaksana kegiatan normalisasi Muara Cipunten Agung tak diketahui. Namun untuk besaran anggaran diketahuinya mencapai Rp9 miliar.
“Kalau anggaran mencapai sekitar Rp9 miliar. Kalau persoalan siapa yang mengerjakan, saya belum tahu,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Labuan, Ace Jarnuji mengatakan, bahwa sesuai informasi yang didapatnya benar, kalau Muara Cipunten Agung itu akan dilakukan normalisasi. Namun sejauh ini, pihaknya belum mendapatkan informasi secara resmi, baik dari pihak pelaksananya maupun pihak terkait lainnya.
“Kabarnya sih begitu akan ada kegiatan normalisasi Muara Cipunten Agung. Tapi saya juga belum lihat ke lokasi apakah kegiatannya sudah mulai dilaksanakan atau belum,” katanya. (nipal/aditya)