Oleh: Eka Mardiana Afrilia, SST, MKM
Mahasiswi Program Doktor Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta
Kasus GGAPA bukan hanya tragedi gagal ginjal akut pada anak. Ia adalah alarm keras bahwa obat yang dianggap “biasa” dapat berubah menjadi bahaya ketika pengawasan lemah, literasi rendah, dan masyarakat terbiasa mengobati diri sendiri.
Di kota besar, alarm ini makin relevan karena remaja menghadapi dua ancaman sekaligus: udara yang kian berat untuk dihirup dan kebiasaan self-medication saat batuk, pilek, demam, atau sesak dianggap remeh.
SATELITNEWS.COM, TANGERANG–Indonesia diguncang oleh lonjakan Gagal Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada anak.
Isu GGAPA masih relevan pada 2025 karena muncul dalam bentuk evaluasi pascakejadian, edukasi masyarakat, penelitian keamanan sirup, dan kajian risiko obat anak.
WHO mencatat lebih dari 300 kasus acute kidney injury pada anak hingga 5 Februari 2023, dan lebih dari separuhnya berakhir dengan kematian.
Kasus ini dikaitkan dengan cemaran dietilen glikol dan etilen glikol dalam obat, dua bahan toksik yang tidak boleh ditemukan dalam sediaan obat.
Tragedi ini membuat publik bertanya: bagaimana mungkin obat yang sehari-hari digunakan untuk demam, batuk, pilek, dan nyeri dapat menjadi sumber bencana?
Pertanyaan itu penting, karena di balik kasus GGAPA terdapat masalah besar: keamanan obat, pengawasan rantai produksi, dan kebiasaan masyarakat menggunakan obat tanpa konsultasi tenaga kesehatan.
Di wilayah urban, self-medication hampir menjadi budaya cepat. Ketika remaja batuk, pilek, demam, nyeri tenggorokan, atau merasa sesak, obat sering menjadi jalan pintas pertama. Apotek, toko, platform daring, dan rekomendasi media sosial membuat obat terasa dekat, mudah, dan seolah selalu aman.
Padahal, gejala pernapasan yang dianggap ringan dapat menjadi tanda asma, pneumonia, alergi berat, bronkitis, tuberkulosis, atau dampak polusi udara. Kaitan GGAPA dengan penyakit pernapasan urban memang bukan hubungan langsung.
GGAPA menyerang ginjal, bukan paru-paru. Namun, jembatannya sangat jelas: banyak obat yang dikonsumsi masyarakat untuk keluhan umum terkait demam dan batuk adalah bagian dari pola pengobatan mandiri.
Maka, GGAPA harus dibaca sebagai peringatan agar masyarakat tidak sembarangan menggunakan obat untuk gejala pernapasan.
Remaja urban berada dalam posisi rentan. Mereka hidup di tengah polusi kendaraan, kepadatan kota, asap rokok, tekanan aktivitas, dan paparan iklan obat. Studi di Greater Jakarta menemukan hubungan antara paparan PM2.5 dengan kasus asma dan pneumonia anak di 11 kota/kabupaten wilayah Jabodetabek.
Artinya, risiko pernapasan di kota tidak hanya nyata, tetapi juga membutuhkan respons kesehatan masyarakat yang serius.
Masalahnya, ketika gejala muncul, sebagian remaja dan keluarga memilih “menenangkan gejala” dengan obat sendiri. Batuk ditekan, demam diturunkan, hidung tersumbat diatasi, tetapi penyebab penyakit tidak selalu diketahui.
Pada titik ini, self-medication dapat menunda diagnosis, memperburuk kondisi, memicu efek samping obat, bahkan membuka risiko penggunaan antibiotik tanpa indikasi.
Catatan validasi akademik (draf percakapan untuk dimintakan persetujuan):
Eka: “Bu, apakah tepat bila kasus GGAPA dibaca sebagai pembelajaran untuk mencegah self-medication pada remaja urban, terutama saat muncul keluhan batuk, pilek, dan sesak?”
Dr. Ernysih, S.KM., M.KM.: “Tepat. GGAPA tidak boleh dipahami hanya sebagai kasus gagal ginjal, tetapi sebagai peringatan sistemik tentang keamanan obat dan literasi kesehatan. Kaitan dengan penyakit pernapasan urban perlu dijelaskan secara hati-hati: bukan GGAPA yang menyebabkan gangguan napas, melainkan pola self-medication pada keluhan pernapasan yang harus diwaspadai.”
Eka: “Jadi edukasi remaja bukan hanya soal udara bersih, tetapi juga obat yang aman?”
Dr. Ernysih: “Benar. Remaja perlu tahu kapan obat bebas boleh digunakan, kapan harus ke tenaga kesehatan, dan mengapa antibiotik atau obat batuk tidak boleh dikonsumsi sembarangan.”
Penutup
Krisis GGAPA harus menjadi momentum untuk membangun budaya penggunaan obat yang rasional. Kota yang sehat bukan hanya kota dengan udara yang lebih bersih, tetapi juga kota dengan masyarakat yang lebih cerdas membaca risiko obat.
Remaja urban perlu dilindungi dari dua arah: paparan udara yang merusak paru-paru dan kebiasaan self-medication yang dapat menutupi bahaya penyakit. Batuk panjang, sesak, demam berulang, dan napas berbunyi bukan sekadar keluhan biasa. Itu bisa menjadi alarm tubuh yang membutuhkan pertolongan tepat, bukan sekadar obat cepat.
Referensi ringkas
-World Health Organization. (2023). Investigation of acute kidney injury in children in Indonesia: Results and regulatory actions.
-Hidayati, E. L., et al. (2024). Emerging progressive atypical acute kidney injury in young children linked to ethylene glycol and diethylene glycol intoxication.
– Pediatric Nephrology, 39(3), 897-904.
Haryanto, B., et al. (2025). Associations between ambient PM2.5 levels and children’s asthma and pneumonia cases in Greater Jakarta. Annals of Global Health.
-State of Global Air. (2024). State of Global Air 2024 Report. Health Effects Institute and UNICEF.
-Reuters. (2024). Indonesia court finds drugmakers at fault over toxic cough syrup, awards parents.
-Umar, T. P., Jain, N., & Azis, H. (2023). Endemic rise in cases of acute kidney injury in children: A global concern. Kidney International, 103(3), 444-447.
Catatan redaksi: bagian percakapan/validasi akademik perlu mendapatkan persetujuan narasumber sebelum dimuat sebagai kutipan langsung.
