SATELITNEWS.ID, SERANG–Menggelar pemungutan suara ditengah suasana banjir, memiliki resiko tersendiri. Konsekwensi logisnya antara lain, partisipasi pemilih yang rendah. Karena, sebagian besar masyarakat harus mengungsi ke tempat lain, atau ada juga yang enggan datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Seperti yang terjadi di Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang, banyak warga yang terpaksa mengungsi akibat rumahnya tak layak lagi ditempati dan enggan untuk menggunakan hak pilihnya di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kali ini.
Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 11, Nurmuda mengatakan, berdasarkan hasil rekap dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 426 orang, yang menyalurkan hak pilihnya hanya sekitar 50 orang.
Diakuinya, berkali – kali warga diimbau untuk menyoblos, namun hingga batas waktu pemungutan suara ditutup yaitu pukul 13.00 WIB, warga tak ada lagi yang datang untuk menyoblos. “Dari pagi kita sudah imbau warga melalui pengeras suara musola, pengeras suara masjid, woro-woro juga sudah dilakukan, malah kita juga ada WA (Whatsapp) grup kita informasikan. Tapi sampai diputuskan Bawaslu dan saksi jam 13.00 WIB ditutup, untuk perhitungan surat suara, warga belum sempat datang ke sini (TPS,red),” kata Nurmuda, Rabu (9/12).
Katanya, saat ini warga sedang dilanda musibah banjir. Lokasai TPS-pun terpaksa harus dipindah, karena lokasi sebelumnya dijadikan tempat pengungsian warga penyintas (korban terdampak). Oleh karena warga banyak yang mengungsi, sehingga tidak sempat menggunakan hak pilihnya.
“Memang partipasi pemilih jauh dari target. Kita sudah berusaha maksimal untuk menyukseskan Pilkada ini, tapi apa daya, inilah hasilnya,” tandasnya.
Baca Juga: Hujan Siang Hari Sebabkan Banjir di Tangsel
Hal yang sama dilami TPS 10. Ketua KPPS TPS 10, Suyanto mengaku, dari total 428 DPT yang menyoblos hanya sekitar 30 persen. Menurutnya, hampir semua warga terdampak banjir, rumahnya terendam. Sehingga mereka harus mengungsi keluar, ada juga beberapa warga yang memilih untuk mengontrak.
“Kita sudah berusaha maksimal, kita sudah woro-woro di masjid. Kita juga sudah nyari orang agar menyoblos, agar antusias kesini. Tapi ternyata tak semudah yang dibayangkan, inilah hasilnya,” ujar Suyanto.
Selain mengungsi keluar tambahnya, akibat banjir yang cukup tinggi sehingga banyak yang lebih memilih bertahan di rumah dan enggan untuk menyoblos. “Orang-orang nggak mau keluar. Ketinggian banjir sampai seleher, kalau basah kan nggak ada gantinya lagi pakaian yang di badan,” tuturnya.
Ditambahkannya, musibah banjir baru kali ini yang paling parah. Tercatat, ada sekitar 3000 rumah yang terendam banjir. “Biasanya paling hanya satu blok saja, ini total keseluruhan. Makanya kita pun kelabakan,” imbuhnya. (sidik/mardiana)
























