Kota Tangerang merupakan wilayah akulturasi, dimana berbagai budaya tercampur dan saling berdampingan. Mulai dari Jawa, Sunda, Tionghoa hingga Arab. Namun demikian, belum banyak yang tergali sejarah, leluhur dan asal-usul Kota Tangerang. Hal itulah yang kini tengah ditelusuri oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Tangerang.
IRFAN MAULANA, Tangerang
Merekam sejarah tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, kerja keras hingga konsistensi untuk mengungkapkan fakta-fakta masa lampau. Saat ini, Disbudpar Kota Tangerang sedang melakukan penelitian untuk mengungkapkan sejarah Kota Tangerang. Mulai dari asal – usul hingga leluhur wilayah yang berjuluk kota seribu jasa seribu industri.
Wilayah Kalipasir di Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang menjadi lokasi dimulainya penelusuran Disbudpar Kota Tangerang. Lokasi itu dipilih lantaran banyak jejak – jejak sejarah yang masih terpampang. Terutama, pada makam yang satu komplek dengan masjid Kalipasir.
“Kita mulai dari makam itu karena kita melihat bagaimana mungkin masjid tertua Kalipasir berdiri kalau tidak oleh orang, kalau tidak ada leluhur yang membangunnya. Maka kita telusuri dahulu dari makamnya,” ujar Kepala Bidang Budaya untuk Disbudpar Kota Tangerang, Sumangku Getar kepada Satelit News, Kamis, (26/8/2021).
Diketahui, Masjid Kalipasir merupakan masjid tertua di Kota Tangerang. Rumah ibadah ini pertama kali dibangun pada tahun 1608. Dengan usia yang 400 tahun lebih masjid ini menjadi saksi bisu sejarah perkembangan Islam di Tangerang.
Makam tersebut merupakan wakaf yang diperuntukkan bagi umat Islam di sekitar wilayah lokasi. Selain masyarakat, juga dimakamkan tokoh-tokoh Islam. Seperti, Putra Raden Wahyu Pena yang merupakan Bupati Ketiga Tangerang, Raden Ahyat Pena dan keluarganya seperti Patih Pena, Ajub Pena, dan Iskak Pena.
Selain itu, terdapat 12 makam tertua. Tiga makam dari keturunan Kerajaan Padjadjaran, dan 6 makam keturunan Raja Sumedang dari Pangeran Geusan Ulun, sebagai raja kedelapan atau terakhir.
Sementara itu, tiga lainnya merupakan makam istri Raja Banten ke-6 Sultan Agung Tirtayasa yaitu Nyi Raden Uria Negara. Lalu, makam tokoh Palang Merah Indonesia yang ikut bergerilya di Balaraja yakni Nyi Raden Juhariah dan makam pengurus pesantren perempuan pertama di Banten yakni Hajah Murtapiah.
“Jangan sekali-sekali kita melupakan siapa leluhur kita. Siapa pendiri Tangerang,” kata Sumangku.
Disbudpar tak sendiri. Dalam menelusuri jejak sejarah Tangerang pihaknya bekerja sama tim arkeolog Tubagus Najib Arsyad.
Sumangku mengatakan dari hasil penelitian sementara diketahui kalau ada sentuhan Kerajaan Turki Usmani di Tangerang. Hal itu, setelah ditemukan jejak sejarahnya dari di salah satu nisan yang bercorak dengan kerajaan tersebut.
“Ada juga kita temukan bendera nabi Daud di Masjid Kali Pasir. Ini yang harus kita ungkap,” kata Sumangku.
Sumangku mengatakan Kota Tangerang kaya akan budaya dan sejarah. Hal itu tak bisa dipungkiri betapa banyaknya jejak sejak sejarah. Mulai dari zaman tersebarnya agama Islam di Banten hingga kolonial Belanda dan Jepang.
“Kali Mokervart itu dan Lapas anak itu peninggalan Belanda. Mokervart merupakan tempat berkumpulnya para selir Belanda sementara Lapas itu saksi kekejaman penyiksaan tahanan,” ungkap Sumangku.
“Banyak sekali yang memang harus diungkap. Kota Tangerang ini kaya akan sejarah dan budaya. Harus kita ungkap untuk anak-cucu. Dan ini tidak bisa sembarang, sejarah itu harus tercatat. Tidak boleh kurang dan tidak boleh dilebihkan,” tambah Sumangku.
Hal senada diungkapkan oleh Kepala Disbudpar Kota Tangerang, Ubaidillah. Ubed sapaannya mengatakan penelitian ini dilakukan selama 3 bulan.
“Dari kali pasir kemana larinya nih. Bisa ke internal kerajaan Jawa. Mulai dari Majapahit sampai Batavia kan terlihat dari artefak dan masjid,” kata Ubed.
Mantan Camat Neglasari ini mengungkapkan kalau Kalipasir ini merupakan pusat dari berbagai aktivitas. Mulai dari perputaran ekonomi hingga penyebaran agama.
“Karena dilihat dari Cisadane bagian dari sirkulasi kendaraan jalur air. Berdagang hingga penyebaran kepercayaan,” ungkap Ubed.
Diakui Ubed, memang belum dapat dipastikan soal adanya warga pribumi di Tangerang ini. Pasalnya, Tangerang merupakan wilayah akulturasi. Sehingga, banyak budaya yang sudah tercampur.
“Karena kita kekuatan Pajajaran, Demak, Banten Sultan Hasanuddin dan Batavia. Kita bicara sejarah Tangerang ini akulturasi budaya dan ada kebudayaan Cina dan Makassar itu,” kata Ubed.
Sejarah kata Ubed menjadi penting untuk mengetahui asal-usul bangsa. Meskipun di era modernisasi ini sejarah dianggap kuno. Tak dipungkiri juga oleh Ubed kalau ketertarikan para pemuda terhadap sejarah dan budaya saat ini minim.
Kendati demikian, hal inilah yang menjadi tantangan baginya untuk menumbuhkan ketertarikan itu. Kata dia, sudah saatnya memperkenalkan jejak sejarah, budaya dan leluhur Kota Tangerang.
“Jadi kalau memang ini sudah jadi kesimpulan nanti maka kali pasir menjadi tempat untuk tempat wisata sejarah tapi menarik. Ini pengungkapan sejarah tapi tidak membosankan supaya orang belajar sejarah tapi nggak bosen. Kita akan berikan fasilitas,” pungkasnya. (*)