SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG–Setelah berhasil menempuh perjalanan sekitar 4 jam dari pusat Kota Pandeglang, kearah selatan atau tepatnya kearah Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), yang ditempuh menggunakan kendaraan roda empat. Kita akan sampai di Desa Tunggaljaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang.
Sekitar 300 meter dari jalan utama, kita akan menemui para warga yang merupakan penyintas atau para korban tsunami Selat Sunda yang terjadi akhir Desember 2018 silam, mereka menetap di kawasan Hunian Tetap (Huntap).
Ada sekitar 10 rumah atau 10 Kepala Keluarga (KK) yang menetap di sana. Rumah dengan design diperuntukkan bagi korban bencana itu, tampak layaknya perumahan tipe 36, terdiri dari 2 kamar, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi dan dapur.
Tak terlihat keramaian di sana, selain sejumlah ibu – ibu rumah tangga yang menyibukan diri dengan aktivitasnya, dan seolah mengisi waktu luangnya dengan saling berbincang, membereskan rumah dan bersih – bersih disekitar rumahnya.
Terlebih, jika petang tiba, mereka-pun masuk ke dalam rumahnya dan tak tampak lagi aktivitas apapun di sana. Sehingga, suasana Huntap terasa sunyi, sepi dan hanya cahaya lampu rumah yang menerangi sekitar, walau tak secerah cahaya lampu di perkotaan.
Seorang penghuni Huntap, Nurjaya mengatakan, Huntap itu sebelumnya adalah Hunian Sementara (Huntara), yang mereka tempati paska musibah tsunami terjadi. Katanya, yang saat ini menetap di Huntap adalah, mereka yang betul – betul tak memiliki rumah dan harta benda sama sekali akibat musibah 4 tahun silam tersebut.
Baca Juga: Lestarikan Laut Dan Budaya Melalui Tasyakuran Ruwat Laut Carita 2026
“Rumah, harta benda kami, habis saat musibah itu terjadi. Tidak sedikit korban, yang juga kehilangan anggota keluarganya. Rumah dan barang – barang ini (dalam rumah,red) yang kami miliki sekarang,” kata Nurjaya, akhir pekan lalu.
Katanya, ia bersama istri dan anak – anaknya berhasil selamat dari musibah yang memilukan tersebut, walau sempat terombang – ambing dan kebingungan mau tinggal dimana. Bahkan, perahu satu – satunya yang ia miliki untuk melaut (sebagai mata pencaharian), hilang digulung tsunami.
“Di sini, ada juga yang janda, 3 orang. Mereka ditinggal suaminya, saat musibah itu terjadi, termasuk perahu saya yang biasa digunakan melaut, hilang digulung ombak waktu itu,” ceritanya.
Disinggung kehidupannya sekarang, pria berbadan sedang dan berprofesi sebagai nelayan ini mengaku, mau tidak mau ia dan keluarganya memulai dengan kehidupan yang baru. Diakuinya pula, lokasi tempat tinggalnya sekarang jauh dari tempat kerja atau pusat mata pencahariannya sebagai nelayan.
“Kami terpaksa, harus pergi jam 03.00 WIB atau jam 04.00 WIB kalau mau melaut. Karena kalau kesiangan, sudah ketinggalan sama nelayan lainnya,” aku pria yang akrab disapa Nur ini.
Katanya, kalau sudah kesiangan atau datang ke bibir pantai sekitar pukul 06.00 WIB atau pukul 07.00 WIB, sudah pasti ditinggal nelayan lainnya. Sehingga, akan kebingungan untuk mendorong perahu ke tepi laut untuk berlayar.
Baca Juga: Fantastis, Anggaran Revitalisasi Situ Cikedal Mencapai Rp9,7 Miliar
Ditambahkannya, ia mendapat bantuan perahu dari Palang Merah Indonesia (PMI), sehingga dapat kembali melaut mencari nafkah untuk anak – istrinya demi melanjutkan kehidupannya. Ia-pun menyatakan, selain rumah disekitar Huntap itu ada satu bangunan Musola.
Pantauan di lokasi, hampir setiap rumah menanam tanaman jenis sayur mayur, yang sewaktu – waktu dapat mereka manfaatkan untuk kebutuhan sehari – hari seperti, tomat, cabai, dan beberapa tanaman holtikultura lainnya.
“Walau nggak luas halamannya, tapi kami manfaatkan untuk menanam tanaman sejenis itu, lumayan kepakai buat sehari – hari (bumbu dapur,red),” aku seorang ibu yang akrab disapa Mbah.
Dibagian depan, tampak 2 bangunan kamar mandi dan 1 MCK berukuran sekitar 2 x 2 meter persegi, serta 1 tempat cucian bersama – sama berukuran sekitar 5 meter. Adapun jalan lingkungan di sana, sudah di paving blok.
Informasi yang dihimpun, selain di lokasi tersebut. Huntap juga ada di Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, yang penghuninya lebih banyak dari Huntap di Desa Tunggaljaya tersebut. (mardiana)
